Sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia sudah saatnya Indonesia memberikan contoh praktik pengelolaan wakaf yang transparan, profesional, kredibel, terpercaya, dan memiliki dampak yang produktif bagi kesejahteraan dan pemberdayaan ekonomi umat Islam
Presiden Jokowi Luncurkan Gerakan Nasional Wakaf Uang

Sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia sudah saatnya Indonesia memberikan contoh praktik pengelolaan wakaf yang transparan, profesional, kredibel, terpercaya, dan memiliki dampak yang produktif bagi kesejahteraan dan pemberdayaan ekonomi umat Islam

Joshua Alexander | Selasa, 26 Januari 2021 - 02:01 WIB

Presiden RI Joko Widodo meluncurkan Gerakan Nasional Wakaf Uang, di Istana Negara, Jakarta, Senin (25/01/2021) pagi. Dalam kesempatan itu Kepala Negara juga meresmikan Brand Ekonomi Syariah.

Dalam sambutannya Presiden mengungkapkan, pada tahun ini Pemerintah akan terus mencari jalan dan menemukan terobosan untuk mengurangi ketimpangan sosial dalam rangka mewujudkan pemerataan pembangunan di seluruh pelosok Tanah Air. Salah satunya adalah melalui pemanfaatan wakaf.

“Saya telah berkali-kali menyampaikan, menekankan pentingnya redistribusi aset, kemudian juga yang berkaitan dengan perluasan akses permodalan, kemudian juga penguatan keterampilan dan perubahan budaya dalam mengatasi kemiskinan dan kesenjangan sosial. Salah satu langkah terobosan yang perlu kita pikirkan adalah pengembangan lembaga keuangan syariah yang dikelola berdasarkan sistem wakaf,” ujarnya.

Presiden mengungkapkan, potensi wakaf di Indonesia sangat besar, baik wakaf benda tidak bergerak maupun benda bergerak termasuk wakaf dalam bentuk uang. Potensi aset wakaf per tahun mencapai Rp2.000 triliun dan potensi wakaf uang dapat menembus angka Rp188 triliun.

“Oleh karena itu, kita perlu perluas lagi cakupan pemanfaatan wakaf, tidak lagi terbatas untuk tujuan ibadah tetapi dikembangkan untuk tujuan sosial-ekonomi yang memberikan dampak signifikan bagi pengurangan kemiskinan dan ketimpangan sosial dalam masyarakat,” ujarnya.

Untuk itu, Presiden menyambut baik peluncuran Gerakan Nasional Wakaf Uang (GNWU) sebagai bagian dari upaya untuk memperkuat rasa kepedulian dan solidaritas sosial untuk mengatasi kemiskinan dan ketimpangan sosial di Indonesia.

“Peluncuran Gerakan Nasional Wakaf Nasional Uang hari ini menjadi bagian penting bukan hanya meningkatkan awareness/kepedulian, literasi, dan edukasi masyarakat terhadap ekonomi dan keuangan syariah tetapi sebagai upaya memperkuat rasa kepedulian dan solidaritas sosial untuk mengatasi kemiskinan dan ketimpangan sosial di negara kita,” ujarnya.

Kepala Negara juga menegaskan, sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia sudah saatnya Indonesia memberikan contoh praktik pengelolaan wakaf yang transparan, profesional, kredibel, terpercaya, dan memiliki dampak yang produktif bagi kesejahteraan dan pemberdayaan ekonomi umat Islam.

“Serta, sekaligus akan bisa memberikan pengaruh signifikan pada upaya menggerakkan ekonomi nasional kita, khususnya di sektor usaha mikro, usaha kecil, dan usaha menengah,” imbuhnya.

Di bagian lain sambutannya, Presiden juga menyambut baik peresmian brand ekonomi syariah yang dinilainya penting untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap ekonomi dan keuangan syariah.

“Ini sangat penting untuk meningkatkan awareness masyarakat, sebagai dukungan atas seluruh kegiatan ekonomi syariah Indonesia dan menyatukan gerakan meningkatkan nilai tambah ekonomi syariah di negara kita Indonesia,” pungkasnya.

