Tanda-tanda akan terjadinya resesi pada perekonomian Indonesia untuk tahun ini sudah mulai terlihat sejak kuartal I-2020.
Kemenkeu Blak-blakan, Indonesia Sudah Resesi, Ekonomi Melambat Sejak Januari 2020

Tanda-tanda akan terjadinya resesi pada perekonomian Indonesia untuk tahun ini sudah mulai terlihat sejak kuartal I-2020.

Triaji | Jumat, 25 September 2020 - 14:39 WIB

Kementerian Keuangan mengungkapkan bahwa sebenarnya tanda-tanda akan terjadinya resesi pada perekonomian Indonesia untuk tahun ini sudah mulai terlihat sejak kuartal I-2020. Secara tegas menyatalan saat ini Indonesia sudah mengalami resesi ekonomi.

“Kita sudah resesi, bahkan perlambatannya sudah mulai terjadi di kuartal I. Tanda-tandanya sudah mulai bukan di kuartal II tapi kuartal I pun sebenarnya sudah signifikan sekali pertumbuhan ekonominya terkoreksi,” kata Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Nathan Kacaribu dalam diskusi daring di Jakarta, Jumat (25/9/2020).

Bos BKF ini mengatakan tanda-tanda terjadinya perekonomian Indonesia mengalami resesi pada tahun ini dilihat dari realisasi pertumbuhan pada kuartal I yang tergolong rendah yaitu 2,97 persen (yoy) dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar 5,07 persen (yoy).

Realisasi pertumbuhan ekonomi pada kuartal I tersebut juga mengalami kontraksi sebesar 2,41 persen dibandingkan kuartal IV tahun sebelumnya yang tercatat 4,97 persen (yoy).

Selanjutnya ia menuturkan pelemahan ekonomi terjadi semakin dalam pada realisasi kuartal II yakni terkontraksi mencapai 5,32 persen (yoy) dan minus 4,19 persen jika dibandingkan dengan kuartal I 2020.

Sementara itu, lanjut Febrio, untuk pertumbuhan ekonomi pada kuartal III mendatang diperkirakan masih akan menyentuh zona negatif yakni antara minus 2,9 persen sampai minus 1 persen.

Meski demikian, menurutnya meskipun pertumbuhan ekonomi kuartal III diproyeksikan berada dalam zona negatif namun masih akan lebih baik dibandingkan dengan realisasi kuartal sebelumnya.

“Kalau kita lihat data kuartal I sudah melambat di bawah 5 persen, kuartal II apa lagi itu dalam sekali, kuartal III kita perkirakan berada di sekitar minus 2,9 persen sampai minus 1 persen. Berati memang sudah resesi,” tegasnya.

Sementara itu, ia memastikan pemerintah terus berupaya untuk mendorong perekonomian agar realisasi pertumbuhan pada kuartal IV bisa lebih baik meskipun secara keseluruhan tahun ini akan berada di teritori negatif yaitu minus 1,7 persen sampai minus 0,6 persen.

“Nah harapannya kuartal IV akan membaik apa tidak, ini yang menjadi fokus ke depan sebenarnya. Kalau resesi sebenarnya kita sepanjang tahun ini sudah resesi,” katanya.

Banyak negara yang mengalami kontraksi ekonomi lebih dalam dari Indonesia yang PDB-nya minus 5,3 persen.
Lebih Baik dari AS, Malaysia, dan Singapura, Resesi Ekonomi Indonesia Bukan yang Terburuk

Banyak negara yang mengalami kontraksi ekonomi lebih dalam dari Indonesia yang PDB-nya minus 5,3 persen.

Nissa | Jumat, 25 September 2020 - 12:07 WIB

Indonesia buka satu-satunya negara yang akan menghadapi resesi ekonomi pada kuartal III/2020. Negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Inggris, hingga Negeri Jiran Malaysia dan Singapura akan bernasib sama.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkapkan beberapa negara di atas memasang perkiraan negatif atas pertumbuhan ekonominya pada kuartal III/2020, akibat dampak Covid-19.

