Seperti diprediksikan banyak ekonom, pertumbuhan ekonomi kuartal I-2021 masih berada di zona negatif. Meski sudah turun sih, tetapi tetap saja Indonesia masih resesi ekonomi.
Mohon Maaf Pak Jokowi, Pertumbuhan Ekonomi Masih Minus di Kuartal-I, Kalah Ketimbang Vietnam dan Singapura

Seperti diprediksikan banyak ekonom, pertumbuhan ekonomi kuartal I-2021 masih berada di zona negatif. Meski sudah turun sih, tetapi tetap saja Indonesia masih resesi ekonomi.

Nanda Alisya | Kamis, 06 Mei 2021 - 10:03 WIB

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, produk domestik bruto (PDB) RI pada kuartal-I 2021 minus 0,74 persen, dibanding periode yang sama tahun lalu. Karena sama mawon (negatif), maka Indonesia masih berada di zona resesi.

Sedangkan jika dibanding kuartal-IV 2020, ekonomi Indonesia minus 0,96 persen selama 3 bulan pertama tahun ini.  Angka itu membaik lantaran pada kuartal-IV 2020, ekonomi Indonesia masih minus 2,19 persen.

Menurut Kepala BPS Suhariyanto, pertumbuhan kuartal-I 2021 menunjukkan perbaikan yang signifikan. "Ini menunjukkan bahwa tanda-tanda perbaikan ekonomi semakin nyata. Sejumlah sektor usaha tumbuh positif seperti infokom, pengadaan air, jasa kesehatan, pertanian dan pengadaan listrik dan gas, serta real estate," ungkapnya dikutip dari kompastv.com.

Pertumbuhan tertinggi dicetak oleh sektor infokom sebesar 8,72 persen.  Namun, masih ada 11 lapangan usaha lainnya yang tumbuh negatif. Dengan penurunan terdalam dicetak oleh sektor transportasi dan pergudangan sebesar minus 13,12 persen.  Kondisi yang dialami Indonesia, berbanding terbalik dengan Vietnam, Singapura, dan China.

Kantor Statistik Umum Vietnam menyatakan, produk domestik bruto (PDB) pada kuartal I-2021, mengalami kenaikan 4,48 persen ketimbang tahun sebelumnya.

Mengutip dari Bloomberg, Kepala Kantor Statistik Umum Vietnam Le Trung Hieu menyebut, seharusnya PDB masih dapat mengalami pertumbuhan 6,5 persen seperti target pemerintah.  Namun ekonomi Vietnam kehilangan sedikit momentum pada kuartal pertama karena wabah virus korona baru.

Belum sehari Badan Pusat Statistik (BPS) merilis angka pertumbuhan ekonomi kuartal I-2021 yang jeblok karena masih minus. Tepatnya minus 0,74 dibandingkan kuartal I-2020. Mungkinkah kuartal II bisa meroket?
Sebut Ekonomi Kuartal II Bisa 7%, Menko Airlangga Jangan Terlalu Pede Deh, Kuartal I Saja Babak Belur Minus 0,74 Persen

Belum sehari Badan Pusat Statistik (BPS) merilis angka pertumbuhan ekonomi kuartal I-2021 yang jeblok karena masih minus. Tepatnya minus 0,74 dibandingkan kuartal I-2020. Mungkinkah kuartal II bisa meroket?

Nanda Alisya | Kamis, 06 Mei 2021 - 05:04 WIB

Tentu saja, tak sedang bercanda, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto meyakini bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa melompat hingga 7% pada kuartal II-2021. Mudah-mudahan bukan PHP, pemberi harapan palsu, kata anak milenial.

Proyeksi yang sangat optimistis, kata Airlangga, bukan tanpa alasan. "Kalau di kuartal II tahun kemarin, itu angkanya Rp 2589,8 triliun. Sehingga tentu ini sangat rendah. Apabila PDB harga konstan sama dengan yang dilakukan kuartal I maka dia sudah melompat 5,62%. Pemerintah confident 6,9-7% bisa tercapai di kuartal II," ungkap Menko Airlangga dikutip dari CNBCIndonesia, Rabu (5/5/2021)

Indikator lainnya, kata Airlangga adalah peningkatan Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur yang mencapai 54,6. Beberapa industri juga tumbuh lebih baik sejak April, salah satunya ritel.

