Namun kapal dengan panjang 190 meter dan lebar 32 meter ini tidak pernah tiba di Morosi. Kapal MV Nur Allya dengan 25 ABK ini dilaporkan hilang Automatic Identification System (AIS) atau sistem pelacakan otomatis pada Rabu, 21 Agustus 2019 pukul 03.55 WIT.
Misteri Hilangnya Kapal Kargo Nur Allya

Namun kapal dengan panjang 190 meter dan lebar 32 meter ini tidak pernah tiba di Morosi. Kapal MV Nur Allya dengan 25 ABK ini dilaporkan hilang Automatic Identification System (AIS) atau sistem pelacakan otomatis pada Rabu, 21 Agustus 2019 pukul 03.55 WIT.

Pardosi | Minggu, 26 Januari 2020 - 12:37 WIB

Selasa, 20 Agustus 2019 pada pukul 14.15 WIT, kapal kargo MV Nur Allya bergerak meninggalkan pelabuhan muat PT Bakti Pertiwi Nusantara (BPN) di Perairan Sagea, Halmahera Tengah, Maluku Utara. Dibutuhkan waktu selama 14 hari untuk mengisi muatan ke dalam kapal, dimulai dari 5 Agustus hingga 19 Agustus 2019. Pengisian muatan dilakukan tanpa henti, kecuali hujan sedang turun.

Kapal milik PT Gurita Lintas Samudera (GLS) ini merupakan kapal kargo raksasa dengan kapasitas 52.400 dead weight tonnes (dwt). Dengan kata lain, kapal kargo ini mampu mengangkut beban hingga 52.400 ton. Saat itu, kapal mengangkut ore nickel sebanyak 51.500 WMT (wet metrik ton) dengan tujuan ke Morosi, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara.

Jarak total Sagea ke Morosi adalah 688,63 NM (nautical mile). Adapun 1 NM sama dengan 1.852 meter. Dengan kecepatan rata-rata 10 Knots, waktu tempuh Sagea ke Morosi adalah kurang lebih 3 hari, atau diperkirakan tiba di Morosi pada Jumat, 23 Agustus 2019 pada pukul 11.15 WIT. 

Namun kapal dengan panjang 190 meter dan lebar 32 meter ini tidak pernah tiba di Morosi. Kapal MV Nur Allya dengan 25 ABK ini dilaporkan hilang Automatic Identification System (AIS) atau sistem pelacakan otomatis pada Rabu, 21 Agustus 2019 pukul 03.55 WIT.

Pencarian Nur Allya kemudian digelar sejak Jumat, 23 Agustus 2019 dengan melibatkan banyak pihak. Antara lain, Basarnas Ternate, Basarnas Ambon, Bakamla, termasuk dari pihak GLS, pemilik kapal Nur Allya. 

Seminggu kemudian, tepatnya Jumat, 30 Agustus 2019, Basarnas menemukan sekoci penyelamat di Pulau Obi, Maluku Utara, yang berjarak sekitar 200 km dari Pelabuhan Weda. Sekoci itu kemudian diidentifikasi sebagai milik MV Nur Allya.

Berdasarkan investigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), MV Nur Allya diduga terbalik dan tenggelam karena proses likuefaksi nikcel ore yang diangkutnya. Kapal buatan perusahaan Jepang Sanoyas Hishino Meiso Corp pada 2002 ini diduga kuat kehilangan keseimbangan setelah ore nickel mengalami likuefaksi, yakni fenomena perubahan nickel ore dari bentuk padat ke bentuk cairan.

Mengutip situs The Maritime Field, nickel ore yang diperdagangkan dalam satuan WMT (wet metric ton), kandungan air pada setiap bijih nikelnya bisa mencapai 30 persen. Itu berarti muatan nickel ore seberat 51.500 WMT mengandung air sekitar 17.166 ton.

Bersambung

Ibu itu tak sendiri, masih banyak yang mengalami nasib serupa. Kehilangan anak, keponakan, maupun adik. Harapannya hanya satu: mengetahui kejelasan nasib anggota keluarga mereka.
Misteri Hilangnya Kapal Kargo Nur Allya (2)

Ibu itu tak sendiri, masih banyak yang mengalami nasib serupa. Kehilangan anak, keponakan, maupun adik. Harapannya hanya satu: mengetahui kejelasan nasib anggota keluarga mereka.

