Padahal dari sejarah pada saat Bung Karno menjadi presiden pertama Republik Indonesia, banyak tokoh dari Sumatera Barat yang nasionalis dan pada saat itu bekerjasama dengan Bung Karno
Usung Politisi Demokrat di Pilgub Sumbar, Megawati Bingung Kenapa Orang Minang Belum Suka PDIP?

Padahal dari sejarah pada saat Bung Karno menjadi presiden pertama Republik Indonesia, banyak tokoh dari Sumatera Barat yang nasionalis dan pada saat itu bekerjasama dengan Bung Karno

Izza | Rabu, 02 September 2020 - 19:15 WIB

Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan resmi mengumumkan nama 21 calon kepala daerah melalui virtual, Rabu (02/09/2020). 

Hal unik yang ditemukan pada pengumuman ini pada Pemilihan Gubernur Sumatera Barat (Sumbar), PDIP justru mendukung Mulyadi dan Ali Mukhini. Mulyadi adalah politikus Partai Demokrat, sementara Ali Mukhni adalah Bupati Padang Pariaman yang juga Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Amanat Nasional (PAN) Sumbar.

Tidak adanya kader PDIP di Sumbar yang diusung oleh partai membuat Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri merasa heran.

“Kenapa ya, rakyat di Sumatera Barat itu sepertinya belum menyukai PDI Perjuangan?” kata Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri, dalam arahannya kepada 21 cakada melalui virtual dari kediamannya di Jalan Teuku Umar, Jakarta Pusat.

Meski demikian, kata Mega, di beberapa kota dan kabupaten sudah ada yang mengusung calon kepala daerah yang berasal dari PDIP. “Namun mencari pemimpin (Gubernur) di daerah tersebut masih agak sulit,” ujar Megawati.

Padahal dari sejarah pada saat Bung Karno menjadi presiden pertama Republik Indonesia, banyak tokoh dari Sumatera Barat yang nasionalis dan pada saat itu bekerjasama dengan Bung Karno.

“Nah, Bung Hatta itukan sebenarnya datang dari Sumatera Barat,” ujarnya.

Hal demikianlah, pesan Mega untuk dipelajari oleh para kader PDIP mengapa di Sumatera Barat partai banteng moncong putih itu belum bisa diterima sepenuhnya oleh masyarakat Minang.

“Artinya masih ada daerah yang rakyatnya belum mau mempercayai PDI Perjuangan sebagai alat perjuangan di politik,” imbuhnya.

Hasto menekankan pernyataan Puan bukan dimaksudkan untuk menyinggung orang Sumatera Barat, melainkan dukungan terhadap Pancasila dalam konteks kebudayaan dan nasionalisme
Politisi Demokrat ke Puan Maharani: Sejak Dulu Kala Sumbar Udah Pancasila, Puan Kemana Aja?

Hasto menekankan pernyataan Puan bukan dimaksudkan untuk menyinggung orang Sumatera Barat, melainkan dukungan terhadap Pancasila dalam konteks kebudayaan dan nasionalisme

Izza | Kamis, 03 September 2020 - 13:30 WIB

Pernyataan Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan Puan Maharani yang berisi harapan agar Sumatera Barat menjadi provinsi yang mendukung negara Pancasila -- pada waktu mengumumkan calon kepala daerah yang diusung partai berlambang moncong putih -- bergulir menjadi isu politik.

Rasa nasionalisme sejumlah pihak terusik dengan pernyataan tersebut. Di antaranya, politikus Partai Demokrat Zara Zettira Zr., yang menegaskan bahwa sejak dulu kala, Sumatera Barat mendukung Pancasila.

"Sejak dulu kala SUMBAR udah PANCASILA. Puan kemana aja? Pancasila ya bukan Eka sila, Tri sila, duet sila dan istilah-istilah baru lainnya," kata Zara melalui akun Twitter @zarazettirazr.

Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Tengku Zulkarnain juga ikut tersinggung. Dia kemudian mempertanyakan maksud Puan.

"Kami bertanya pada Puan: "sejak kapan Sumbar bukan pendukung Negara Pancasila?" kata Tengku melalui akun Twitter.

Tengku juga mengingatkan Puan agar jangan mengait-ngaitkan nasionalisme warga Sumatera Barat jika nanti PDI Perjuangan ternyata kalah di provinsi itu.

"Kalau PDIP jeblok di sana bukan berarti Sumbar tidak mendukung Negara Pancasila. Paham?" kata Tengku.

Belajar dari polemik itu, pengasuh Pondok Penghafal Al Qur'an Yatim Dhuafa Baitul Qur'an Ustaz Hilmi Firdausi menekankan pentingnya literasi.

