Terdapat 3.400 anak yang dalam perawatan dengan berbagai penyakit. Dari jumlah itu, ada 584 orang terkonfirmasi positif dan 14 orang meninggal dunia
14 Anak Meninggal, KPAI Minta Pemerintah Jangan Buka Sekolah Saat Kasus COVID-19 Belum Nol

Terdapat 3.400 anak yang dalam perawatan dengan berbagai penyakit. Dari jumlah itu, ada 584 orang terkonfirmasi positif dan 14 orang meninggal dunia

Izza | Kamis, 28 Mei 2020 - 10:15 WIB

Jika pemberlakuan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dalam upaya memutus mata rantai penyebaran Corona Virus Desease 2019 atau COVID-19, berakhir, maka anak-anak kemungkinan akan diminta kembali belajar di sekolah. 

Menanggapi hal ini, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Retno Listyarti meminta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan Kementerian Agama (Kemenang) mengkaji lagi rencana pembukaan kegiatan belajar mengajar di sekolah pada 13 Juli 2020.

Jika benar, sekolah kembali dibuka dalam waktu dekat ini, maka, langkah pembukaan sekolah dikhawatirkan mengancam kesehatan anak karena penyebaran COVID-19 belum usai. Bahkan kasus COVID-19 pada anak di Indonesia cukup besar dibandingkan negara lain.

Retno mengatakan, data Kementerian Kesehatan terdapat sekitar 831 anak yang terinfeksi COVID-19, sebagaimana data 23 Mei 2020. Usia anak yang tertular itu berkisar 0-14 tahun.

"Penularan virus yang mewabah itu terjadi melalui kontak dari orangtua dan keluarga terdekat,” ujar Retno dalam keterangannya, Rabu, (27/05/2020). 

Sedangkan data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), ada 129 anak meninggal dunia dengan status pasien dalam pengawasan (PDP). Dan yang menyedihkan lagi, 14 anak meninggal dengan status positif COVID-19.

Terdapat 3.400 anak yang dalam perawatan dengan berbagai penyakit. Dari jumlah itu, ada 584 orang terkonfirmasi positif dan 14 orang meninggal dunia.

“Anak-anak tertular itu menunjukkan bukti bahwa rumor COVID-19 tidak menyerang anak-anak, itu tidak benar,” kata Retno.

Melihat data-data di atas, KPAI kata Retno, minta Kemendikbud dan Kemenag belajar dari negara lain dalam langkah pembukaan sekolah.

"Beberapa negara membuka sekolah setelah kasus positif COVID-19 menurun drastis bahkan sudah nol kasus. Itupun masih ditemukan kasus penularan COVID-19 yang menyerang guru dan siswa. Peristiwa itu terjadi di Finlandia. Padahal mereka tentu mempunyai sistem kesehatan yang baik. Persiapan pembukaan yang matang. Sekolah pun jadi klaster baru," kata Retno.

Bahkan di China juga demikian. Pembukaan sekolah dilakukan setelah tak ada kasus positif COVID-19 selama 10 hari. 

“Pembukaan disertai penerapan protokol kesehatan yang ketat. Para guru yang mengajar sudah menjalani isolasi dahulu selama 14 hari sebelum sekolah dibuka,” terang Retno.

Retno juga mengingatkan, pemerintah juga perlu melibatkan IDAI dan ahli epidemiologi sebelum membuka sekolah pada tahun ajaran baru. Menurut Retno, rencana ini perlu dipersiapkan dan dipikirkan matang karena menyangkut keselamatan guru, anak-anak, dan pegawai sekolah.

“Pemerintah pusat dan pemerintah daerah harus super hati-hati dan cermat dalam mengambil keputusan membuka sekolah. Keselamatan anak-anak harus menjadi pertimbangan utama saat pemerintah hendak memgambil kebijakan menyangkut anak,” tegasnya.