Pardosi | Minggu, 26 Januari 2020 - 20:28 WIB

Di acara Hotman Paris Show yang ditayangkan INews TV, 13 November 2019, seorang ibu muda tak kuasa menahan tangisnya. Suara ibu muda itu terpotong-potong saat Hotman menanyakan perihal keluarganya. Dia tampak belum siap menerima takdir karena harus kehilangan suami tercinta. Ibu itu tak sendiri, masih banyak yang mengalami nasib serupa. Kehilangan anak, keponakan, maupun adik. Harapannya hanya satu: mengetahui kejelasan nasib anggota keluarga mereka.

Namun apa daya, tangisan mereka sejauh ini masih sia-sia. Pencarian kapal karga MV Nur Allya dengan 25 ABK (anak buah kapal) itu tak pernah membuahkan hasil memuaskan. Serba misterius kecuali hanya menemukan sekoci yang diyakini milik Nur Allya.

Apalagi, upaya pencarian Nur Allya yang hilang kontak sejak 23 Agustus 2019 lalu sudah dihentikan. Basarnas terpaksa menutup upaya pencarian setelah 18 hari berjibaku di lautan Halmahera. Termasuk mengerahkan pantauan melalui udara. 

Menurut Kepala Basarnas Ternate, Muhammad Arafah, meski ditutup, namun tim SAR gabungan masih menyiagakan armada serta personel selama 1x24 jam. Basarnas tetap melakukan monitoring aktif dengan menyiagakan armada dan personel. Adapun armada dan personel yang disiagakan berada di dua titik, yakni Pulau Bacan, Kabupaten Halmahera Selatan serta di Kota Ternate.

Arafah mengatakan, sampai hari terakhir pencarian, alat ping locater milik KNKT tak bisa digunakan karena cuaca buruk di lokasi. “Untuk alat ping locater tidak bisa digunakan karena ombak 1-2 meter,” kata Arafah, Selasa (10/09/2019). 

Basarnas juga belum bisa memastikan penyebab hilangnya Nur Allya. Apakah murni karena kecelakaan hingga tenggelam atau kemungkinan lain seperti pembajakan. Proses pencarian yang menemukan adanya sekoci maupun tumpahan minyak (oil spill) belum bisa dijadikan sebagai bukti kuat untuk menyimpulkan bahwa kapal tersebut mengalami kecelakaan.

Dikatakan Kasubdit Pengerahan Potensi dan Pengendalian Operasi SAR Basarnas Agus Haryono, status kapal MV Nur Allya masih tetap dalam proses pencarian. “Lifeboat dan tumpahan minyak belum kuat. Memang itu indikasi, tapi itu belum kuat, makanya harus dilakukan pencarian lebih lanjut, termasuk upaya kita dengan KNKT hari ini dengan melakukan pencarian,” kata Agus di Kantor Basarnas Ternate, Maluku Utara, Rabu (4/9/2019).

Baca Juga: Lego Jangkar Terakhir di Perairan Sagea

Harapan kembali muncul ketika pemerintah memutuskan untuk menggelar operasi pencarian kedua kalinya pada periode 15 November hingga 21 November 2019. Tim pencarian terdiri dari Basarnas Ternate, KNKT, KSOP Ternate, Lanal Ternate, Ditpolairud Maluku Utara, KN SAR Pandudewanata, Tim Karimun Anugrah Sejati, hingga Tim Mahakarya Geo Survey.

Kali ini, operasi pencarian dilaksanakan dengan bantuan alat Multi Beam Sonar (MBS) di seluruh area yang diduga menjadi posisi terakhir Nur Allya. Hal ini untuk memastikan apakah kapal kargo tersebut betul-betul tenggelam. Tapi hasilnya nihil, tidak ada tanda-tanda kapal Nur Allya meski telah dicari menggunakan teknologi MBS.

Lantas, bagaimana sebenarnya nasib MV Nur Allya?