"Technically, hampir tiap negara telah mengalami resesi. Bahkan ada yang mulai kuartal I/2020 sudah mulai negatif, seperti [negara-negara] Uni Eropa, italia, Perancis," ujar Sri Mulyani dalam APBN Kita (22/9/2020).

"Jika kuartal ketiga negatif, berarti mereka bisa tiga kuartal berturut-turut negatif," lanjutnya.

Dijelaskan, pada kuartal II/2020 lalu, banyak negara yang mengalami kontraksi ekonomi lebih dalam dari Indonesia yang PDB-nya minus 5,3 persen.

Negara lain, contohnya Rusia mengalami pertumbuhan minus 8,5 persen, Hongkong -9 persen, AS -9,5 persen, Jepang -9,9 persen, Jerman -11,7 persen.

Semua negara Asean, bahkan kontraksinya hingga double digit, yakni Thailand 12,2 persen, Singapura 13,2 persen, Filipina bahkan 16,5 persen dan Malaysia 17,1 persen.

"Ini gambaran kuartal II/2020 merupakan kuartal yang sangat berat bagi semua ekonomi. Negara Eropa bahkan kontraksi atas 20 persen," paparnya seperti dikutip bisnis.com.

Negara-negara di atas, pada kuartal III/2020, memiliki forecast yang masih negatif. Beberapa negara tersebut a.l. Inggris (-10.7 persen), AS (-5,7 persen), Jepang (-6,6 persen), Singapura (-6 persen) dan Thailand (-9,3 persen).

Sementara itu, Sri Mulyani menuturkan ekonomi Indonesia akan terkontraksi -2,9 persen hingga -1,1 persen.

Kepala Ekonom PT Bank Mandiri Tbk. Andry Asmoro meyakini proyeksi pertumbuhan ekonomi di kuartal III diperkirakan masih akan berada pada teritori negatif, namun dengan arah membaik dibandingkan kuartal II.

Hal itu sejalan dengan dinamika ekonomi global di mana banyak negara-negara dunia yang juga sudah memasuki resesi kecuali Vietnam dan China yang masih mencatat pertumbuhan positif.

"Namun demikian, resesi yang dialami oleh Indonesia diperkirakan tidak akan sedalam negara-negara sekawasan seperti India, Filipina, Malaysia, Thailand, dan Singapura, maupun negara-negara maju di Kawasan Eropa dan AS," ujar Andry.

Ke depan perekonomian akan mulai memasuki masa pemulihan pada tahun 2021 dengan asumsi kurva infeksi Covid-19 sudah menunjukkan perlambatan disertai adanya prospek penemuan dan produksi vaksin sehingga masalah pandemi bisa cepat teratasi.

Kadin memprediksi jumlah pengangguran akan bertambah hingga lima juta orang seiring resesi ekonomi yang dialami Indonesia.
RI Masuk Jurang Resesi, 5 Juta Tenaga Kerja Langsung Jadi Pengangguran

Kadin memprediksi jumlah pengangguran akan bertambah hingga lima juta orang seiring resesi ekonomi yang dialami Indonesia.

Nissa | Jumat, 25 September 2020 - 08:03 WIB

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rosan P Roeslani memprediksi jumlah pengangguran akan bertambah hingga lima juta orang seiring resesi ekonomi yang dialami Indonesia. Tenaga kerja bakal langsung menjadi korban pertama resesi ekonomi.

"Baik dari segi kemiskinan dan pengangguran akan meningkat secara signifikan. Sekarang jumlah pengangguran kurang lebih tujuh juta orang, dan akan bertambah lebih dari lima juta," katanya dalam webinar ILUNI UI di Jakarta, Kamis, (24/9/2020).

