Covid-19 ini masih lama, bisa dua tahun lagi. Korban akan makin banyak jatuh kalau tidak disiplin dan buat kerumunan terus.
Epidemiolog Ini Berani Banget Kritik Kerumunan Jokowi di NTT, Tidak Berikan Teladan dan Membahayakan

Covid-19 ini masih lama, bisa dua tahun lagi. Korban akan makin banyak jatuh kalau tidak disiplin dan buat kerumunan terus.

Triaji | Kamis, 25 Februari 2021 - 09:21 WIB

Epidemiolog asal Universitas Griffith, Dicky Budiman mengkritik kerumunan penyambutan Presiden Joko Widodo di Nusa Tenggara Timur (NTT) oleh warga setempat. Aksinya tidak memberikan teladan dan membahayakan.

"Presiden harusnya mengingatkan anak buahnya bahwa kondisi kita belum aman dari Covid-19," tegas Dicky, dikutip Rabu (24/2).

Menurut Dicky, Indonesia saat ini butuh keteladanan atau contoh untuk menghindari kerumunan. Pemerintah pusat dan daerah harus bisa mengingatkan bahwa situasi di Indonesia belum terkendali karena tingkat positivity rate yang masih jauh dari angka 5 persen.

"Covid-19 ini masih lama, bisa dua tahun lagi. Korban akan makin banyak jatuh kalau tidak disiplin dan buat kerumunan terus," kata Dicky.

Lebih lanjut, Dicky juga menilai situasi kerumunan di NTT justru membahayakan Jokowi sendiri. Walaupun Jokowi terlihat di dalam mobil, tidak menjamin tidak ada penularan.

"Itu beresiko, walau Presiden sudah divaksin itu tetap beresiko tertular," kata Dicky.

Ia pun menyarankan pemberian bantuan dari pemerintah pusat selama Covid-19 harusnya tidak dilakukan dengan cara kerumunan. Namun dengan cara lewat lembaga dan diberikan kepada perwakilan warga saja.

Dicky juga mengingatkan bahwa kasus Covid-19 di NTT makin tinggi karena testing yang masih sangat rendah. Ia memiliki data bahwa masih banyak warga yang berlibur ke NTT, seperti ke pulau Komodo akhirnya tertular Covid-19.

"Di NTT angka Covid-19 masih berbahaya karena testing Covid-19 masih rendah, kasus infeksi banyak yang tidak terdeteksi, respons pemerintah masih kurang," tegas Dicky.

Ia juga mengingatkan bahwa jumlah penduduk RI besar dan berada di negara kepulauan. Sehingga, ia khawatir pola pandemiya akan silih berganti yang berujung memperlambat dan memberatkan pengendalian Covid-19.

"Kunjungan Presiden ke daerah harus diantisipasi jangan ada kerumunan lagi. Kesadaran warga masih rendah. Kewajiban tim presiden untuk koordinasi dengan warga di daerah kalau ada kunjungan untuk tetap jaga protokol kesehatan seperti yang digaungkan pemerintah selama ini," kata Dicky.

Sebelumnya, dikutip CNNIndonesia sejumlah video kunjungan Jokowi di NTT beredar di media sosial. Beberapa di antaranya memperlihatkan rombongan mobil kepresidenan dikeliling kerumunan warga.

Jokowi tampak membuka atap mobil. Lalu ia menyapa para warga. Sesekali Jokowi menunjuk masker di mulutnya seraya mengingatkan warga akan kedisiplinan protokol kesehatan.

Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden Bey Machmudin mengatakan kejadian itu berlangsung di Maumere. Saat itu, Jokowi hendak menghadiri peresmian Bendungan Napun Gete.

"Jadi sebenarnya, itu melihat spontanitas dan antusiasme masyarakat Maumere menyambut kedatangan Presiden Jokowi," kata Bey kepada wartawan, Selasa (23/2).