Presiden didampingi oleh Wakil Presiden Ma’ruf Amin dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Acara ini juga dihadiri secara tatap muka maupun virtual oleh sejumlah pihak, antara lain Gubernur Bank Indonesia, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan, dan Ketua Badan Wakaf Indonesia.

Hadir juga para Gubernur di seluruh Indonesia, Ketua Kamar Dagang Indonesia, serta sejumlah tokoh masyarakat maupun tokoh agama.

Gerakan nasional wakaf uang dan brand ekonomi syariah dapat mendukung pertumbuhan ekonomi syariah serta mempercepat visi Indonesia sebagai pusat ekonomi dan keuangan syariah dunia
Menkeu: Gerakan Nasional Wakaf Uang Mendukung Pertumbuhan Ekonomi Syariah

Gerakan nasional wakaf uang dan brand ekonomi syariah dapat mendukung pertumbuhan ekonomi syariah serta mempercepat visi Indonesia sebagai pusat ekonomi dan keuangan syariah dunia

Joshua Alexander | Selasa, 26 Januari 2021 - 02:31 WIB

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyampaikan Pemerintah tengah fokus mengembangkan ekonomi dan keuangan syariah secara terintegrasi. Seiring dengan berkembangnya sektor ekonomi dan keuangan syariah, sektor dana sosial syariah yang mencakup zakat, infaq, shodaqoh, dan wakaf juga merupakan bagian yang berpotensi sangat strategis untuk dikembangkan.

Sebagai bentuk pengembangan tersebut, Pemerintah melalui Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS), Badan Wakaf Indonesia (BWI) dan lembaga terkait meluncurkan Gerakan Nasional Wakaf Uang yaitu gerakan berupa program edukasi dan sosialisasi wakaf uang diharapkan dapat meningkatkan literasi dan kesadaran masyarakat untuk berwakaf. 

“Gerakan nasional wakaf uang dan brand ekonomi syariah dapat mendukung pertumbuhan ekonomi syariah serta mempercepat visi Indonesia sebagai pusat ekonomi dan keuangan syariah dunia,” jelas Menkeu dalam sambutannya pada Peluncuran Gerakan Nasional Wakaf Uang dan Peresmian Brand Ekonomi Syariah, Senin (25/01).
 
Menkeu menambahkan, sampai dengan 20 Desember 2020, total wakaf uang telah terkumpul sejumlah Rp 328 miliar, sedangkan project based wakaf mencapai Rp 597 miliar. Selain itu, tahun lalu (BWI) dan para nazhir (pengelola) memobilisasi wakaf uang dan menginvestasikannya pada Cash Wakaf Linked Sukuk (CWLS). CWLS merupakan instrumen baru yang diterbitkan oleh Kementerian Keuangan, dimana imbal hasil dari CWLS digunakan untuk membiayai berbagai program sosial.

"Saat ini sudah terkumpul lebih dari Rp54 miliar dalam bentuk CWLS,” tambahnya.

Mengingat jumlah dan antusiasme partisipasi masyarakat  dalam wakaf, para stakeholder atau pemangku kepentingan  akan mengembangkan pengelolaan wakaf uang untuk memperkuat Islamic Social Safety Net. Dengan pengelolaan yang amanah, transparan dan profesional, wakaf uang dan instrumen keuangan berbasis wakaf dapat membantu percepatan pembangunan nasional dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. 

Saat ini sudah ada sekitar 50 Bank Wakaf Mikro
Menag : Wakaf Uang Bisa Bermanfaat Besar bagi Kemaslahatan Bangsa

Saat ini sudah ada sekitar 50 Bank Wakaf Mikro

Melinda Liem | Rabu, 01 Januari 2020 - 09:29 WIB

Menteri Agama Fachrul Razi mengatakan, saat ini wakaf uang memiliki manfaat yang lebih besar bagi kemaslahatan bangsa jika dibandingkan wakaf tanah. Untuk itu, Menag Fachrul Razi mendorong pengelolaan wakaf uang agar lebih terorganisir dan akuntabel. 