"Aneh saja jika masyarakat Sumbar dibilang tidak mendukung Pancasila. Memangnya Hatta dan Sjahrir berasal dari mana? Salah satu perumus Pancasila Moh. Yamin juga putra asli Minang. Belum lagi H. Agus Salim, M. Natsir dan masih banyak lagi tokoh bangsa putra asli Minang. Inilah perlunya banyak membaca sebelum bicara," kata Hilmi melalui akun Twitter @Hilmi28.

Kemarin, Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menjelaskan maksud pernyataan Puan yang berharap Sumatera Barat mendukung Negara Pancasila.

Pernyataan Puan, kata Hasto, secara umum ditujukan kepada 42 pasangan calon yang diumumkan PDI Perjuangan pada gelombang V pada Rabu (2/9/2020).

"Yang dimaksudkan Mbak Puan dan sebagaimana seluruh kader partai mengingatkan bagaimana Pancasila dibumikan tidak hanya di Sumatera Barat, tetapi di Jawa Timur, di seluruh wilayah Republik Indonesia, Pancasila harus dibumikan, Ibu Mega begitu kagum dengan Sumbar, demikian juga Mbak Puan," kata Hasto dalam jumpa pers secara virtual.

Hasto menekankan pernyataan Puan bukan dimaksudkan untuk menyinggung orang Sumatera Barat, melainkan dukungan terhadap Pancasila dalam konteks kebudayaan dan nasionalisme.

"Jadi yang dimaksud pembumian Pancasila di Sumbar itu lebih kepada aspek kebudayaan, nasionalisme, juga menyentuh hal-hal di dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara," kata dia.

Puan mengumumkan rekomendasi partai untuk pemilihan gubernur Sumatera Barat dari rumah Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, Jalan Teuku Umar, Jakarta Pusat.

PDI Perjuangan mengusung kader Partai Demokrat Mulyadi sebagai calon gubernur Sumatera Barat. Mulyadi akan berpasangan dengan Ali Mukhni yang kini menjabat bupati Padang Pariaman.

"Semoga Sumatera Barat bisa menjadi provinsi yang memang mendukung negara Pancasila, bismillahirrohmanirrohim. Merdeka," kata Puan.

Puan juga mengumumkan jagoan PDI Perjuangan di dua provinsi 19 kabupaten kota lain. Pengumuman ini menjadi pengumuman gelombang terakhir pengumuman calon kepala daerah dari PDI Perjuangan untuk pilkada 2020.

Sebelumnya, PDI Perjuangan sudah mengumumkan gelombang I pada 19 Februari, gelombang II pada 17 Juli, gelombang III pada 11 Agustus 2020, dan gelombang IV pada 28 Agustus.

Faldo Maldini yang berpasangan dengan Febby Datuak Bangso yang diusung oleh PSI-PKB baru mengantongi tiga suara.
Tidak Cuma PDIP, Sumatera Barat Kuburan Politik Bagi PSI, Kantongi 3 Kursi, Ambisi Faldo Maldini Kandas Ikut Pilkada

Faldo Maldini yang berpasangan dengan Febby Datuak Bangso yang diusung oleh PSI-PKB baru mengantongi tiga suara.

Triaji | Kamis, 03 September 2020 - 14:19 WIB

Ambisi politikus muda PSI Faldo Maldini ikut kontestasi Pilkada Sumatera Barat seperti kandas. Soalnya, Faldo Maldini yang berpasangan dengan Febby Datuak Bangso yang diusung oleh PSI-PKB baru mengantongi tiga suara.

Sedangkan, syarat untuk ikut serta di Pilgub Sumatera Barat, pasangan harus memenuhi syarat dukungan partai politik minimal 13 kursi.

Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Jenderal PSI Raja Juli Antoni memang sampai saat ini belum ada tambahan dukungan dari partai politik ke Faldo Maldini-Febby Datuak Bangso‎.

‎”Faktanya per hari ini dukungan itu belum sampai. Tentunya kami juga realistis dengan keadaan itu,” ujar Antoni, Kamis (3/9).

Namun demikian, Antoni dikutip jawapos.com mengatakan, PSI sudah menyediakan kepada masyarakat di Sumatera Barat calon pemimpin yang berintergitas dan terbaik untuk menjadi pemimpin di provinsi tersebut.

‎”Prinsipnya kami berjuang secara serius, berjuang keras ikut memarketingkan kader-kader terbaik kami di manapun. Termasuk di Sumatera Barat,” katanya.

