Ahok memulai bisnis dengan membuka CV Panda di bawah PT Timah.
Ahok Bebas, Menguak Bisnis BTP

Ahok memulai bisnis dengan membuka CV Panda di bawah PT Timah.

Arry Anggadha | Kamis, 24 Januari 2019 - 12:35 WIB

Slogan "Besok Tjahaja Pulang" menggema sehari menjelang bebasnya Basuki Tjahaja Purnama atau yang akrab disapa Ahok. Pria yang kini minta dipanggil BTP itu resmi bebas dari kasus penistaan agama yang dituduhkan kepadanya hari ini, Kamis (24/1/2019).

Ahok alias BTP bebas usai menjalani hukuman selama dua tahun dipotong remisi selama 3 bulan 15 hari di Rutan Mako Brimob, Depok, Jawa Barat.

Menyambut kebebasan Ahok atau BTP, berikut rangkuman bisnis yang dilakoni mantan Gubernur DKI Jakarta itu mulai dari tanah kelahirannya hingga menjadi orang nomor satu di Jakarta.

1. CV Panda (PT Timah)
Pada awal 1990, Ahok yang lulus sebagai sarjana geologi membangun CV Panda yang bergerak sebagai kontraktor di bawah PT Timah. Bisnis ini dibangun di tanah kelahirannya, Belitung.
Ahok menekuni bisnis ini sekitar dua tahun.

2. PT Nurindra Ekakuarsa
Kemudian pada 1992, Ahok mendirikan PT Nurindra Ekapersada. Perusahaan ini berkecimpung pada usaha pengolahan pasir kuarsa. Ia juga mendirikan pabrik pengolahan di Dusun Burung Mandi, Desa Mengkubang, Kecamatan Manggar, Belitung Timur.

Pabrik pengolahan pasir kuarsa yang  memanfaatkan teknologi Amerika dan Jerman itu merupakan yang pertama dibangun di Pulau Belitung.

Lokasi pembangunan pabrik ini merupakan cikal bakal tumbuhnya kawasan industri dan pelabuhan samudra bernama Kawasan Industri Air Kelik (KIAK).

3. Hotel di Belitung Timur
Ahok juga diketahui memiliki bisnis perhotelan bernama Hotel Purnama Belitung. Hotel dengan 12 kamar itu terletak persis di belakang rumah keluarganya. Kabarnya, Hotel itu berawal dari garasi mobil.

Sebelum sang ayah meninggal, mendiang ayahnya itu pernah berpesan untuk memanfaatkan garasi rumahnya tersebut sebagai tempat penginapan.

4. Properti
Pada 1999, Ahok mulai investasi di bidang properti di kabupaten Belitung Timur. Ayah tiga anak itu diketahui memiliki 16 harta tidak bergerak berupa tanah, dan bangunan yang kebanyakan terletak di Kabupaten Belitung Timur.

Selain properti di Belitung, Ahok juga memiliki rumah di wilayah Jakarta Utara, yang dibelinya tahun 2009 dengan dana pribadi. Nilai properti ini disebut memiliki harga jual Rp 678 juta.

Selain di Belitung Timur, rupanya ia juga piawai berbisnis properti di sisi utara Jakarta. Terbukti, Ahok dilaporkan pernah memiliki tanah selebar 200 m2 dan bangunan 272 m2 yang diperolehnya dari tahun 1991 sampai 1995, dengan harga jual Rp 2,3 miliar.

Di tahun 2011, Ahok kembali membeli tanah seluas 527 m2 dan bangunan selebar 510 m2 dengan harga jual per September 2016 sebesar Rp 10,9 miliar.

Total kekayaan ini dilaporkan Ahok alias BTP ke Komisi Pemberantasan Korupsi pada 2016 .
Berapa Kekayaan Ahok alias BTP Usai Bebas?

Total kekayaan ini dilaporkan Ahok alias BTP ke Komisi Pemberantasan Korupsi pada 2016 .

Arry Anggadha | Kamis, 24 Januari 2019 - 13:14 WIB

Ahok resmi menghirup udara bebas. Pria bernama asli Basuki Tjahaja Purnama itu telah menjalani hukuman selama dua tahun dipotong masa remisi 3 bulan 15 hari di Rutan Mako Brimob, Depok, Jawa Barat.

Ahok dibui lantaran kasus penistaan agama yang dilaporkan Advokat Cinta Tanah Air (ACTA). Majelis Hakim pun menilai Ahok terbukti bersalah atas kasus tersebut dan memvonis mantan Bupati Belitung Timur itu selama dua tahun penjara.

Selama menginap di Hotel Prodeo, kekayaan Ahok tidak ikut disita pengadilan. Berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), kekayaan Ahok sebanyak Rp25,6 miliar dan US$7.228.

