Tepatnya bagi mereka yang menetap atau memiliki aset di lima properti residensial, yaitu Melati Mas Residence, Taman Serpong, Serpong Terrace, Laverde, dan Borneo Paradiso. Termasuk bangunan bertingkat seperti Westmark, The Oasis, dan Lexington Residence.
Kabar Buruk untuk Penghuni Rumah di Kawasan Serpong: Pengembang Cowell Dinyatakan Bangkrut

Tepatnya bagi mereka yang menetap atau memiliki aset di lima properti residensial, yaitu Melati Mas Residence, Taman Serpong, Serpong Terrace, Laverde, dan Borneo Paradiso. Termasuk bangunan bertingkat seperti Westmark, The Oasis, dan Lexington Residence.

Tim Bizlaw | Sabtu, 18 Juli 2020 - 12:39 WIB

Ada kabar buruk bagi mereka yang membeli dan mencicil rumah di kawasan Serpong. Tepatnya bagi mereka yang menetap atau memiliki aset di lima properti residensial, yaitu Melati Mas Residence, Taman Serpong, Serpong Terrace, Laverde, dan Borneo Paradiso. Termasuk bangunan bertingkat seperti Westmark, The Oasis, dan Lexington Residence.

Pasalnya, pengembang hunian tersebut yakni PT Cowell Development Tbk dinyatakan pailit alias bangkrut berdasarkan putusan Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat. Sebelumnya, kreditor atas nama PT Multi Cakra Kencana Abadi selaku kreditor telah mengajukan permohonan Pailit di Pengadilan Niaga pada PN Jakarta Pusat dengan register nomor: 21/Pdt. Sus/Pailit/2020/PN.Niaga.Jkt.Pst.

Selanjutnya, Cowell diminta membayar uang senilai Rp 3,411 juta berdasarkan Penetapan Hakim Pengawas Nomor 21/Pdt.Sus-PAILIT/2020/Pt.Niaga.Jkt.Pst tertanggal 7 Juli 2020. Kemudian, Cowell juga akan membayar biaya kepailitan dan imbalan jasa kurator setelah selesai menjalankan tugasnya dalam mengurusi proses kepailitan.

Dalam agendanya, Tim Kurator akan melakukan rapat dengan kreditor pada Rabu, 22 Juli 2020, pukul 10.00 WIB di Pengadilan Niaga Jakarta Pusat. Sementara akhir pengajuan tagihan pada Selasa, 4 Agustus 2020, pukul 10.00-17.00 WIB di Kantor Sekretariat Tim Kurator RDTX Tower Kuningan, yang dilanjutkan dengan agenda verifikasi dan pencocokan piutang para kreditor pada Senin, 24 Agustus 2020, pukul 10.00 WIB di Pengadilan Niaga Jakarta Pusat.

Tim Kurator juga menyampaikan kepada para kreditor untuk mengirimkan ajuan dokumen ke Arkananta Venootschap melalui alamat e-mail. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga jarak fisik karena adanya pandemi Covid-19 sekaligus pelaksanaan masa transisi pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Jakarta.

Konsumen yang paling dirugikan dalam kasus pailit ini adalah mereka yang masih dalam proses kredit, baik melalui perbankan atau melalui pengembang.
Pengembang Cowell Bangkrut, Begini Gambaran Nasib Konsumen Properti di Kawasan Serpong

Konsumen yang paling dirugikan dalam kasus pailit ini adalah mereka yang masih dalam proses kredit, baik melalui perbankan atau melalui pengembang.

Ishak | Sabtu, 18 Juli 2020 - 16:01 WIB

Ada kabar tak sedap bagi mereka yang mencicil properti di kawasan Serpong, Banten. Tepatnya bagi mereka yang menetap atau memiliki aset di lima properti residensial, yaitu Melati Mas Residence, Taman Serpong, Serpong Terrace, Laverde, dan Borneo Paradiso. Termasuk bangunan bertingkat seperti Westmark, The Oasis, dan Lexington Residence.

