Keluarnya pernyataan bernada ajakan mengkonsumsi makanan haram bagi umat muslim di tengah bulan Ramadhan itu disinyalir merupakan pidato yang dibuat para pembantu presiden
Ajak Beli Bipang Ambawang, Bukti Jokowi Mudah Disetir Orang di Sekelilingnya

Keluarnya pernyataan bernada ajakan mengkonsumsi makanan haram bagi umat muslim di tengah bulan Ramadhan itu disinyalir merupakan pidato yang dibuat para pembantu presiden

Izza | Senin, 10 Mei 2021 - 14:05 WIB

Sebagai kepala negara, Joko Widodo (Jokowi) masih terlalu mudah disetir oleh orang-orang di sekelilingnya dan di kabinet. Hal tersebut merujuk dari polemik pernyataan Presiden Jokowi yang mengajak masyarakat membeli makanan lokal, salah satunya bipang atau babi panggang khas Ambawang, Kalimantan Barat yang kini menuai polemik di tengah masyarakat.

"Pernyataan tersebut membuktikan bahwa Jokowi tidak mampu menyaring dan mudah disetir oleh orang sekelilingnya," ujar Pakar Politik dan Hukum Universitas Nasional Jakarta, Saiful Anam, Minggu (09/05/2021).

Keluarnya pernyataan bernada ajakan mengkonsumsi makanan haram bagi umat muslim di tengah bulan Ramadhan itu disinyalir merupakan pidato yang dibuat para pembantu presiden.

Saiful pun mempertanyakan kemandirian seorang presiden dalam menyampaikan hal-hal sensitif di tengah bulan Ramadhan.

"Selain itu dapat disimpulkan fungsi orang terdekat Jokowi yang sangat mengerti agama baik di Setkab, KSP, dan staf milenial nyata-nyata tidak berfungsi dengan baik, hingga presiden mengeluarkan kata-kata yang seharusnya tidak diucapkan," kata Saiful Anam.

Hal itu makin kacau saat orang-orang di dekat presiden justru memberi pembelaan, bukan memberi klarifikasi untuk menetralkan suasana.

"Artinya mereka hanya ingin menunjukkan bahwa presiden tidak pernah salah. Kalau ada salah, maka yang mengkritik adalah yang salah, itu justru kurang baik bagi Presiden Jokowi sendiri, dan bahkan akan menjerumuskan presiden," tutup Saiful Anam.


RMOL
 

Selanjutnya, mantan ketua umum PP Muhammadiyah itu berpesan kepada pemerintah agar lebih berhati-hati memberi pernyataan terutama yang dapat menyinggung perasaan umat beragama
Din Syamsuddin Sarankan Jokowi Minta Maaf Soal Bipang Ambawang

Selanjutnya, mantan ketua umum PP Muhammadiyah itu berpesan kepada pemerintah agar lebih berhati-hati memberi pernyataan terutama yang dapat menyinggung perasaan umat beragama

Rayu | Rabu, 12 Mei 2021 - 13:40 WIB

Polemik promosi bipang alias babi panggang Ambawang yang disampaikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) harus segera diakhiri. Apalagi, saat ini Umat Islam sedang dalam suasana Ramadhan dan segera menyambut Hari Raya Idul Fitri.

Begitu imbauan dari Gurubesar Politik Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Din Syamsuddin kepada wartawan, Rabu (12/05/2021).

Sehubungan dengan emosi umat Islam yang memuncak, Din Syamsuddin menyarankan agar Presiden Jokowi segera meminta maaf dan umat Islam memberi maaf.

“Ucapan presiden tersebut memang dirasakan sebagai 'hadiah lebaran yang pahit', namun bagi umat Islam pesan Ramadhan harus dapat mengalahkan perasaan pahit itu,” terang Din.

Sementara kepada para pembantu presiden, Din juga disarankan untuk tidak perlu memberi jawaban apolegetik karena tidak dapat diterima akal sehat dan hanya akan menambah ketakpercayaan rakyat.

Selanjutnya, mantan ketua umum PP Muhammadiyah itu berpesan kepada pemerintah agar lebih berhati-hati memberi pernyataan terutama yang dapat menyinggung perasaan umat beragama.

Termasuk dalam hal ini, pemerintah agar arif-bijaksana dalam menerapkan kebijakan yang berhubungan dengan keberagamaan rakyat.

Seperti SKB Tiga Menteri tentang Seragam Sekolah yang menghilangkan budaya keagamaan umat namun akhirnya dibatalkan oleh Mahkamah Agung, atau pengaturan mudik yang berdimensi 'festival budaya keagamaan' kuat.

“Semuanya harus diterapkan secara berkeadilan. Jangan kerumunan keagamaan dilarang tapi kerumunan bisnis dan wisata dibolehkan,” sambungnya.

Sementara itu, dalam suasana demikian dan dalam rangka Idul Fitri baik kiranya diadakan Silaturahmi Kebangsaan. Tentu syaratnya silaturahmi dimaksud berlangsung dalam "dialog dialogis”. Yakni dialog yang bertumpu pada ketulusan, kesetaraan, keterbukaan untuk penyelesaian masalah,” pungkasnya.

Klarifikasi dinilai penting agar kegaduhan terkait menu Bipang yang haram bagi umat Islam tidak terus bergulir.
 
Heboh, Jokowi Promosikan Menu Lebaran Babi Panggang, MUI: Istana Harus Klarifikasi dan Minta Maaf

Klarifikasi dinilai penting agar kegaduhan terkait menu Bipang yang haram bagi umat Islam tidak terus bergulir.  

Triaji | Minggu, 09 Mei 2021 - 12:05 WIB

Istana diminta segera memberikan klarifikasi terkait pernyataan soal Bipang kiliner babi panggung untuk menu lebaran. Klarifikasi dinilai penting agar kegaduhan terkait menu Bipang yang haram bagi umat Islam tidak terus bergulir.
 
"Agar kegaduhan ini segera mereda," kata Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI), Dr Amirsyah Tambunan, dalam keterangan tertulisnya kepada Republika.co.id, Sabtu (8/5).

Klarifikasi ini, lanjut Amirsyah, juga sangat penting agar umat paham apa yang sebenarnya sedang dipromosikan oleh Presiden. 

"Saya pikir klarifikasi ini harus cepat disampaikan agar publik paham, karena kata Bipang dengan Jipang sebutan diksinya hampir mirip tapi sebetulnya beda produk," ujarnya.

Menurut Amirsyah jika Bipang Ambawang yang di maksud dari Kalimantan maka jelas bahwa yang dimaksud adalah babi panggang. Apa yang disampaikan itu dalam pandangan Sekjen MUI menimbulkan pertanyaan.

Karena imbauan tersebut dikemukakan di tengah bulan suci Ramadhan dan menjelang Lebaran Idul Fitri bagi umat Islam. 

"Ini penting sebetulnya dimaksud itu apa agar tidak menimbukan salah paham," ucapnya menegaskan.

Amirsyah mengungkapkan sebaiknya dan sudah seharusnya kita fair dalam menilai pidato Presiden, teks dan konteksnya dalam suasana menjelang Idul Fitri yang merupakan perayaan terbesar untuk Umat Islam. Sehingga tentu yang dibicarakan adalah makanan halal, bukan makanan haram. 

Sekjen MUI juga berharap tim media Istana harus ksatria minta maaf kepada masyarakat yang menghormati perbedaan keyakinan terkait makanan halal dan haram.