Kekayaan itu dilaporkan pria yang saat ini ingin disapa BTP itu saat maju dalam pemilihan Gubernur DKI Jakarta pada 21 September 2016. Dalam Pilgub itu, BTP yang berpasangan dengan Djarot Saiful Hidayat bertarung melawan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno.

Berikut rincian kekayaan Ahok alias BTP seperti dilansir dari ACCH KPK:

Harta tidak bergerak dengan total nilai Rp 16.791.268.000. Berikut rinciannya yang dirangkum Liputan6.com, Kamis (24/1/2019):
1. Tanah seluas 18.000 m2 di Belitung Timur dari hasil sendiri perolehan dari tahun 1999 sampai 2001 senilai Rp 180.000.000
2. Tanah seluas 18.000 m2 di Belitung Timur dari hasil sendiri perolehan dari tahun 1999 sampai 2001 senilai Rp 180.000.000
3. Tanah seluas 18.000 m2 di Belitung Timur dari hasil sendiri perolehan dari tahun 1999 sampai 2001 senilai Rp 180.000.000
4. Tanah seluas 18.000 m2 di Belitung Timur dari hasil sendiri perolehan dari tahun 1999 sampai 2001 senilai Rp 180.000.000
5. Tanah seluas 18.000 m2 di Belitung Timur dari hasil sendiri perolehan dari tahun 1999 sampai 2001 senilai Rp 180.000.000
6. Bangunan seluas 60 m2 di Jakarta Utara dari hasil sendiri perolehan tahun 2009 senilai Rp 678.090.000
7. Tanah seluas 1.245 m2 di Belitung Timur dari hasil sendiri perolehan dari tahun 2000 sampai dengan 2001 senilai Rp 58.515.000
8. Tanah seluas 1.850 m2 di Belitung Timur dari hasil sendiri perolehan dari tahun 2000 sampai dengan 2001 senilai Rp 86.950.000
9. Tanah seluas 292 m2 di Belitung Timur dari hasil sendiri, perolehan tahun 2001 senilai Rp 10.512.000
10. Tanah dan bangunan seluas 130.000 m2 dan 168 m2, di Belitung Timur dari hasil sendiri perolehan dari tahun 1999 sampai dengan 2001 senilai Rp 1.501.600.000

11. Tanah dan bangunan seluas 200 m2 dan 272 m2, Jakarta Utara dari hasil sendiri perolehan dari tahun 1991 sampai dengan 1995 senilai Rp 2.358.400.000
12. Tanah dan bangunan seluas 527 m2 dan 510 m2 di Jakarta Utara yang berasal dari hasil sendiri perolehan tahun 2011 senilai Rp 10.936.865.000
13. Tanah dan bangunan seluas 650 m2 dan 63 m2, Belitung Timur dari hasil sendiri perolehan tahun 2001 senilai Rp 66.024.000
14. Tanah dan bangunan seluas 333 m2 dan 42 m2, di Belitung Timur yang berasal dari hasil sendiri perolehan tahun 2001 senilai Rp 46.110.000
15. Tanah seluas 297 m2 di Belitung Timur dari hasil sendiri perolehan tahun 2001 senilai 84.000.000
16. Tanah dan bangunan seluas 720 m2 dan 63 m2, di Belitung Timur dari hasil sendiri perolehan tahun 2001 senilai Rp 64.202.000

Harta bergerak:
1. Berupa peternakan sejumlah 18 ekor sapi dari hasil sendiri senilai Rp 270.000.000
2. Logam mulia, yang berasal dari hasil sendiri, warisan dan hibah perolehan dari tahun 1997 sampai dengan 2001 senilai Rp 350.000.000
3. Benda bergerak lainnya dari hasil sendiri dan hibah perolehan dari tahun 1997 sampai dengan 2003 senilai Rp 300.000.000

Surat berharga tahun investasi 2007, yang berasal hasil sendiri dengan nilai Rp 2.380.000.000

Giro dan setara kas lainnya dengan total nilai Rp 5.178.465.375 dan US$3.749.

Piutang dalam bentuk pinjaman uang senilai Rp 386.154.121 dan US$3.479. 

Persiapan untuk itu sudah dilakukan, termasuk mencari kantor di sekitar Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta.
Keluar Penjara, Ahok Jadi Juragan Minyak?

Persiapan untuk itu sudah dilakukan, termasuk mencari kantor di sekitar Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta.

ARDI ALI | Rabu, 23 Januari 2019 - 14:30 WIB

Mantan Gubernr DKI Jakarta  Basuki Tjahaja Purnama yang akrab disapa Ahok dipastikan akan menghirup udara bebas pada 24 Januari 2019. Ahok pun sudah menyiapkan rencana aktivitas barunya. Salah satunya adalah menekuni bisnis perminyakan.