Pasalnya, pengembang hunian tersebut yakni PT Cowell Development Tbk dinyatakan pailit alias bangkrut berdasarkan putusan Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat. Sebelumnya, kreditor atas nama PT Multi Cakra Kencana Abadi telah mengajukan permohonan pailit di Pengadilan Niaga pada PN Jakarta Pusat dengan register Nomor: 21/Pdt. Sus/Pailit/2020/PN.Niaga.Jkt.Pst.

Pertanyaan yang muncul selanjutnya adalah bagaimana nasib para konsumen yang sudah terlanjur membeli properti di bawah bendera Cowell Development? Madden Siagian, SH, MH sebagai Kurator dan Pengurus mengemukakan, terdapat dua gambaran skenario yang bakal dihadapi para konsumen. 

Pertama, konsumen yang telah melunasi seluruh cicilan tetapi belum melakukan balik nama lewat Badan Pertanahan Nasional (BPN), berpeluang besar untuk memiliki asetnya dalam waktu singkat. Kedua, konsumen yang cicilannya masih berjalan dan otomatis belum balik nama, dipastikan menjadi pihak yang akan melalui jalan panjang untuk kembali memperoleh haknya.

“Yang sudah lunas meskipun belum balik nama nyaris tidak ada masalah lagi. Berbeda dengan yang masih mencicil, karena secara hukum pemilik aset itu masih atas nama bank atau pengembang sehingga konsumen tidak bisa berbuat banyak,” ujar Madden saat dimintai tanggapan, Sabtu (18/7/2020).

Dengan kata lain, sambung Madden, konsumen yang paling dirugikan dalam kasus pailit ini adalah mereka yang masih dalam proses kredit, baik melalui perbankan atau melalui pengembang. Selanjutnya, nasib konsumen yang melakukan cicilan lewat perbankan masih lebih mujur ketimbang konsumen yang mencicil langsung ke pihak pengembang yang telah dinyatakan pailit.

“Kalau mencicil ke bank jauh lebih mudah prosesnya, yang paling repot jika mencicil ke pengembang yang telah bangkrut. Prosesnya akan sangat panjang,” ujar Madden yang sejak 2012 telah mendirikan Kantor Hukum Madden Siagian & Partners Law Firm, ini.

Madden kemudian menjelaskan proses sita dan lelang aset properti yang dilakukan oleh kurator. Dimulai dari penerimaan seluruh tagihan, dilakukan verifikasi, hingga penjualan aset. Kemudian, hasil penjualan aset itulah yang akan digunakan pihak kurator untuk membayarkan seluruh hak para konsumen secara proporsional. 

“Pembagian hasil lelang itu pun akan dilakukan secara proporsional. Artinya pemilik aset belum tentu memperoleh pembayaran sesuai dengan harga yang diharapkan. Seluruhnya tergantung dari perhitungan pihak kurator. Perlu diingat, konsumen nantinya tidak lagi menerima aset seperti rumah atau apartemen yang telah dibeli sebelumnya, tetapi sudah dalam bentuk uang,” katanya.

Terakhir, keseluruhan proses tersebut dipastikan akan membutuhkan waktu yang cukup lama. “Lebih dari setahun yang pasti, karena penjualan aset oleh kurator pasti membutuhkan waktu. Itu pun pembayaran kepada seluruh konsumen sangat mungkin dilakukan secara bertahap. Jadi pembayaran kepada konsumen A dan konsumen B bisa saja berbeda waktunya, tidak harus sekaligus,” demikian Madden.

Terdapat dua gambaran skenario yang bakal dihadapi para konsumen Cowell. 
Pengelola Plaza Atrium Senen Bangkrut, Cowell Janji Lunasi Semua Kewajiban

Terdapat dua gambaran skenario yang bakal dihadapi para konsumen Cowell. 

Pardosi | Selasa, 21 Juli 2020 - 16:11 WIB

PT Cowell Development, Tbk, pengelola salah satu properti ternama di Jakarta yakni Plaza Atrium Senen dinyatakan bangkrut oleh Pengadilan Niaga Jakarta Pusat. 