Rosan menambahkan setiap tahun ada sekitar 2,5 juta orang yang membutuhkan lapangan pekerjaan baru. Jika ditambah dengan dampak pelemahan ekonomi akibat pandemi covid-19, maka kebutuhan lapangan kerja juga akan semakin besar.

Seperti dikutip medcom.id, berdasarkan data dari Kementerian Ketenagakerjaan, saat ini ada 8,14 juta orang yang setengah menganggur dan 28,41 juta orang pekerja paruh waktu. Dengan begitu, total ada 46,3 juta angkatan kerja yang tidak bekerja secara penuh.

"Angka ini cukup baru. Dan dari data Kemenkeu akan ada tambahan empat hingga lima juta pengangguran disebabkan pandemi covid-19 ini," ungkapnya.

Oleh karena itu, Rosan berharap keberadaan Rancangan Undang-Undang (RUU) Cipta Kerja bisa membuka lebih banyak lapangan kerja melalui investasi. Terlebih saat ini beberapa perusahaan multinasional berencana keluar dari Tiongkok, sehingga harus dimanfaatkan.

"Saya mau sampaikan juga dengan covid ini, negara-negara seperti AS, Eropa, dan Jepang itu sudah menginstruksikan perusahaannya untuk keluar dari Tiongkok untuk ekspansi di negara lain. Ini kesempatan yang harus kita raih," pungkas dia.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati sebelumnya menyebut ekonomi kuartal III-2020 antara minus 2,9 persen sampai minus satu persen. Sedangkan tahun ini ekonomi diprediksi kontraksi di kisaran minus 1,7 persen hingga minus 0,6 persen.

Ekonomi Indonesia baru akan pulih pada tahun 2023 mendatang.
Rakyat Harus Sabar, Siap-siap Hidup Makin Sulit, Kondisi Ekonomi Indonesia Baru Pulih Tahun 2023

Ekonomi Indonesia baru akan pulih pada tahun 2023 mendatang.

Triaji | Kamis, 24 September 2020 - 19:03 WIB

Sekretaris Eksekutif 1 Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KCPEN) Raden Pardede mengatakan, ekonomi Indonesia baru akan pulih pada tahun 2023 mendatang. Ada dua penyebabnya.

Pertama, lamanya proses pemulihan ini kata dia sangat bergantung akan penanganan pandemi COVID-19 yang dilakukan pemerintah. Kedua, vaksin COVID-19 bisa segera ditemukan.

"Harapan kita, kita punya target tahun 2023, rencana jangka menengah kita. Kita harus kembali ya bertumbuh seperti halnya kita seperti sebelum Covid-19," kata Pardede dalam sebuah diskusi virtual, Rabu (23/9/2020).

Pardede dikutip suara.com mengatakan, pemerintah saat ini tengah membuat rancangan rencana kerja jangka menengah dalam menghadapi pandemi Covid-19.

Setidaknya kata dia ada 3 garis besar dalam rencana kerja menengah tersebut yakni Indonesia Sehat, Indonesia Bekerja, dan Indonesia Bertumbuh dan Transformasi.

"Kenapa kami tambahkan di situ transformasi karena kami sebutkan tadi bahwa perilaku manusia itu berubah semenjak Covid-19 ini. Terjadi percepatan adopsi teknologi, terutama adopsi teknologi digital," kata Raden.

Pardede menyebut akibat pandemi Covid-19, struktur ekonomi berubah dratis, sehingga lanjut Pardede pemerintah perlu untuk merubah mind set prilaku ekonomi nasional.

"Struktur ekonomi kita tidak sama lagi seperti halnya sebelum Covid-19, berarti kita harus menyiapkan itu mulai sekarang supaya bisa bertumbuh, bertransformasi, dan berkompetisi di pasar global berdaya saing tinggi," pungkasnya.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan pemerintah menilai perekonomian masih akan berat untuk bergerak dari pagebluk virus corona.