Bersambung

Saat kapal Nur Allya mengirimkan sinyal AIS terakhir, terdapat 2 kapal lain di sekitarnya. Chang Jiang adalah oil tanker berbendera Singapura sementara Tatamailau adalah kapal penumpang berbendera Indonesia.
Misteri Hilangnya Kapal Kargo Nur Allya (3)

Saat kapal Nur Allya mengirimkan sinyal AIS terakhir, terdapat 2 kapal lain di sekitarnya. Chang Jiang adalah oil tanker berbendera Singapura sementara Tatamailau adalah kapal penumpang berbendera Indonesia.

Pardosi | Senin, 27 Januari 2020 - 12:55 WIB

Hilangnya kapal kargo MV Nur Allya sangat menarik perhatian pemangku kepentingan. Hal ini dibuktikan dengan upaya pencarian yang dilakukan secara berulang. Pada upaya pencarian pertama yang diperpanjang dua kali di bawah koordinasi Basarnas dan KNKT, ditemukan sejumlah fakta. Antara lain, penemuan sekoci dan tumpahan minyak. Bahkan lebih dari itu, Basarnas menduga kuat Nur Allya telah tenggelam pada kedalaman 843 meter di bawah permukaan laut di perairan sekitar Desa Fluk, Laut Halmahera.

“Berdasarkan data-data yang ditemukan tim SAR gabungan sejak 27 September hingga 1 Oktober dengan menggunakan alat ping locator dan magnetometer milik KNKT, serta penemuan-penemuan bagian kapal di beberapa lokasi berbeda pada operasi SAR sebelumnya, maka saya selaku SMC menyampaikan bahwa MV Nur Allya tenggelam,” ujar Kepala Kantor Basarnas Ternate yang juga SAR Mission Coordinator (SMC) Muhamad Arafah.

Kepastian itu dikatakan Arafah sebelum dilakukan doa bersama dengan keluarga korban MV Nur Allya di KN SAR Pandudewanata, Jumat (4/10/2019). Tak hanya KNKT dan Basarnas, pencarian hingga berujung pada kepastian tenggelamnya Nur Allya juga didukung tim dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan (P3GL), Badan Litbang Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM), serta Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman.

“Jadi pada saat itu kita paralelkan antara ping locator dan magnetometer di lokasi hilangnya signal AIS (Automatic Identification System). Proses ini dilakukan tidak hanya satu kali, tapi selama berhari-hari. Meskipun terkendala cuaca yang buruk, namun kita tetap berusaha dan dari kedua alat tersebut dipastikan MV Nur Allya tenggelam di kedalamam 843 meter di bawah permukaan,” kata Bambang, perwakilan dari KNKT.

Namun seperti disinggung sebelumnya, harapan kembali muncul ketika pemerintah memutuskan untuk menggelar operasi pencarian kedua kalinya pada periode 15 November hingga 21 November 2019. Tim pencarian terdiri dari Basarnas Ternate, KNKT, KSOP Ternate, Lanal Ternate, Ditpolairud Maluku Utara, KN SAR Pandudewanata, Tim Karimun Anugrah Sejati, hingga Tim Mahakarya Geo Survey.

Kali ini, operasi pencarian dilaksanakan dengan bantuan alat Multi Beam Sonar (MBS) di seluruh area yang diduga menjadi posisi terakhir Nur Allya. Hal ini untuk memastikan apakah kapal kargo tersebut betul-betul tenggelam. Tapi hasilnya nihil, tidak ada tanda-tanda kapal Nur Allya meski telah dicari menggunakan teknologi MBS.

Baca Juga: Tangisan Sia-sia Keluarga ABK

Lalu, apakah Nur Allya betul-betul tenggelam? Hal inilah yang perlu ditelusuri lebih lanjut. Namun berdasarkan dokumen yang diperoleh Bizlaw.id, terdapat sejumlah kejanggalan di balik peristiwa tersebut.

Pertama, saat kapal Nur Allya mengirimkan sinyal AIS terakhir, terdapat 2 kapal lain di sekitarnya. Yakni pada 21 Agustus 2019 pukul 03.55 WIT. Saat itu, ada dua kapal yaitu MT Chang Jiang dan KM Tatamailau yang terpantau di sekitar lokasi. Chang Jiang adalah oil tanker berbendera Singapura sementara Tatamailau adalah kapal penumpang berbendera Indonesia.