Selain Plaza Atrium Senen, Cowell juga mengelola sejumlah properti hunian di kawasan Serpong, Banten, antara lain Melati Mas Residence, Taman Serpong, Serpong Terrace, Laverde, dan Borneo Paradiso. Termasuk bangunan bertingkat seperti Westmark, The Oasis, dan Lexington Residence.

Meski dinyatakan pailit, manajemen Cowell berjanji akan melunasi seluruh kewajiban perusahaan kepada kreditor. Manajemen juga berjanji akan mempertahankan seluruh karyawan di tengah beban keuangan yang semakin memberatkan.

Saat ini, emiten berkode saham COWL tersebut telah menyiapkan tiga langkah strategis, yakni terus mengupayakan perdamaian dengan semua kreditur, memastikan kebutuhan dan kepentingan semua konsumen terpenuhi, serta mempertahankan sedapat mungkin seluruh karyawan perusahaan yang ada saat ini.

“Hal ini penting untuk meminimalisasi ketidakpastian dan spekulasi yang berpotensi semakin membingungkan dan merugikan bagi konsumen, karyawan dan pemangku kepentingan lainnya,” ujar Direktur Cowell Development Pikoli Sinaga, dikutip dari keterangan resmi, Senin (20/7/2020).

Pikoli juga tetap mengimbau seluruh karyawan agar tetap memastikan setiap konsumen memperoleh pelayanan yang baik, baik konsumen yang telah membayar lunas maupun konsumen yang masih mencicil properti.

Di sisi lain, manajemen juga masih optimis dapat mengupayakan perdamaian dengan setiap kreditur agar Cowell dapat beroperasi kembali secara normal.

Sementara itu, penasihat hukum Cowell Jimmy Simanjuntak mengapresiasi sikap dan kebijakan manajemen, yaitu tetap mengutamakan kepentingan konsumen dan mempertahankan karyawan.

Jimmy menegaskan, selain penting untuk mendukung upaya perdamaian dengan semua kreditur, kebijakan tersebut juga menepis berbagai fitnah yang tidak beralasan. Antara lain, fitnah bahwa Cowell secara sukarela dipailitkan demi menghindari kewajiban kepada konsumen dan utang kepada kreditur.

Terpisah, Madden Siagian, SH, MH sebagai Kurator dan Pengurus mengemukakan, terdapat dua gambaran skenario yang bakal dihadapi para konsumen Cowell. 

Pertama, konsumen yang telah melunasi seluruh cicilan tetapi belum melakukan balik nama lewat Badan Pertanahan Nasional (BPN), berpeluang besar untuk memiliki asetnya dalam waktu singkat. Kedua, konsumen yang cicilannya masih berjalan dan otomatis belum balik nama, dipastikan menjadi pihak yang akan melalui jalan panjang untuk kembali memperoleh haknya.

“Yang sudah lunas meskipun belum balik nama nyaris tidak ada masalah lagi. Berbeda dengan yang masih mencicil, karena secara hukum pemilik aset itu masih atas nama bank atau pengembang sehingga konsumen tidak bisa berbuat banyak,” ujar Madden saat dimintai tanggapan, Sabtu (18/7/2020).

Dengan kata lain, sambung Madden, konsumen yang paling dirugikan dalam kasus pailit ini adalah mereka yang masih dalam proses kredit, baik melalui perbankan atau melalui pengembang. Selanjutnya, nasib konsumen yang melakukan cicilan lewat perbankan masih lebih mujur ketimbang konsumen yang mencicil langsung ke pihak pengembang yang telah dinyatakan pailit.

“Kalau mencicil ke bank jauh lebih mudah prosesnya, yang paling repot jika mencicil ke pengembang yang telah bangkrut. Prosesnya akan sangat panjang,” ujar Madden yang sejak 2012 telah mendirikan Kantor Hukum Madden Siagian & Partners Law Firm, ini.