Antoni mengatakan dalam waktu dekat DPW PSI akan memutuskan sikap apakah akan tetap mendukung Faldo Maldini, abstain atau mendukung calon lain di Pilgub Sumatera Barat.

“Itu kan terserah DPW mungkin akan memutuskan kepada pasangan yang mana,” ungkapnya.

Berikut ini adalah peta koalisi dukungan untuk Pilgub Sumatera Barat: Ansharullah-Audy Joinaldy diusung PKS-PPP (14 kursi). Nasrul Abit-Indra Catri diusung Partai Gerindra (14 kursi).

Kemudian Mulyadi-Ali Mukhni diusung Demokrat, PAN PDIP (23 kursi). Fakhrizal-Genius Umar diusung Golkar dan Nasdem (8 kursi), dan  Faldo Maldini-Febby Dt Bangso diusung oleh PSI-PKB (3 kursi).

Megawati Curhat PDIP

Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri melempar tanya mengapa rakyat Sumatera Barat (Sumbar) belum menyukai partainya. Hasil Pemilu 2019 menunjukkan PDIP tak kebagian kursi DPR dari Sumbar.

"Bagaimana soliditas partai kita di daerah-daerah yang sedang akan melaksanakan Pilkada tersebut. Seperti kalau saya lihat, seperti Sumbar itu saya pikir kenapa ya? Kenapa ya? Kenapa rakyat Sumatera Barat sepertinya belum menyukai PDIP?" kata Megawati saat memberikan pengarahan kepada calon kepala daerah dari PDIP secara virtual, Rabu (2/9/2020).

Handi kemudian mempertanyakan ingatan Puan terhadap sosok Mohammad Natsir. Ia meminta Puan tidak melupakan jasa Natsir sebagai bapak Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang dengan mosi integralnya menyelamatkan keutuhan NKRI
Minta Masyarakat Sumbar Dukung Negara Pancasila, PKS Desak Puan Segera Minta Maaf!

Handi kemudian mempertanyakan ingatan Puan terhadap sosok Mohammad Natsir. Ia meminta Puan tidak melupakan jasa Natsir sebagai bapak Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang dengan mosi integralnya menyelamatkan keutuhan NKRI

Izza | Kamis, 03 September 2020 - 15:15 WIB

Juru Bicara Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Handi Risza mendesak Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan Bidang Politik, Puan Maharani meminta maaf ke masyarakat Sumatera Barat (Sumbar) atas pernyataan yang berharap agar Sumbar menjadi provinsi yang mendukung negara Pancasila.

Seperti ramai diberitakan, pernyataan itu disampaikan Puan saat mengumumkan pasangan bakal calon kepala daerah yang didukung PDIP di Pilkada Serentak 2020 dalam acara yang digelar DPP PDIP secara virtual, Rabu (02/09/2020). Menurutnya, pernyataan Puan itu telah menyinggung perasaan masyarakat Sumbar.

"Kami meminta Mbak Puan mencabut pernyataannya dan meminta maaf ke seluruh masyarakat Sumatera Barat khususnya kepada keluarga besar founding father bangsa ini," ucap Handi dalam keterangan tertulisnya yang diterima redaksi, Rabu (02/09/2020).

"Mbak Puan, Anda telah menyinggung perasaan kami, kami ingin Anda cabut kata-kata tersebut. Jangan pernah ragukan nasionalisme masyarakat Sumbar yang telah berjuang melahirkan Pancasila dan berkorban bagi Keutuhan NKRI," imbuhnya.

Handi kemudian mempertanyakan ingatan Puan terhadap sosok Mohammad Natsir. Ia meminta Puan tidak melupakan jasa Natsir sebagai bapak Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang dengan mosi integralnya menyelamatkan keutuhan NKRI.

Dia pun mengingatkan Puan ihwal salah satu kota di Sumbar yakni Bukittinggi pernah menjadi ibu kota dari Pemerintahan Darurat RI. "Apa Mbak Puan lupa siapa yang mendirikan bangsa ini dan penggagas Pancasila bersama Kakeknya Bung Karno, Bung Hatta, Sutan Syahrir, Tan Malaka," ujar Handi.

"Ini menunjukkan Pancasila lahir dari kekayaan budaya dan pemikiran para leluhur kami," tambahnya.

Sebelumnya, Puan mengungkapkan harapan agar Sumbar menjadi provinsi yang mendukung negara Pancasila. Hal itu ia sampaikan saat mengumumkan pasangan bakal calon kepala daerah yang didukung PDIP di Pilkada Serentak 2020.

Puan tak menjelaskan maksud pernyataan tersebut. Ia hanya mengumumkan dukungan PDIP untuk Mulyadi-Ali Mugni.

