Belakangan juga ada kelompok yang mereduksi agama sesuai kepentingannya sendiri yang tidak selaras dengan nilai-nilai Pancasila.
Sebut Agama Musuh Terbesar Pancasila, Kepala BPIP Bikin Gaduh, Ini Sumbernya:

Belakangan juga ada kelompok yang mereduksi agama sesuai kepentingannya sendiri yang tidak selaras dengan nilai-nilai Pancasila.

Triaji | Rabu, 12 Februari 2020 - 14:37 WIB

Baru satu pekan dilantik Presiden Jokowi menjadi Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Prof Yudian Wahyudi langsung membuat gaduh. Ia menyebut agama sebagai musuh terbesar Pancasila.

Berikut lengkapnya wawancara Prof Yudian Wahyudi kepada detik.com.

Pancasila sebagai satu-satunya asas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara telah diterima oleh mayoritas masyarakat, seperti tercermin dari dukungan dua ormas Islam terbesar, NU dan Muhammadiyah sejak era 1980-an. Tapi memasuki era reformasi asas-asas organisasi termasuk partai politik boleh memilih selain Pancasila, seperti Islam. Hal ini sebagai ekspresi pembalasan terhadap Orde Baru yang dianggap semena-mena.

"Dari situlah sebenarnya Pancasila sudah dibunuh secara administratif," kata Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Prof Yudian Wahyudi kepada tim Blak-blakan detik.com.

Belakangan juga ada kelompok yang mereduksi agama sesuai kepentingannya sendiri yang tidak selaras dengan nilai-nilai Pancasila. Mereka antara lain membuat Ijtima Ulama untuk menentukan calon wakil presiden. Ketika manuvernya kemudian tak seperti yang diharapkan, bahkan cenderung dinafikan oleh politisi yang disokongnya mereka pun kecewa.

"Si Minoritas ini ingin melawan Pancasila dan mengklaim dirinya sebagai mayoritas. Ini yang berbahaya. Jadi kalau kita jujur, musuh terbesar Pancasila itu ya agama, bukan kesukuan," papar Yudian yang masih merangkap sebagai Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Jogjakarta.

Sebagai kelompok mayoritas yang sebenarnya, ia melanjutkan, NU dan Muhammadiyah mendukung Pancasila. Kedua ormas ini tak pernah memaksakan kehendak.

Konsep Pancasila sebagai dasar kehidupan berbangsa dan bernegara yang majemuk seperti Indonesia, Yudian melanjutkan, merupakan anugerah terbesar dari Tuhan. Dari sisi sumber dan tujuan, Pancasila itu relijius karena kelima sila yang terkandung di dalamnya dapat ditemukan dengan mudah di dalam kitab suci ke enam agama yang diakui secara konstitusional di republik ini.

"Tapi untuk mewujudkannya kita butuh sekularitas bukan sekularisme. Artinya soal bagaimana aturan mainnya kita sendiri yang harus menentukannya," kata Yudian.

Ia pribadi mengaku menerima amanah sebagai Kepala BPIP (5/2) menggantikan Yudi Latief yang mengundurkan diri pada Juni 2018, sebagai bentuk jihad dalam upaya mempertahankan NKRI.

Lantas, apa saja yang akan dilakukan BPIP dalam membumikan nilai-nilai Pancasila khususnya bagi generasi milenilai? Simak selengkapnya dalam Blak-blakan bersama Prof Yudian Wahyudi, "Jihad Pertahankan NKRI" di detik.com, Rabu (12/2/2020).

Yudian mengatakan musuh terbesar Pancasila adalah agama.
MUI: Pecat Kepala BPIP, Kepercayaan Rakyat Hilang

Yudian mengatakan musuh terbesar Pancasila adalah agama.

Triaji | Rabu, 12 Februari 2020 - 15:41 WIB

Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas tegas meminta Presiden Joko Widodo untuk mencopot Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Prof Yudian Wahyudi. Pasalnya, Yudian mengatakan musuh terbesar Pancasila adalah agama.

Yudian yang juga Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Jogjakarta itu baru saja dilantik pekan lalu, Rabu (5/2) itu.

"Kalau benar beliau punya pandangan seperti itu maka tindakan presiden yang paling tepat untuk beliau adalah yang bersangkutan dipecat tidak dengan hormat," kata Abbas dalam keterangan tertulis, Rabu (12/2).

Abbas menambahkan, pemikiran dan pemahaman Yudian tentang Pancasila ini bisa mengancam eksistensi negara. Selain itu, ia khawatir pemikiran Yudian tersebut menjadi destruktif terhadap pengakuan agama dalam Pancasila.