Kedua kapal ini terpantau dalam kecepatan tinggi. Adapun jarak antara Nur Allya dengan Chang Jian adalah kurang lebih 14,68 NM (nautic mile), sementara jarak Nur Allya dengan KM Tatamailau adalah sekitar 30,96 NM.

Anehnya, pada tanggal 21 Agustus 2019, tidak ada satu kapal pun yang melaporkan adanya distress sinyal ataupun panggilan kedaruratan melalui Radio FM Marine Band di sekitar pantauan lokasi terakhir AIS MV Nur Allya.

Adapun kejanggalan kedua adalah ditemukannya tumpahan minyak yang diduga berasal dari kapal Nur Allya. Sementara menurut data yang diperoleh Bizlaw.id, tumpahan minyak yang ditemukan sudah terdeteksi lebih awal, kurang lebih 23 jam 17 menit dari status terakhir AIS Nur Allya. Dengan kata lain, tumpahan minyak tersebut diduga kuat bukan berasal dari Nur Allya.

Kejanggalan berikutnya adalah reaksi perusahaan/pemilik kapal yang dinilai terlambat melaporkan ke aparat berwenang ketika AIS Nur Allya tidak terdeteksi dalam kurun waktu 1 hari. Selain itu, ABK merupakan kru terlatih dan profesional sehingga sangat memahami teknis meninggalkan kapal bila terjadi situasi gawat-darurat.

Sejumlah kejanggalan ini tentu saja harus diuji kembali. Semata-mata tujuannya untuk mengungkap kejadian sebenarnya secara objektif.

Bersambung

Jadi logikanya tidak ada penambahan berat karena seolah-olah kandungan airnya berubah menjadi air. Beratnya tetap 1 ton
Misteri Hilangnya Kapal Kargo Nur Allya (4)

Jadi logikanya tidak ada penambahan berat karena seolah-olah kandungan airnya berubah menjadi air. Beratnya tetap 1 ton

Pardosi | Senin, 27 Januari 2020 - 17:25 WIB

Istilah likuefaksi atau likuifaksi pertama sekali populer ketika gempa mengguncang wilayah Palu, Sulawesi Tenggara pada 28 September 2019 lalu. Menurut para ahli, likuefaksi merupakan fenomena hilangnya kekuatan lapisan tanah hingga berperilaku seperti cairan akibat guncangan gempa bumi. Pertanyaannya, apakah likuefaksi juga dapat terjadi pada komoditas tambang seperti ore nikel yang sedang diangkut dalam perjalanan kapal kargo?

Jawabannya mustahil. Begitu pendapat ahli pertambangan kepada Bizlaw.id. Dr Simon Sembiring, yang juga pernah menjabat Dirjen Minerba Kementerian ESDM. Ia menjelaskan, ore nikel secara alami tidak mungkin mengandung hingga 30% air. Simon memberi contoh, jika berat ore nikel misalnya 1 ton, maka itu sudah termasuk kandungan air di dalamnya. 

“Jadi logikanya tidak ada penambahan berat karena seolah-olah kandungan airnya berubah menjadi air. Beratnya tetap 1 ton,” urai Simon kepada Bizlaw.id, Senin (27/1/2020).

Kecuali, sambung Simon, ore nikelnya sengaja ditaruh di atas plaka kapal kargo Nur Allya sehingga berpotensi menampung air bila cuaca sedang hujan. “Tentu becek dong, tapi itu namanya kurang kerjaan dan tidak mungkin,” tukas Simon bernada canda.

Pendapat Simon juga dikuatkan Budi Santoso dari Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (PERHAPI). Menurut Budi yang telah puluhan tahun berkecimpung di sektor pertambangan ini, likuefaksi tidak mungkin terjadi jika ore nikel berada di dalam kapal kargo Nur Allya. Sehingga, kata Budi, likuefaksi mustahil bisa menyebabkan Nur Allya bisa tenggelam atau menghilang.