Bey menyampaikan warga sudah berjejer saat rombongan kepresidenan datang. Saat mobil Jokowi sampai di lokasi, warga berebut mendekat. Ia menyampaikan Jokowi berinisiatif menyapa para warga yang sudah datang. Jokowi membuka atap mobil untuk melambaikan tangan dan mengingatkan protokol kesehatan.

Benny menilai kerumunan itu melanggar aturan. Dia meminta ada proses hukum
Soal Kerumunan Maumere, Demokrat: Presiden Ingin Uji Mantan Ajudannya, Punya Nyali atau tidak Menegakkan Hukum!

Benny menilai kerumunan itu melanggar aturan. Dia meminta ada proses hukum

Rayu | Kamis, 25 Februari 2021 - 06:05 WIB

Politisi Partai Demokrat (PD), Benny Kabur Harman mengatakan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) tampak hendak menguji mantan ajudannya yang kini menjabat sebagai Kapolri, Jenderal Polisi Drs. Listyo Sigit Prabowo, M.Si., dengan kerumunan saat kunjungannya ke Maumere, Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT).

"Presiden mau menguji Kapolri, mantan ajudannya, apakah punya nyali tidak untuk menegakkan hukum, ada nyali tidak untuk menindak secara hukum Presiden yang jelas-jelas kasat mata melanggar aturan Prokes, aturan yang dibikin Presiden sendiri," kata Waketum PD Benny K Harman kepada wartawan, Rabu (24/02/2021).

Lebih jauh Anggota Komisi III DPR RI itu menyatakan kerumunan di Maumere tersebut  menunjukkan kecintaan masyarakat NTT yang rela mengambil risiko terpapar COVID-19 demi melihat Presiden Jokowi. Namun pernyataan itu diikuti dengan sindiran.

"Dengan peristiwa ini, Presiden hendak mempertontonkan bahwa beliau adalah Presiden yang beyond hukum, yang tidak tunduk pada hukum. Peristiwa ini juga memperlihatkan masyarakat NTT rela mati, rela korbankan dirinya terpapar COVID-19 hanya untuk melihat langsung wajah Presiden, pemimpin yang mereka cintai," ujarnya.

Benny menilai kerumunan itu melanggar aturan. Dia meminta ada proses hukum.

"Semua orang sama di depan hukum, equality before the law. Presiden jika terlibat korupsi pun, Kapolri atau KPK atau Jaksa Agung harus berani periksa bila perlu tangkap dan tahan. Itu hukum kita, hukum di negara kita. Konstitusi tidak memberi kekebalan hukum apa pun kepada presiden," tegasnya.

Diberitakan sebelumnya, pihak Istana Kepresidenan memberikan penjelasan mengenai kerumunan yang timbul saat Presiden Jokowi tiba di Maumere, kemarin. Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden Bey Machmudin menjelaskan bahwa saat itu warga sudah menunggu rombongan Presiden Jokowi di pinggir jalan.

"Benar itu video di Maumere. Setibanya di Maumere, Presiden dan rombongan melanjutkan perjalanan menuju Bendungan Napun Gete. Saat dalam perjalanan, masyarakat sudah menunggu rangkaian di pinggir jalan, saat rangkaian melambat masyarakat maju ke tengah jalan sehingga membuat iring-iringan berhenti," kata Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden Bey Machmudin kepada wartawan, Selasa (23/02/2021).

Bey mengatakan masyarakat Maumere spontan menyambut kedatangan Jokowi. Jokowi pun, kata Bey, menyapa masyarakat dari atap mobil.

"Dan kebetulan mobil yang digunakan Presiden atapnya dapat dibuka, sehingga Presiden dapat menyapa masyarakat, sekaligus mengingatkan penggunaan masker. Karena, kalau diperhatikan, dalam video tampak saat menyapa pun Presiden mengingatkan warga untuk menggunakan masker dengan menunjukkan masker yang digunakannya," papar Bey.
 