"Untuk Provinsi Sumatera Barat, rekomendasi diberikan kepada Ir. Mulyadi dan Drs. H. Ali Mukhni. Merdeka! Semoga Sumatera Barat menjadi provinsi yang memang mendukung negara Pancasila," kata Puan dalam acara yang digelar DPP PDIP secara virtual, Rabu (02/09/2020). Selanjutntnya pernyataan Puan tersebut pun viral dan terus bergulir menjadi isu nasional.
 

Menurut Gus Mis, tidak hanya semangat berkehidupan berbangsa atas dasar Pancasila yang semangatnya tampak menurun di Sumbar. Dia mengatakan tak ada kemajuan berarti selama Sumbar dipimpin kader PKS
Bela Puan, Politikus PDIP: Sumbar Berubah karena Diprovokasi PKS Selama 10 Tahun, tak Mau Dukung Pak Jokowi

Menurut Gus Mis, tidak hanya semangat berkehidupan berbangsa atas dasar Pancasila yang semangatnya tampak menurun di Sumbar. Dia mengatakan tak ada kemajuan berarti selama Sumbar dipimpin kader PKS

Izza | Kamis, 03 September 2020 - 19:30 WIB

Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan Bidang Politik, Puan Maharani berharap Sumatera Barat (Sumbar) bisa menjadi provinsi yang mendukung negara Pancasila. Harapan tersebut disampaikannya pada pengumuman pasangan bakal calon kepala daerah yang didukung PDIP di Pilkada Serentak 2020.

Pada saat itu Puan mengumumkan dukungan PDIP untuk Mulyadi-Ali Mugni sebagai bakal calon Gubernur Sumbar.

"Untuk Provinsi Sumatera Barat, rekomendasi diberikan kepada Ir. Mulyadi dan Drs. H. Ali Mukhni. Merdeka! Semoga Sumatera Barat menjadi provinsi yang mendukung negara Pancasila," kata Puan dalam acara yang digelar DPP PDIP secara virtual, Rabu (02/09/2020) tersebut. Tal ayal, pernyataan Puan itu pun langsung viral dan bergulir menjadi isu nasional.

Menanggapi hal itu, Politisi PDIP Zuhairi Misrawi menjelaskan maksud Puan Maharani. Zuhairi atau yang akrab dipanggil Gus Mis menilai Sumbar berubah total sejak 10 tahun dipimpin PKS.

"Apa yang disampaikan Mbak Puan lebih dalam perspektif kekinian sekaligus harapan agar Pancasila benar-benar membumi dalam laku keseharian dan kehidupan berbangsa kita. Sebab, Provinsi Sumatera Barat setelah 10 tahun dipimpin PKS memang berubah total. Banyak kader PKS yang memprovokasi masyarakat untuk menolak kepemimpinan Pak Jokowi. Padahal Presiden Jokowi adalah Presiden Indonesia yang menaruh perhatian besar terhadap kemajuan Sumatera Barat," ujar Gus Mis kepada wartawan, Kamis (03/09/2020).

Menurut Gus Mis, tidak hanya semangat berkehidupan berbangsa atas dasar Pancasila yang semangatnya tampak menurun di Sumbar. Dia mengatakan tak ada kemajuan berarti selama Sumbar dipimpin kader PKS.

"Sepuluh tahun di bawah kepemimpinan PKS nampak tidak ada kemajuan fundamental. Fakta yang ada, intoleransi dan politik identitas berkembang di wilayah yang masyarakatnya dikenal terbuka tersebut," ulas alumnus Universitas Al Azhar Mesir ini.

Gus Mis berharap agar berbagai gorengan politik hanya karena akan digelar pilkada dan ambisi PKS untuk mencoba bertahan di Sumatera Barat sebaiknya juga mengedepankan kompetisi yang mencerdaskan.

"Di PDI Perjuangan kami selalu diingatkan oleh Ibu Megawati bagaimana kepeloporan kaum cerdik pandai nan bijaksana yang kemudian menjadi pelopor kemerdekaan dan pahlawan bangsa, seperti Moh Hatta, KH Agus Salim, Prof Muhammad Yamin, Hajjah Rangkayo Rasuna Said, Moh Natsir, dan lain-lain. Kehadiran tokoh-tokoh berwawasan kebangsaan di tengah penjajahan, namun dengan kultur Islam yang berkemajuan tersebut menjadi daya pemicu generasi muda Sumatera Barat untuk ikut berpacu menjadi pelopor kemajuan bangsa, termasuk pelopor di dalam membumikan Pancasila," urai Gus Mis.