Hal ini disampaikan Menag saat membahas Optimalisasi Wakaf Uang bersama dengan jajaran eselon I dan II Kementerian Agama, di Kantor Kementerian Agama, Jalan Lapangan Banteng Barat, Jakarta Pusat. 

Saya kalau wakaf ini, saya kembalikan ke diri saya gitu ya. Gini, mau wakaf tanah, gak ada lagi tanahnya, dan mahal sekali. Wakafkan uang kecil-kecil, apa manfaat ya? Saya pikir-pikir, kalau dihimpun banyak kan besar juga itu ya.  Bisa manfaat sekali,” ujar Menag, Selasa. 

Terlebih menurut Menag, wakaf itu di dalam Islam juga termasuk amal jariah yang pahalanya akan mengalir terus menerus. “Artinya uang wakaf itu kan akan tetap ada, dan berputar terus. Kalau kita mati, amalnya masih berkelanjutan,” kata Menag. 

Menag pun berpikir, jika potensi wakaf yang ada ini kemudian dikelola dengan lebih profesional, transparan dan akuntabel, maka pemanfaatan wakaf uang ini akan lebih optimal. Menag pun mengaku terinspirasi dengan program Bank Wakaf Mikro yang telah digulirkan oleh Presiden Jokowi. 

“Presiden bercerita, saat ini sudah ada sekitar 50 Bank Wakaf Mikro. Di sana mereka sudah punya nasabah. Masing-masing nasabah mendapat pinjaman yang tidak besar, hanya sekitar satu juta setiap orang. Tapi dengan pinjaman itu, banyak nasabahnya mampu memperbaiki kondisi perekonomiannya,” kisah Menag. 

“Maka saya pikir, kalau administrasinya kita benahi, bisa diaudit setiap saat, ini bisa kita dorong sebagai upaya nasional. Wakaf yang terkumpul bisa dimanfaatkan untuk kepentingan umum,” ujar Menag. 

Optimalisasi pemanfaatan wakaf uang ini perlu menjadi perhatian, apalagi negara pun telah memiliki regulasi tentang wakaf. Regulasi ini tercantum dalam Undang-undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf. 

Untuk itu, Menag meminta jajarannya untuk dapat memikirkan cara pemanfaatan dan optimalisasi wakaf uang ini. “Coba kita pikirkan bersama, bagaimana mekanisme optimalisasi wakaf uang. Prinsipnya, bagaimana kita memudahkan bagi mereka yang mau berwakaf,” pesan Menag.

Ia berpandangan, GTNWU seakan menunjukkan lemahnya kemampuan pemerintah dalam menjamin kesejahteraan rakyat
Gerakan Nasional Wakaf Uang, Iwan Sumule: Langkah Mulia, Sekaligus Mengungkap Negara Sudah Bangkrut!

Ia berpandangan, GTNWU seakan menunjukkan lemahnya kemampuan pemerintah dalam menjamin kesejahteraan rakyat

Rayu | Rabu, 27 Januari 2021 - 08:05 WIB

Presiden Joko Widodo (Jokowi) secara resmi Gerakan Nasional Wakaf Uang (GNWU) di Istana Negara, Senin (25/01/2021). Presiden yang juga bertindak selaku Ketua Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) menjelaskan bahwa pemerintah terus berupaya mencari jalan untuk mengurangi ketimpangan sosial dan mewujudkan pemerataan pembangunan di seluruh pelosok Tanah Air. 

Salah satu langkah tersebut ialah melalui pengembangan dan pengelolaan lembaga keuangan syariah.

“Salah satu langkah terobosan yang perlu kita pikirkan adalah pengembangan lembaga keuangan syariah yang dikelola berdasarkan sistem wakaf. Potensi wakaf di Indonesia sangat besar, baik wakaf benda tidak bergerak maupun benda bergerak termasuk wakaf dalam bentuk uang,” ujar Presiden Jokowi.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Salahuddin Uno menjelaskan, wakaf uang sejatinya akan dimanfaatkan untuk meningkatkan kegiatan sosial dan membantu masyarakat di tengah pandemi Corona Virus Desease 2019 atau COVID-19.