Pemerintah juga mempercepat realisasi program pemulihan ekonomi nasional. Khususnya pencairan bantuan sosial hingga pemberian insentif untuk dunia usaha, termasuk UMKM. Dan, UU Cipta Kerja juga diharapkan bisa memberikan konstribusi setelah disahkan beberapa bulan lalu. Sehingga bisa mendorong peningkatan konsumsi rumah tangga dan investasi.

Ekspor diharapkan juga alami peningkatan seiring dengan pemulihan yang sudah terjadi pada mitra dagang utama Indonesia, seperti Amerika Serikat dan China. Di sisi lain ada peningkatan harga komoditas.  "Makanya pemerintah yakin pertumbuhan di kuartal II akan jauh lebih baik," jelas Airlangga.    

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, perekonomian di tiga bulan pertama tahun ini, minus 0,74% dibanding kuartal I-2020 alias year on year (yoy). Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia atas dasar harga berlaku (ADHB) tercatat Rp 3.969,1 triliun. Kemudian, bila dilihat atas dasar harga konstan (ADHK) tercatat Rp 2.683,1 triliun. "Dengan begitu, maka ekonomi Indonesia pada kuartal I-2021 masih mengalami kontraksi 0,74% yoy, dan secara kuartalan turun 0,96% qtq," ujar Suhariyanto, Jakarta, Rabu (5/5/2021).

Meski begitu, Suhariyanto melihat adanya tanda pemulihan yang semakin nyata. Pasalnya, bila dibandingkan dengan tahun lalu, pertumbuhan ekonomi konsisten mengalami perbaikan.

Dimulai dari kuartal II-2020 yang pada waktu itu ekonomi tertekan hingga minus 5,32% (yoy), mulai membaik pada kuartal III-2020 yang minus 3,49% (yoy), dan kuartal IV-2020 kontraksi kembali mengecil menjadi minus 2,19% (yoy). "Ini menunjukkan tanda pemulihan ekonomi akan semakin nyata, dan berharap ke depan pemulihan ekonomi terjadi di 2021 betu-betul bisa terwujud," tandasnya.

 

Pertumbuhan ekonomi Indonesia tersebut masih jauh lebih baik dibandingkan dengan negara lain.
Ekonomi RI Babak Belur, 4 Kali Triwulan Resesi, Sri Mulyani cs Masih Pede Lebih Baik dari Negara Lain

Pertumbuhan ekonomi Indonesia tersebut masih jauh lebih baik dibandingkan dengan negara lain.

Nissa | Kamis, 06 Mei 2021 - 18:27 WIB

Pandemi COVID-19 benar-benar membuat babak-belur perekonomian Indonesia. Buktinya, sepanjang 4 kuartal berturut-turut ini dari periode kuartal II 2020 sampai kuartal I 2021 ekonomi Indonesia tumbuh negatif.

Rinciannya, kuartal II 2020 tumbuh minus 5,32 persen, kuartal III 2020 tumbuh minus 3,49 persen, kuartal IV 2020 tumbuh minus 2,19 persen dan yang teranyar pada kuartal I 2021 ini perekonomian Indonesia tumbuh minus 0,74 persen.

Menanggapi hal ini Staf Ahli Bidang Pengeluaran Negara Kementerian Keuangan Kunta Wibawa Dasa Nugraha mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia tersebut masih jauh lebih baik dibandingkan dengan negara lain.

“Memang hampir rata-rata negara lain di kuartal I/2021 semua meningkat. Tapi Indonesia termasuk lebih baik dari negara lain,” kata Kunta dalam diskusi virtual, Kamis (6/5/2021).

Kunta dilansir Suara.com menjelaskan bahwa konsumsi rumah tangga mulai menunjukan perbaikan meski masih tumbuh negatif sekitar 2 persen secara year on year.