Kuasa Hukum Ahok, Teguh Samudera mengatakan bisnis minyak  sudah lama direncanakan.

“Setelah bebas nanti, pak Ahok kemungkinan akan menekuni bisnis perdangan minyak seperti yang waktu itu pernah didiskusikan,” kata Teguh.

Menurutnya, persiapan untuk itu sudah dilakukan. Termasuk mencari kantor di sekitar Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta.

“Kantornya tidak terlalu besar, tapi cukup untuk beraktivitas,” kata Teguh seperti dilaporkan Antara, Selasa, 22 Januari 2019.    

Selain bisnis perminyakan, Ahok juga direncanakan menjadi pembawa acara talkshow televisi. Untuk rencana ini, kata Teguh, kliennya tersebut akan menjalani kontrak dengan salah satu stasiun televisi swasta.

Bagaimana dengan dunia politik? Untuk hal ini, Teguh belum bisa memastikan.

"Soal politik, jika sudah pada waktunya dan kembali diperlukan untuk kepentingan nasional, demi bangsa dan negara, beliau tentu akan taat dan tidak akan menolak untuk kembali ke kancah politik," tuturnya.

Seperti diketahui, Ahok dijatuhi hukuman dua tahun penjara dalam kasus penodaan agama.

Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly mengatakan, Ahok bebas murni, bukan bebas bersyarat. Ahok menjalani masa tahanan di Rumah Tahanan Markas Brimob Depok. []

 

Usai bebas, Basuki meminta orang mengubah nama panggilannya dari Ahok menjadi BTP
Ahok Bebas, Ini 5 Fakta Baru BTP

Usai bebas, Basuki meminta orang mengubah nama panggilannya dari Ahok menjadi BTP

Arry Anggadha | Kamis, 24 Januari 2019 - 11:45 WIB

Ahok bebas hari ini, Kamis (24/1/2019). Pria yang memiliki nama lengkap Basuki Tjahaja Purnama itu bebas murni usai menjalani hukuman selama kurang dari dua tahun setelah menerima remisi selama 3 bulan 15 hari.

Basuki bebas setelah menjalani hukuman dalam kasus penistaan atau penodaan agama. Dalam kasus ini, mantan Gubernur DKI Jakarta itu divonis selama dua tahun.

Berikut 5 fakta terbaru Ahok yang dirangkum Bizlaw:

1. Minta Dipanggil BTP
Usai bebas, Ahok langsung melakukan rebranding nama. Basuki meminta orang mengubah nama panggilannya dari Ahok menjadi BTP, yang merupakan singkatan namanya, Basuki Tjahaja Purnama. Hal itu dilakukan sebagai pemutihan nama dalam dunia politik akibat kasus yang menimpanya.

Ahok sendiri yang langsung mengumumkan perubahan nama panggilan ini. Perubahan terjadi saat dia meluncurkan buku berjudul 'Kebijakan Ahok', dia menulis sebuah surat untuk publik pada 12 Agustus 2018.

Surat itu berisi ungkapan syukur Ahok atas terbitnya buku 'Kebijakan Ahok' tersebut. Yang menarik, di akhir surat itu Ahok menitipkan pesan agar panggilannya diganti. Ahok ingin dipanggil dengan nama 'BTP'.

"Semoga Tuhan memberikan kita damai sejahtera dan keadilan. Salam BTP. Catatan, panggil saya BTP," kata Ahok dalam suratnya kala itu.

Saat itu, Staf Ahok, Sakti Budiono memastikan penggantian nama panggilan itu merupakan permintaan langsung dari mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut. "Basuki atau BTP lebih Jawani," kata Sakti.

2. Tulis Surat Sebelum Bebas
Enam hari jelang masa kebebasannya, Ahok sempat menulis surat. Surat itu diunggah langsung di akun Instagramnya, @basukibtp.

Dalam surat yang ditulis tangan itu, Ahok kembali meminta agar usai bebas dia dipanggil BTP. Selain itu, Ahok juga mengucapkan terima kasih untuk orang-orang yang selalu mendukungnya.

"Terima kasih atas doa serta dukungan yang selama ini untuk saya. Tidak pernah dalam pengalaman hidup saya bisa menerima banyak pemberian dari makanan, buah-buahan, pakaian, buku-buku, dan lain-lain dari saudara-saudara. Saya merasa begitu dikasihi. Dan kasih yang saudara-saudara berikan kepada saya lebih baik daripada emas dan perak maupun dibandingkan kekayaan yang besar," tulis Ahok.

Ahok kemudian merasa bersyukur dirinya masuk ke penjara dan tidak terpilih kembali menjadi Gubernur DKI Jakarta. Karena menurutnya, dia justru banyak belajar menguasai dirinya, bukan hanya Balai Kota saja.