“Likuefaksi bisa terjadi jika kapalnya memang berada di atas ore nikel yang dibawa. Ini kan ore nikelnya yang berada di dalam kapal, sehingga tidak mungkin menyebabkan kapal hilang,” ujar Budi kepada Bizlaw.id, Senin (27/1/2020).

Dipaparkan Budi, likuefaksi terhadap ore nikel di dalam kapal Nur Allya hanya bisa terjadi apabila kohesi tanah tidak ada (nol), dan tidak berlakunya hukum hidrodinamika. “Ini aneh kapal sebesar itu bisa hilang,” tukas dia.

Sebelumnya, berdasarkan investigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), MV Nur Allya diduga terbalik dan tenggelam karena proses likuefaksi ore nikel yang diangkutnya. Kapal buatan perusahaan Jepang Sanoyas Hishino Meiso Corp pada 2002 tersebut akhirnya dinyatakan kehilangan keseimbangan setelah ore nikel mengalami likuefaksi, yakni fenomena perubahan ore nikel mendadak ke bentuk cairan.

Baca Juga: Situasi Gawat Tanpa Panggilan Darurat

Menurut situs The Maritime Field, bijih nikel diperdagangkan dalam satuan wet metric tonne (wmt). Kandungan air pada setiap bijih nikel bisa mencapai sekitar 30 persen. Sehingga, dalam kargo bijih nikel seberat 55.000 wmt, sekitar 16.000 ton-nya adalah air.

Kandungan air bisa bertambah jika bijih tersebut terpapar hujan atau gelombang lautan. Untuk menghindari kemungkinan itulah bijih nikel biasanya dikapalkan pada musim panas.

Mengaitkan teori likuefaksi dengan kapal milik PT Gurita Lintas Samudera (GLS) ini memang kurang masuk akal. Mengingat kapal tersebut merupakan kapal kargo raksasa dengan kapasitas 52.400 dead weight tonnes (dwt). Kapal dengan panjang 190 meter dan lebar 32 meter ini bahkan mampu mengangkut beban hingga 52.400 ton. Sementara saat berlabuh dari Perairan Sagea, kapal Nur Allya yang dengan 25 ABK ini mengangkut ore nikel seberat 51.500 WMT (wet metrik ton).

 

Bersambung

Bakamla dalam kapasitasnya sebagai unsur keamanan dan penegakan hukum di laut sejauh ini telah berupaya keras mengungkap peristiwa misterius ini.
Misteri Hilangnya Kapal Kargo Nur Allya (5)

Bakamla dalam kapasitasnya sebagai unsur keamanan dan penegakan hukum di laut sejauh ini telah berupaya keras mengungkap peristiwa misterius ini.

Pardosi | Kamis, 30 Januari 2020 - 13:05 WIB

Badan Keamanan Laut (Bakamla) Republik Indonesia masih teguh pada kesimpulan sementara bahwa kapal kargo MV Nur Allya tidak tenggelam. Tentu saja, kesimpulan sementara tersebut diambil dengan tetap menjunjung asas praduga tak bersalah. Bakamla mendorong seluruh pihak terkait untuk bersama-sama mengungkap apa yang sebenarnya terjadi pada kapal kargo pengangkut nikel tersebut.

Bakamla kemudian mengirimkan surat permohonan kepada Menkopolhukam Mahfud MD agar peristiwa hilangnya Nur Allya tersebut bisa diusut tuntas. “Agar lebih intensif, kita berharap agar negara hadir di kasus ini,” tegas Kepala Unit Penindakan Hukum (UPH) Bakamla RI, Laksma Bakamla, Parimin Warsito dalam wawancara khusus dengan tim Bizlaw.id di kantornya, Jakarta, Kamis (30/1/2020).

Warsito yang berseragam khas Bakamla ini mengemukakan, fakta-fakta yang ditemukan terkait hilangnya Nur Allya seluruhnya masih mengundang tanda tanya besar. Penemuan sekoci dinilai belum bisa menguatkan bahwa kapal betul-betul tenggelam. “Sebab korban satu pun tidak ditemukan, barang-barang dari kapal seperti pakaian juga tidak ada, semisal mengambang di laut,” ujar Warsito.