Madden kemudian menjelaskan proses sita dan lelang aset properti yang dilakukan oleh kurator. Dimulai dari penerimaan seluruh tagihan, dilakukan verifikasi, hingga penjualan aset. Kemudian, hasil penjualan aset itulah yang akan digunakan pihak kurator untuk membayarkan seluruh hak para konsumen secara proporsional. 

“Pembagian hasil lelang itu pun akan dilakukan secara proporsional. Artinya pemilik aset belum tentu memperoleh pembayaran sesuai dengan harga yang diharapkan. Seluruhnya tergantung dari perhitungan pihak kurator. Perlu diingat, konsumen nantinya tidak lagi menerima aset seperti rumah atau apartemen yang telah dibeli sebelumnya, tetapi sudah dalam bentuk uang,” katanya.

Terakhir, keseluruhan proses tersebut dipastikan akan membutuhkan waktu yang cukup lama. “Lebih dari setahun yang pasti, karena penjualan aset oleh kurator pasti membutuhkan waktu. Itu pun pembayaran kepada seluruh konsumen sangat mungkin dilakukan secara bertahap. Jadi pembayaran kepada konsumen A dan konsumen B bisa saja berbeda waktunya, tidak harus sekaligus,” demikian Madden.

Di pihak lain, salah satu kuasa hukum kreditur, Rian Hidayat menyambut baik rencana Cowell yang bakal mengajukan proposal perdamaian.
Dinyatakan Bangkrut, Pengelola Plaza Atrium Senen Ajukan Perdamaian

Di pihak lain, salah satu kuasa hukum kreditur, Rian Hidayat menyambut baik rencana Cowell yang bakal mengajukan proposal perdamaian.

Tim Bizlaw | Rabu, 22 Juli 2020 - 22:08 WIB

Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, akhir pekan lalu secara resmi menyatakan pailit PT Cowell Development Tbk. Selanjutnya, Tim Kurator Cowell telah mengundang rapat kreditur dan debitur di Pengadilan Niaga, Jakarta Pusat. 

“Tadi sudah terjalin komunikasi yang baik, intinya kami gunakan hak kami secara maksimal. Kami enggak ajukan upaya hukum tapi kami tetap fokus konsentrasi pemilik yang sudah membeli AJB ataupun sertifikat,” ujar kuasa hukum Cowell, Jimmy Simanjuntak, Rabu (22/7/2020).

Jimmy menambahkan, pihaknya menawarkan proposal perdamaian kepada kreditur dan debitur. Sejumlah kreditur dan debitur harus mendaftarkan diri pada 4 Agustus 2020 dan nantinya diverifikasi pada 24 Agustus 2020 mendatang.

“Nanti kita diskusikan ke pengadilan. Kan sebelumnya belum pernah ketemu. Kita ketemu di pengadilan, jadi tidak ada dusta lagi,” kata dia.

Di pihak lain, salah satu kuasa hukum kreditur, Rian Hidayat menyambut baik rencana Cowell yang bakal mengajukan proposal perdamaian. “Ini bagus bagi kami, bisa jadi win-win solution dalam menghadapi masalah ini,” kata Rian.

Rian sendiri mengatakan konsumennya merupakan pemilik rumah di salah project PT Cowell. Nasibnya kemudian terkatung-katung akibat kondisi cowell.

Diberitakan sebelumnya, Cowell dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga Jakarta Pusat. Emiten properti berkode saham COWL ini diajukan status pailit oleh kreditor ke pengadilan dengan surat bernomor 21/Pdt. Sus/Pailit/2020/PN.Niaga.Jkt.Pst.

Cowell merupakan salah satu perusahaan properti papan atas yang bergerak di berbagai proyek pengembangan, mulai dari perumahan, apartemen, township, pusat perbelanjaan hingga perkantoran. Perusahaan ini mengembangkan Plaza Atrium Senen, The Oasis di Jakarta, Borneo Paradiso, perumahan Melati Mas Residence di Tangerang, Leverde-Serpong Park di Tangerang.

| Kamis, - : WIB