"Lalu timbul pertanyaan kalau agama harus diberangus lalu sila pertama dari Pancasila tersebut mau dikemanakan. Dibuang ? Kalau dibuang berarti tidak Pancasila lagi dan berarti negara ini bubar," ujar Abbas.

Pria yang juga menjabat sebagai Ketua PP Muhammadiyah itu mengatakan pemahaman rakyat Indonesia tentang Pancasila akan sulit terwujud karena pimpinan BPIP memiliki cara pandang yang membahayakan.

"Oleh karena itu kalau yang bersangkutan benar punya pandangan seperti itu maka pilihan yang tepat untuk kebaikan bangsa dan negara yaitu yang bersangkutan mundur atau dimundurkan," tuturnya.

"Sebab kalau yang bersangkutan tidak diberhentikan dan tetap terus duduk di sana maka BPIP ini sudah tentu akan kehilangan trust atau kepercayaan dari rakyat," kata Abbas menambahkan.

Sebelumnya, Kepala BPIP Yudian Wahyudi kepada tim Blak-blakan detik.com, 
mengatakan ada kelompok yang mereduksi agama sesuai kepentingannya sendiri yang tidak selaras dengan nilai-nilai Pancasila.

"Si Minoritas ini ingin melawan Pancasila dan mengklaim dirinya sebagai mayoritas. Ini yang berbahaya. Jadi kalau kita jujur, musuh terbesar Pancasila itu ya agama, bukan kesukuan," kata Yudian.

Hingga berita ini diturunkan belum ada tanggapan dari Yudian.

''Harusnya dengan adanya BPIP yang dewan pengarahnya saja berjibun dan gajinya tambun, kita bisa lebih rukun lagi dibanding era SBY yang tanpa BPIP, KSP, dan lain-lain.
Politikus Demokrat: Zaman SBY, Umat Beragama Hidup Rukun Tanpa BPIP

''Harusnya dengan adanya BPIP yang dewan pengarahnya saja berjibun dan gajinya tambun, kita bisa lebih rukun lagi dibanding era SBY yang tanpa BPIP, KSP, dan lain-lain."

Triaji | Jumat, 14 Februari 2020 - 07:43 WIB

Ketua DPP Partai Demokrat Jansen Sitindaon mengkritik menyayangkan keberadaan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) hanya membuat gaduh. Hal itu terkait pernyataan Kepala BPIP Yudian Wahyudi yang menyebut agama sebagai musuh terbesar Pancasila. 

Jansen membandingkan dengan era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang tak memiliki BPIP. Menurutnya, kerukunan di kalangan masyarakat menurun di pemerintahan kali ini.

"Justru di era ini tambah parah saja kita terbelah dalam perbedaan. Istana dan sekitarnya instropeksilah diri, hati-hati bernarasi. Sudah lampu kuning ini sebentar lagi merah," kata Jansen.

Anak buah SBY itu mengaku heran ada kelompok yang menyebut era Presiden Joko Widodo lebih adem. Sebab menurutnya pemerintah lebih sering menghebohkan publik dengan pernyataan-pernyataan kontroversial.

Dia bilang seharusnya pemerintahan periode ini bisa lebih baik. Sebab pemerintah rela menggelontorkan uang secara besar-besaran kepada beberapa lembaga baru.

"Harusnya dengan adanya BPIP yang dewan pengarahnya saja berjibun dan gajinya tambun, kita bisa lebih rukun lagi dibanding era SBY yang tanpa BPIP, KSP, dan lain-lain," ujarnya.

Jansen berharap pernyataan kontroversial Kepala BPIP jadi polemik terakhir. Dia meminta pemerintah untuk fokus membangun kerukunan antarwarga di periode kali ini.
 

Moeldoko meminta semua pihak tak menyalahkan pernyataan Yudian. Ia meyakini Yudian menyampaikan pendapatnya dengan penuh pertimbangan dan pikiran yang jernih
Terkait Agama Musuh Besar Pancasila, Istana dan Menag Bela Ketua BPIP

Moeldoko meminta semua pihak tak menyalahkan pernyataan Yudian. Ia meyakini Yudian menyampaikan pendapatnya dengan penuh pertimbangan dan pikiran yang jernih

Izza | Jumat, 14 Februari 2020 - 06:52 WIB

Kepala Staf Presiden Moeldoko menilai, pernyataan Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Prof. Drs. K.H. Yudian Wahyudi, M.A., Ph.D., yang menyebut bahwa agama merupakan musuh besar Pancasila bermaksud menyudutkan pihak atau agama tertentu.