Begitu juga dengan laju investasi dimana diperkirakan menunjukkan perbaikan ditinjau dari perumbuhan positif impor, barang modal, dan konsumsi semen.

Lalu indikator sisi produksi diprediksi menunjukkan perbaikan terutam dari pertanian, manufaktur, dan perdagangan. Ini tercermin dari purchasing managers indeks (PMI) dan impor bahan baku.

Sementara perdagangan internasional diperkirakan tumbuh positif di triwulan I/2021 dengan kecenderungan net ekspor yang lebih sempit.

Di sisi lain, lembaga internasional mengubah proyeksi ekonomi global untuk 2021. International Monetary Fund (IMF) merevisi ke atas menjadi 6 persen atau naik 0,5 persen dari sebelumnya.

Begitu pula Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) jadi 5,6 persen atau naik 1,6 persen.

Tim ekonomi di bawah komando Menko Perekonomian Airlangga Hartarto gembar-gembor bahwa perekonomian di kuartal II bisa terbang hingga 7%. Rasanya sulit karena kuartal I saja angkanya minus 0,74%.
Tim Ekonomi Jokowi Harus Buktikan Ekonomi Kuartal II Bangkit dari Minus Menuju 7%, Ekonom Sebut Mission Imposible

Tim ekonomi di bawah komando Menko Perekonomian Airlangga Hartarto gembar-gembor bahwa perekonomian di kuartal II bisa terbang hingga 7%. Rasanya sulit karena kuartal I saja angkanya minus 0,74%.

Nanda Alisya | Jumat, 07 Mei 2021 - 05:04 WIB

Direktur Riset CORE Indonesia, Piter Abdullah, pesimistis dengan proyeksi Presiden Jokowi bahwa pertumbuhan ekonomi mampu mencapai 7 persen di kuartal II 2021.

Menurutnya, masih ada sejumlah risiko yang membayangi perekonomian domestik. “Di triwulan II ini akan mulai positif, walaupun kita enggak seoptimis Pemerintah, kita enggak berani seyakin itu sampai 7 persen seperti yang disebut Pak Presiden, tapi kita harus korting, jangan nanti salah dalam proyeksikan ini,” ujar Piter dalam webinar FMB bertajuk Penyerapan Dana PEN 2021, Jakarta, Kamis (6/5/2021).

Menurut dia, pertumbuhan ekonomi bisa saja tumbuh lebih dari yang diinginkan pemerintah, bahkan mencapai 10 persen. Namun proyeksi itu tetap harus realistis dan disesuaikan dengan berbagai risiko yang masih besar, seperti terjadinya gelombang kedua dan ketiga COVID-19. "Jadi kembali, outlook ke depan baik on track pemulihan ekonomi nasional tetapi yang harus diingat ada risiko dan menghadapi risiko ini," jelasnya.

Staf Ahli Bidang Pengeluaran Negara Kementerian Keuangan, Kunta Wibawa, mengaku optimistis pertumbuhan ekonomi kuartal II ini bisa tumbuh di kisaran 7-8 persen. Hal ini tercermin dari beberapa indikator ekonomi yang sudah menunjukkan tren pemulihan. "Kita optimis di sekitar 7-8 persen karena pertama kuartal II 2020 kemarin negatif sangat dalam jadi untuk mencapai itu kita optimis ke sana," kata Kunta.

Dia mengatakan, beberapa indikator ekonomi pada Januari-Februari masih ada beberapa yang merah. Namun di Maret sudah mulai hijau. Artinya ini menunjukkan perekonomian Indonesia sudah menunjukkan tren pemulihan sesuai dengan yang diharapkan oleh pemerintah. "Kita melihat indikator-indikator yang menunjukkan pemulihan itu terjadi dan kita konsisten dan mensupport pemulihan," pungkasnya.