Kondisinya menurut dia sama dengan kerumunan ketika kunjungan Presiden Jokowi ke NTT.
Sebut Kerumunan Presiden Jokowi dan Habib Rizieq Sama-sama Spontanitas, Ferdinand Hutahaean: Gunakan Nalar Jangan Asal Komen!

Kondisinya menurut dia sama dengan kerumunan ketika kunjungan Presiden Jokowi ke NTT.

Ind | Rabu, 24 Februari 2021 - 18:40 WIB

Ferdinand Hutahaean merespons soal peristiwa kerumunan Presiden Jokowi saat kunjungan ke Maumere, NTT pada Selasa (23/2) kemarin. Ia mengajak publik melihat jernih peristiwa kerumunan di NTT.

Mantan politikus Partai Demokrat ini punya perspektif yang sama terkait peristiwa kerumunan saat kunjungan Presiden Jokowi ke NTT dengan kejadian ketika Rizieq Shihab disambut pendukungnya waktu pulang dari Arab Saudi.

Saat itu, kata dia, riuhnya pendukungan Rizieq Shihab melakukan penyambutan menimbulkan kemacetan luar biasa di Bandara Soekarno-Hatta hingga Petamburan. Namun, Rizieq tidak pernah dipidana gara-gara peristiwa itu.

"Rizieq Shihab tidak pernah dipidana atas peristiwa itu, dan tidak pernah dihadapkan ke hadapan hukum atas peristiwa itu. Itu kerumunan yang spontanitas, euforia dan histeria masyarakat yang seketika dan tidak direncanakan," ucap Ferdinand, Rabu (24/02/2021).

Kondisinya menurut dia sama dengan kerumunan ketika kunjungan Presiden Jokowi ke NTT. Ketika kendaraannya melintas, masyarakat menunggu di pinggir jalan sehingga terjadi keramaian seperti terlihat dalam video yang viral.

Kejadian itu menurutnya bentuk kecintaan masyarakat kepada pemimpinnya. Wujud dari histeria warga yang ingin bertemu dengan presidennya.

Selain itu, kata Ferdinand seperti dilansir jpnn, Presiden Jokowi tidak pernah mengundang masyarakat supaya datang di pinggir jalan, atau menyuruh mereka datang untuk menyambutnya.

"Jadi, hal seperti ini harus dilihat, Pak Jokowi tidak mungkin juga tidak menegur, tidak menyapa warganya yang menunggu di pinggir jalan, ramai begitu. Ayolah kita gunakan logika sehat logika normal, jangan asal menyampaikan pendapat yang tidak berbobot," imbuhnya.

Untuk itu, dia mengajak masyarakat melihat fakta ketika terjadi kerumunan saat kunjungan presiden ke NTT. Bahwa Jokowi datang melintas, masyarakat menyambutnya di pinggir jalan karena ingin melihat pemimpinnya.

Dalam kondisi itu, katanya, tidak mungkin Presiden Jokowi menutup kaca mobilnya dan berlalu tanpa menegur masyarakatnya. Kehadiran masyarakat juga tidak diundang atau diminta melakukan penyambutan.

"Itu adalah euforia, histeria seketika yang tidak bisa dihambat, tidak bisa dilarang. Apa iya mungkin masyarakat Flores, NTT itu semua digembok oleh pemerintah, tidak boleh keluar? Ayolah nalarnya dipergunakan. Jangan asal menyampaikan pendapat yang tidak bermutu dan tidak berbobot," tukas Ferdinand.

Di sisi lain, katanya, dalam video itu bisa dilihat begitu Presiden Jokowi berdiri, keluar melalui sunroof mobilnya, suami Iriana itu berkali-kali menunjuk masker yang dia gunakan.

"Artinya apa, dia meminta masyarakat menggunakan masker. Itu pertanda bahwa ini euforia masyarakat. Masa masyarakat yang datang itu terus diusir tentara semua, diusir Paspampres, ditendangi, kan tidak mungkin. Logikalah kita berpikir," pungkas Ferdinand.