Setelah bebas nanti, ia juga meminta agar tidak lagi dipanggil Ahok, melainkan BTP yang merupakan singkatan namanya Basuki Tjahaja Purnama.

Terakhir, Ahok juga mengingatkan para pendukungnya agar bisa menggunakan hak pilihnya pada Pemilihan Presiden (Pilpres) dan Pemilihan Legislatif (Pileg) pada 17 April 2019.

3. Nikahi Polwan
Masa-masa di dalam tahanan menjadi masa suram bagi Ahok. Tak hanya harus menerima hukuman akibat kasus penistaan agama. Dia juga harus menghadapi perceraian dengan istrinya, Veronica Tan.

Namun, usai bebas, Ahok kembali menjalani hidup baru. Dan bahkan dia dikabarkan bakal segera meminang polwan bernama Bripda Puput Nastiti Devi. Bripda Puput ini adalah ajudan dari Veronica Tan. Pernikahan Ahok dan Bripda Puput dikabarkan bakal digelar pada 15 Februari 2019.

"Iya benar, Ahok akan menikah 15 Februari nanti," kata Ketua DPRD DKI, Prasetyo Edi Marsudi.

Namun, pihak keluarga mengaku tidak tahu rencana pernikahan itu. Adik Ahok, Fifi Lety menilai berita soal pernikahan kakaknya itu aneh.

Melalui akun Instagram-nya, @fifiletytjahajapurnama, Fifi menulis, "Terus terang aneh juga Kok Kita keluarga Engak tahu ya ada acara kawinan Tgl 15/2? Kalau ada acara Atau kegiatan apapun Di keluarga kami pada tgl 15/2, Harusnya kami keluarga tahu ya? Jadi Silakan tanya Pak Prass aja kenapa begitu ? Demikian juga soal #ahok pindah agama Perlu kami tegaskan tidak ada itu. Apapun Yg terjadi tetap tidak akan pindah agama. jadi ingat lagu ini #ihavedecidedtofollowjesus."

4. Pindah Rumah
Usai bebas, Ahok ternyata tidak akan pulang ke rumahnya di Pantai Mutiara, Pluit, Jakarta Utara. Ahok sudah memiliki rumah yang siap akan ditinggalinya.

Hal itu dibocorkan langsung Ketua DPP PDI-Perjuangan sekaligus rekan kerja saat menjabat di Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat.

"Enggak sepertinya. Rumah di Pantai Mutiara sudah diserahkan ke anak-anaknya. Mungkin Pak Ahok akan tinggal di tempat lain," kata Djarot.

"Pokoknya tempat sudah ada. Di Jakarta. Dia juga mau bangun rumah baru, tapi lokasinya masih rahasia," tutur Djarot sambil tersenyum.

5. Vokalis Band
Djarot kembali membocorkan fakta baru terkait mantan rekan kerjanya itu. Menurutnya, Ahok selama dua tahun di Mako Brimob, membuat band bernama BTP. Bukan singkatan dari Basuki Tjahaja Purnama, tapi namanya "Band Teman Penjara".

Tak tanggung-tanggung, Ahok bahkan didapuk menjadi vokalis band BTP. Djarot pun menjelaskan bahwa band tersebut terdiri dari lima personel. Dua di antaranya adalah anggota polisi.

Band BTP ini biasa tampil di ruang transit saat menemui pengunjung. Djarot pun bercerita bahwa vokal Ahok sendiri masih kurang enak didengar. "Kan mainnya di ruang transit gitu kan. Jadi dia latihan buat mengisi waktu," terang Djarot. "Vokalnya memang masih hancur tapi minimal tahu nada."  

Selamat menjalani hidup baru, BTP!

KELUARGA       
Istri         : Veronica Tan, S.T.(cerai)
Anak      : Nicholas Sean
                Nathania
                Daud Albeenner
                                                                     
PENDIDIKAN
SDN 3, Gantung, Belitung Timur, 1977
SMP 1, Gantung, Belitung Timur, 1981
SMA III PSKD Jakarta, 1984
S1, Sarjana Teknik Geologi di Universitas Trisakti Jakarta, 1990
S2, Manajemen Keuangan di Prasetiya Mulya Jakarta, 1994

KARIER
Direktur PT Nurindra Ekapersada, 1992
Asisten Presiden Direktur PT Simaxindo, 1994
Direktur PT. Nurindra Ekapersada, Belitung Timur, 1992 - 2005
Ketua DPC PIB Kabupaten Belitung, 2004
Anggota DPRD Kabupaten Belitung, 2004
Bupati Belitung Timur, 2005 - 2006
Anggota Komisi II DPR RI, 2009 - 2012
Wakil Gubernur DKI Jakarta, 2012-2014
Gubernur DKI Jakarta, 2014-2017