Sebelumnya, Presiden Jokowi memproyeksi pertumbuhan ekonomi akan positif di kuartal II ini. Menurutnya, perbaikan ekonomi bisa dicapai karena kasus harian positif COVID-19 yang bisa ditekan. "Bulan Maret-April ini sudah kelihatan, ekonomi sudah hampir menuju pada posisi normal. Sehingga target kita secara nasional di tahun 2021 ini target pertumbuhan kita 4,5-5,5 persen itu bisa kita capai," ujar Presiden Jokowi dalam siaran video Pengarahan Presiden RI kepada Kepala Daerah se-Indonesia Tahun 2021, dikutip Kamis (29/4/2021).

"Kalau kita bisa menekan COVID-nya, tanpa membuat guncangan di ekonomi, inilah keberhasilan. Dan target kita kurang lebih 7 persen harus tercapai. Kalau itu bisa tercapai, Insyaallah kita pada kuartal berikutnya akan lebih memudahkan," tambahnya.

Adapun pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal I 2021 minus 0,74 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year on year/yoy). Angka ini masih lebih rendah jika dibandingkan kuartal I 2020 yang positif 2,97 persen (yoy). Dengan demikian, Indonesia masih terbelit resesi. Perekonomian masih minus sejak kuartal II tahun lalu hingga akhir Maret 2021.

 

Realisasi program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) sampai 30 April 2021 mencapai Rp155,63 triliun atau 22,3% dari pagu yang sebesar Rp699,43 triliun. Realisasi terbesar berada pada program Perlindungan Sosial sebesar Rp49,07 triliun
Strategi Utama Pemerintah Menjaga Momentum Pemulihan Ekonomi 2021

Realisasi program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) sampai 30 April 2021 mencapai Rp155,63 triliun atau 22,3% dari pagu yang sebesar Rp699,43 triliun. Realisasi terbesar berada pada program Perlindungan Sosial sebesar Rp49,07 triliun

Joshua Alexander | Jumat, 07 Mei 2021 - 03:01 WIB

Pemerintah telah mempersiapkan beberapa strategi utama dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi tahun 2021, antara lain pertama, melanjutkan Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

Kedua, percepatan vaksinasi sebagai bagian dari PEN untuk memulihkan kepercayaan konsumsi masyarakat. Vaksinasi akan diberikan secara gratis untuk mencapai herd immunity dari 181,55 juta penduduk. Tahap 1 vaksinasi sudah dilakukan untuk petugas kesehatan sejak awal Januari 2021. Saat ini, sedang dilakukan vaksinasi tahap kedua untuk lansia dan petugas publik.

Ketiga, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi triwulan II-2021, pemerintah akan melanjutkan insentif sektor strategis dan beberapa skema insentif lainnya, antara lain relaksasi PPnBM (Ditanggung Pemerintah) untuk industri otomotif dan PPN Ditanggung Pemerintah (DTP) untuk sektor properti/ perumahan.

Selain itu, pemerintah pun akan mendukung sektor Hotel, Restoran, Kafe (HOREKA) melalui restrukturisasi kredit dan penjaminan kredit.

Kemudian, relaksasi Kebijakan Restrukturisasi Kredit Perbankan, perluasan Penjaminan Kredit Korporasi berdasarkan PMK-32/2021, subsidi bunga untuk UMK, baik KUR dan Non KUR, serta penambahan plafon KUR 2021 dari sebesar Rp253 triliun menjadi Rp285 triliun, mengoptimalkan pemanfaatan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) serta melanjutkan Program Kartu Prakerja.

Sebagai informasi, dikutip dari situs Kemenko Perekonomian, realisasi program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) sampai 30 April 2021 mencapai Rp155,63 triliun atau 22,3% dari pagu yang sebesar Rp699,43 triliun. Realisasi terbesar berada pada program Perlindungan Sosial sebesar Rp49,07 triliun

Sedangkan, khusus untuk program Dukungan UMKM telah terealisasi sebesar Rp40,23 triliun atau 20,8% dari pagu sebesar Rp191,13 triliun. Realisasi untuk program Banpres Produktif Usaha Mikro (BPUM) sebesar Rp12,8 triliun atau sebesar 88,11% dari pagu yang mencapai 15,36 triliun.