Sri Mulyani Indrawati mengatakan setidaknya ada 3 faktor pemberat yang membuat gerak ekonomi tak leluasa akibat pandemi Covid-19.

"Kontribusi negatif terbesar (adalah) investasi, konsumsi dan ekspor," kata Sri Mulyani dalam konfrensi pers APBN Kita melalui video teleconference di Jakarta, Selasa (22/9/2020).

Padahal pada Agustus bulan lalu pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun ini berada di rentang -1,1 persen hingga positif di angka 0,2 persen.

Penurunan outlook pertumbuhan ekonomi tahun ini antara lain disebabkan oleh kasus penambahan pasien Covid-19 yang terus meningkat tajam.

"Ini artinya negatif territory akan terjadi pada kuartal III dan mungkin juga masih akan berlangsung untuk kuartal IV, yang kita upayakan bisa mendekati nol atau positif," jelas dia.

Ramalan ini juga sejalan dengan proyeksi berbagai lembaga ekonomi dunia yang menyebut ekonomi Indonesia tahun ini bakal tumbuh negatif.

"Kalau kita lihat institusi yang lakukan forecast ke pertumbuhan ekonomi Indonesia, namun mereka rata-rata memproyeksikan ekonomi Indonesia di 2020 semua di zona negatif, kecuali World Bank yang 0 persen," katanya.

Proyeksi perekonomian di kuartal ketiga tahun ini bakal mencapai minus 2,9 persen.
Selamat Datang Resesi, Pilih Mana Menabung apa Investasi?

Proyeksi perekonomian di kuartal ketiga tahun ini bakal mencapai minus 2,9 persen.

Nissa | Jumat, 25 September 2020 - 06:03 WIB

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan proyeksi perekonomian di kuartal ketiga tahun ini bakal mencapai minus 2,9 persen. Secara implisit menegaskan bahwa resesi sudah pasti terjadi dalam waktu dekat.

Nah, bagaimana masyarakat seharusnya menyikapi hal tersebut? Ketua Bidang Kajian dan Pengembangan Perbanas Aviliani mengatakan pendapatan masyarakat yang turun selama pandemi butuh sistem yang konservatif.

"Tahun ini memang sangat berat. Secara general pola pengaturan keuangan yang konservatif dan lebih teliti pada tahun ini sangat diperlukan," katanya dikutip Kamis (24/9/2020).

Karenanya, Aviliani menyarankan kelompok masyarakat yang sangat tertekan yakni masyarakat kelas menengah bawah karena pendapatannya bisa turun hingga 2 persen, harus lebih teliti dalam menyusun semua anggaran dan lebih fokus hanya pada belanja primer.

"Semua jenis cicilan berat khususnya kredit pemilikan rumah, harus secara proaktif meminta pihak perbankan untuk restrukturisasi," ucap Aviliani dikutip tempo.co.

Bila hal itu masih belum cukup meringankan, katanya, solusi subsidi gaji dari pemerintah dapat menjadi pilihan untuk dapat menambal defisit anggaran tahun ini.

Selain itu, yang juga penting adalah tidak terlalu mengandalkan pinjaman jangka pendek seperti kartu kredit atau bahkan dari fintech yang bunganya tinggi.

Sedangkan untuk kelas masyarakat kelas menengah atas yang pendapatannya masih tumbuh meski tipis, Aviliani meminta kebiasaan menabung tetap dilakukan. Meski begitu, instrumen tabungan atau investasi harus tetap harus sesuai dengan kebutuhan konsumsi selama pandemi.

Jika tidak ada rencana konsumsi besar, tabungan dapat dialihkan ke simpanan berjangka yang bunganya berkisar 4,5 persen per tahun.

"Bahkan jika prediksi tentang idle money masih besar, maka penempatan pada surat utang negara bisa jadi lebih relevan. Atau bisa memilih instrumen di pasar modal, yang mana banyak saham perusahaan bagus sedang diskon," kata Aviliani.