Bakamla dalam kapasitasnya sebagai unsur keamanan dan penegakan hukum di laut sejauh ini telah berupaya keras mengungkap peristiwa misterius ini. Di antaranya dengan melacak seluruh nomor ponsel maupun akun media sosial milik Anak Buah Kapal (ABK). Seluruh data terkait ABK tersebut diperoleh Bakamla dari pihak perusahaan pemilik Nur Allya yakni PT Gurita Lintas Samudera (GLS).

Dari 25 ABK sesuai manifest, Bakamla kemudian menemukan 1 nomor ponsel yang masih aktif. “Awalnya semua nomor ponsel ABK tidak aktif. Tetapi ada satu yang tiba-tiba online, setelah ditelusuri dan dicari ketemulah di Bogor, Jawa Barat. Namun setelah dicek ternyata pemilik nomor itu adalah seorang pekerja bangunan. Pekerja itu mengaku tidak pernah kerja di kapal dan 10 tahun bekerja sebagai pekerja bangunan,” papar Warsito.

Selanjutnya, berdasarkan penelusuran Bakamla dibantu Bareskrim Polri, akun media sosial salah seorang kadet yang berstatus magang di kapal Nur Allya juga sempat online. Namun, hanya sebentar kemudian menghilang. “Ini kan menjadi tanda tanya bagi kita. Kok bisa begitu? Makanya kami juga kerja sama dengan Bareskrim, BIN, Bais, BSSN, hingga Interpol. Tujuannya untuk mencari tahu kepastian sebenarnya,” kata pria jebolan Akpol 1988 ini.

Dikatakan Warsito, pengusutan kasus ini hingga tuntas sangat penting mengingat ada 25 ABK (sesuai manifest) yang perlu dipastikan nasibnya. “Jadi ini bukan masalah kapal dan muatannya, tetapi ada 25 ABK di sana. Apakah betul tenggelam? Kalau betul posisinya di mana? Ini kan keluarga masih terus menunggu kepastian,” ujarnya.

Baca Juga: Aneh, Ore Nikel Mustahil Mengalami Likuefaksi

Menurut Warsito, berbagai teori kemungkinan atas hilangnya Nur Allya hingga kini masih terbuka lebar. Termasuk adanya motif bisnis dari pihak perusahaan. “Namun kita tetap berprinsip pada praduga tak bersalah. Sebab belum tentu juga pihak perusahaan terlibat. Bisa saja ada kemungkinan lain. Namun sampai saat ini kita masih menduga kuat bahwa kapal itu tidak tenggelam. Apalagi, nahkodanya sudah sangat berpengalaman menghadapi cuaca buruk atau kendala lain di lautan. Itu sebabnya seluruh stakeholder harus bersama-sama. Kami mendorong agar kasus ini bisa segera diusut sampai tuntas,” pungkas Warsito.

Sementara itu, seluruh keluarga korban hingga kini masih tetap menunggu bukti konkrit dari KNKT. “Bukti konkrit bahwa kapal tenggelam adalah dengan diturunkannya alat ROV untuk melihat secara visual. Keluarga juga menunggu hasil alat MBS yang katanya telah diturunkan tetapi hasilnya belum disampaikan kepada kami,” ujar Lia, salah seorang perwakilan korban kepada Bizlaw.id, Kamis (30/1/2020).

Diketahui, kapal MV Nur Allya dilaporkan hilang di perairan Halhamera sejak 23 Agustus 2019 lalu. Kapal berangkat dari pelabuhan muat PT Bakti Pertiwi Nusantara (BPN) di Perairan Sagea, Halmahera Tengah, Maluku Utara pada 21 Agustus 2019 dengan tujuan Morosi, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara. Jarak total Sagea ke Morosi adalah 688,63 NM (nautical mile). Adapun 1 NM sama dengan 1.852 meter.

Dengan kecepatan rata-rata 10 Knots, waktu tempuh Sagea ke Morosi adalah kurang lebih 3 hari, atau diperkirakan tiba di Morosi pada Jumat, 23 Agustus 2019 pada pukul 11.15 WIT. Namun kapal dengan panjang 190 meter dan lebar 32 meter ini tidak pernah tiba di Morosi.