"Dana wakaf diharapkan membantu meringankan beban masyarakat dan membantu mempertahankan lapangan pekerjaan mereka," jelas Sandiaga Uno.

Beberapa pihak menilai GNWU tersebut sebagai langkah modern pemerintah untuk memperluas pelaksanaan wakaf. 

Sebaliknya, Ketua Majelis Jaringan Aktivis Pro Demokrasi (ProDem), Iwan Sumule memiliki perspektif berbeda tentang GNWU tersebut. Ia berpandangan, GTNWU seakan menunjukkan lemahnya kemampuan pemerintah dalam menjamin kesejahteraan rakyat. 

Padahal, kata dia, hal tersebut sudah jelas tertuang dalam amanat Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.

"Ajakan (wakaf uang) mulia, dan sekaligus mengungkap negara telah bangkrut?" kata Iwan Sumule, Selasa (26/01/2021).

Saat meresmikan gerakan nasional wakaf uang, Presiden Joko Widodo menyebut aset wakaf setiap tahunnya mencapai Rp 2 ribu triliun. Sementara potensi wakaf uang bisa menembus angka Rp 188 triliun.

Pembenahan tata kelola ini diinisiasi oleh Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) yang diketuai Maruf Amin dan Badan Wakaf Indonesia (BWI). Peresmian gerakan nasional wakaf uang ini juga menjadi tonggak pembenahan pengelolaan wakaf di Indonesia, terutama wakaf benda bergerak. 

Uang Jiwasraya dimaling. Asabri juga dimaling. BPJS Ketenagakerjaan juga kata Kejaksaan Rp 43 triliun dimaling. Tidak percaya (gerakan wakaf uang), takut dimaling juga
Jokowi Canangkan Gerakan Wakaf Uang, Tengku Zulkarnain: Satu Rupiahpun Saya Tak Mau Ikut, Takut Dimaling

Uang Jiwasraya dimaling. Asabri juga dimaling. BPJS Ketenagakerjaan juga kata Kejaksaan Rp 43 triliun dimaling. Tidak percaya (gerakan wakaf uang), takut dimaling juga

Viozzy PC | Selasa, 26 Januari 2021 - 11:55 WIB

Presiden RI Joko Widodo meluncurkan Gerakan Nasional Wakaf Uang, di Istana Negara, Jakarta, Senin (25/01/2021) pagi. Dalam kesempatan itu Kepala Negara juga meresmikan Brand Ekonomi Syariah.

Menanggapi hal tersebut, mantan Wakil Sekjen DPP Majelis Ulama Indonesia (MUI), Tengku Zulkarnain.

Secara tegas, ia memastikan tak akan ikut bagian dalam gerakan nasional wakaf uang yang digaungkan pemerintah.

"Presiden Jokowi canangkan wakaf uang. Maaf seribu maaf, satu rupiah pun saya tidak akan mau ikut," tegas Tengku Zulkarnain di akun Twitternya, Senin (25/1).

Ia takut gerakan yang sejatinya bertujuan memperkuat kepedulian dan solidaritas untuk mengatasi kemiskinan dan ketimpangan sosial itu justru akan berujung seperti kasus rasuah pada sejumlah bidang ekonomi di BUMN.

"Uang Jiwasraya dimaling. Asabri juga dimaling. BPJS Ketenagakerjaan juga kata Kejaksaan Rp 43 triliun dimaling. Tidak percaya (gerakan wakaf uang), takut dimaling juga," tandasnya.

Diketahui, dalam peluncuran tersebut Presiden mengungkapkan, potensi wakaf di Indonesia sangat besar, baik wakaf benda tidak bergerak maupun benda bergerak termasuk wakaf dalam bentuk uang. Potensi aset wakaf per tahun mencapai Rp2.000 triliun dan potensi wakaf uang dapat menembus angka Rp188 triliun.

Ini sangat penting untuk meningkatkan awareness masyarakat, sebagai dukungan atas seluruh kegiatan ekonomi syariah Indonesia dan menyatukan gerakan meningkatkan nilai tambah ekonomi syariah di negara kita Indonesia" ujar Presiden Jokowi.