Berdasarkan video yang ditontonnya, dr Tirta menyebut Jokowi sudah berusaha menenangkan dan mengingatkan soal protokol kesehatan kepada warga yang tetap mengerubungi mobil presiden. Dia juga membela aksi Jokowi menyapa warga dari atap mobil
Soal Kerumunan di Maumere, dr. Tirta Pasang Badan Bela Jokowi: Agar Massa Bubar, Pakde Keluar dari Atap Mobil

Berdasarkan video yang ditontonnya, dr Tirta menyebut Jokowi sudah berusaha menenangkan dan mengingatkan soal protokol kesehatan kepada warga yang tetap mengerubungi mobil presiden. Dia juga membela aksi Jokowi menyapa warga dari atap mobil

Rayu | Rabu, 24 Februari 2021 - 14:05 WIB

Kerumunan terjadi ketika Presiden Joko Widodo (Jokowi) melakukan kunjungan kerjas ke Maumere, Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT). Relawan COVID-19, dr. Tirta Mandira Hudhi membela Jokowi terkait kerumunan tersebut.

Dalam unggahan Instagram resminya yang dibagikan kepada wartawan, Rabu (24/02/2021), dr Tirta mengungkit pertanyaan Atta Halilintar kepadanya saat itu soal banyaknya orang yang mengajak berfoto ketika bepergian. Atta, kata dr Tirta, saat itu bertanya apakah kerumunan warga itu salahnya atau bukan.

"Apa yang ditanyakan Atta Halilintar ini persis dialami Pak Jokowi di NTT," kata dr Tirta.

Dokter Titra menegaskan kerumunan di NTT itu bukan salah Presiden Jokowi. dr Tirta menyebut Jokowi sama sekali tidak mengundang masyarakat berkerumun.

"Pak Jokowi tidak sama sekali mengajak berkumpul, apalagi bikin promo, bikin undangan, bikin tiket, apalah. Semua pure antusias yang ramai-ramai datang menyambut presiden, ini tugas protokoler mengatur keramaian. Dan emang kalah jumlah," ucap dr Tirta.

"Pada salah satu video, sedan Pak Jokowi sampai dikejar warga yang ingin menyapa. Tampak protokoler sampai kewalahan," imbuh dia.

Berdasarkan video yang ditontonnya, dr Tirta menyebut Jokowi sudah berusaha menenangkan dan mengingatkan soal protokol kesehatan kepada warga yang tetap mengerubungi mobil presiden. Dia juga membela aksi Jokowi menyapa warga dari atap mobil.

"Nggak mungkin mobil terus melaju kan? Satu-satunya cara agar bubar, ya, mau nggak mau Pakde keluar dari atap, dan menyapa dan meminta warga kembali ke rumah masing-masing," sebut dr Tirta.

dr Tirta memberi pesan kepada protokoler Presiden Jokowi. Dia berharap protokoler Istana bisa berbenah dari kejadian kerumunan di NTT ini.

"Ini menjadi refleksi agar tim protokoler lebih berhati-hati mengatur agenda dan alur massa di lapangan ketika kegiatan Pak Jokowi. Atas kejadian ini, pihak Biro Pers Istana juga sudah klarifikasi. Semoga ke depannya istana lebih selektif jika agenda Pak Presiden di lapangan, karena antusiasme warga yang sangat besar," jelas dr Tirta.

Penjelasan Istana

Dalam video yang beredar, sejumlah warga tampak berkerumun mendekat ke arah mobil Presiden Jokowi. Mereka tampak ingin mengabadikan kedatangan Jokowi di NTT. Dari atas mobil, Jokowi juga sempat menyapa warga dengan melambaikan tangan. Jokowi juga terlihat mengingatkan warga untuk menggunakan masker. Selain itu, Jokowi membagikan suvenir kepada warga yang berkerumun.

Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden, Bey Machmudin, membenarkan bahwa peristiwa itu terjadi di Maumere pada hari ini. Bey menjelaskan, masyarakat saat itu sudah menunggu rombongan Presiden Jokowi di pinggir jalan.

"Benar, itu video di Maumere. Setibanya di Maumere, Presiden dan rombongan melanjutkan perjalanan menuju Bendungan Napun Gete. Saat dalam perjalanan, masyarakat sudah menunggu rangkaian di pinggir jalan, saat rangkaian melambat masyarakat maju ke tengah jalan sehingga membuat iring-iringan berhenti," kata Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden Bey Machmudin kepada wartawan, Selasa (23/02/2021).

Bey mengatakan masyarakat Maumere spontan menyambut kedatangan Jokowi. Jokowi pun, kata Bey, menyapa masyarakat dari atap mobil.

"Dan kebetulan mobil yang digunakan Presiden atapnya dapat dibuka, sehingga Presiden dapat menyapa masyarakat sekaligus mengingatkan penggunaan masker. Karena kalau diperhatikan, dalam video tampak saat menyapa pun Presiden mengingatkan warga untuk menggunakan masker dengan menunjukkan masker yang digunakannya," ujar Bey.
 

Petugas Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) tidak menerbitkan laporan polisi atas kasus tersebut.
Laporan Kerumunan Presiden Jokowi di NTT ke Polisi Mangkrak, Kok Bisa?

Petugas Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) tidak menerbitkan laporan polisi atas kasus tersebut.

Ind | Kamis, 25 Februari 2021 - 20:40 WIB

Laporan Koalisi Masyarakat Anti Ketidakadilan terhadap kerumunan Presiden Joko Widodo (Jokowi) atas pelanggaran protokol kesehatan saat kunjungan kerja ke Nusa Tenggara Timur (NTT) ditolak.

Petugas Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) tidak menerbitkan laporan polisi atas kasus tersebut.

Ketua Koalisi Masyarakat Anti Ketidakadilan, Kurnia mengatakan, petugas SPKT hanya meminta pihaknya membuat surat laporan tertulis yang diberi stampel oleh bagian Tata Usaha dan Urusan Dalam (TAUD).

"Pihak kepolisian yang tidak mau menerbitkan Laporan Polisi atas laporan kami terhadap terduga pelaku tindak pidana pelanggaran kekarantinaan kesehatan yakni sang presiden," kata Kurnia kepada wartawan, Kamis (25/02/2021).

Kurnia mengaku bingung atas ditolaknya laporan polisi kepada Jokowi. "Kami mempertanyakan asas persamaan kedudukan di hadapan hukum apakah masih ada di republik ini?," tanyanya.

Sementara itu, Karo Penmas Divisi Humas Mabes Polri Brigjen Pol Rusdi Hartono menyebut tidak ada laporan polisi atas kasus kerumunan di NTT yang diterima Bareskrim Polri. "Tidak ada laporan itu di Bareskrim," tukasnya.

Sebelumnya, beredar sebuah video berdurasi 30 detik yang menunjukkan kerumunan masyarakat mengerubungi Jokowi.

Dalam video itu, nampak Presiden ada di dalam mobil. Sementara itu, banyak masyarakat yang mengerubungi mobil berkelir hitam itu.

Presiden, yang terlihat mengenakan masker hitam, kemudian menjulurkan badannya lewat sunroof mobil dan melambaikan tangan kepada massa.

Presiden yang mengenakan kemeja putih itu bahkan sempat melemparkan bungkusan ke arah kerumunan masyarakat.

Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden, Bey Machmudin mengatakan, kerumunan tersebut merupakan bentuk spontanitas dan antusiasme masyarakat Maumere menyambut kedatangan Presiden Jokowi.

"Dan kebetulan mobil yang digunakan Presiden atapnya dapat dibuka, sehingga Presiden dapat menyapa masyarakat, sekaligus mengingatkan penggunaan masker," tuturnya.