"Ya, bisa saja yang memaknainya yang salah. Padahal bukan seperti itu maksudnya," ujar Moeldoko di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (13/02/2020).

Moeldoko meminta semua pihak tak menyalahkan pernyataan Yudian. Ia meyakini Yudian menyampaikan pendapatnya dengan penuh pertimbangan dan pikiran yang jernih.

"Beliau itu intelektual dan agamanya juga tinggi. Jadi mesti kita lihat dengan jernih. Jangan dijustifikasi," katanya.

Moeldoko juga menanggapi santai saat disinggung soal desakan pencopotan Yudian sebagai Kepala BPIP dari berbagai kalangan. Usulan ini sebelumnya disampaikan Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang menilai pemikiran Yudian bisa mengancam eksistensi negara.

"Ah, terlalu terburu-buru itu," ucap Moeldoko.

Pada kesempatan terpisah, Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi enggan berkomentar banyak terkait pernyataan Ketua BPIP Yudian Wahyudi tersebut. Fachrul mengatakan Yudian yang baru saja dilantik pekan lalu ini telah mengklarifikasi pernyataannya.  

"Beliau (Yudian) sudah klarifikasi, jadi kita pegang saja klarifikasinya," kata Fachrul saat ditemui di Masjid Al-Akbar, Surabaya, Kamis (13/02/2020).

Menurut Fachrul, Kepala BPIP tidak bermaksud menyampaikan pertentangan antara agama dan Pancasila. Justru, kata Fachrul, Yudian menyampaikan bahwa Pancasila didukung oleh para ulama dan tak bertentangan dengan agama.

"Dia bukan bilang seperti itu, maksudnya," tegas Menag.

Klarifikasi Yudian sangat penting agar tak makin memicu kegaduhan di masyarakat.
Ma'ruf Amin Turun Tangan, Tegur Kepala BPIP Jangan Bikin Gaduh Soal Agama

Klarifikasi Yudian sangat penting agar tak makin memicu kegaduhan di masyarakat.

Triaji | Rabu, 12 Februari 2020 - 21:21 WIB

Kontroversi agama merupakan musuh terbesar Pancasila membuat Wakil Presiden Ma'ruf Amin turun tangan. Ketua Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi diminta segera melakukan klarifikasi dan tidak membuat gaduh.

"Ya saya kira itu kita mengharapkan beliau bisa mengklarifikasi," kata dia, di Kantor Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Jakarta, Rabu (12/2).

Sebelumnya, dalam wawancara dengan sebuah media Yudian menyebut agama merupakan musuh terbesar Pancasila. Ormas-ormas Islam pun memprotes pernyataan itu dan memintanya dicopot.

Lebih lanjut, mantan Rais Aam PBNU itu menyatakan klarifikasi Yudian sangat penting agar tak makin memicu kegaduhan di masyarakat.

"Supaya tidak timbul ya tak terjadi salah paham, kontroversi sehingga menimbulkan kegaduhan. Saya berharap beliau mengklarifikasi ucapannya itu," kata Ma'ruf.

Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Profesor Yudian Wahyudi memberikan penjelasan bahwa dia tidak bermaksud mempertentangkan Pancasila dan agama.

"Yang saya maksud adalah bahwa Pancasila sebagai konsensus tertingi bangsa Indonesia harus kita jaga sebaik mungkin," kata Yudian kepada detikcom, Rabu (12/2/2020).

Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga ini menjelaskan Pancasila sendiri bersifat agamis. Nilai yang terkandung dalam tiap sila dengan mudah dapat ditemukan dalam kitab suci enam agama yang diakui Indonesia. Pancasila dan agama punya hubungan yang baik.

"Jadi hubungan antara Pancasila dan agama harus dikelola sebaik mungkin," kata Yudian.

Pernyataan Yudian kepada tim Blak-blakan detikcom menuai pro dan kontra, utamanya karena Yudian mengatakan musuh terbesar Pancasila adalah agama. Yudian meluruskan pernyataan ini. Maskudnya, musuh Pancasila adalah minoritas yang mengklaim dirinya sebagai mayoritas umat beragama.

"Namun, pada kenyataannya, Pancasila sering dihadap-hadapkan dengan agama oleh orang-orang tertentu yang memiliki pemahaman sempit dan ekstrem, padahal mereka itu minoritas (yang mengklaim mayoritas)," kata Yudian.

"Padahal Pancasila dan agama tidak bertentangan, bahkan saling mendukung," kata Yudian