PLN kalang kabut akibat padamnya listrik ini. Betapa tidak, blackout dari Jawa hingga Bali terakhir kali terjadi 22 tahun silam
Listrik Pulau Jawa Padam, Ada Sabotase atau Ulah Pohon?

PLN kalang kabut akibat padamnya listrik ini. Betapa tidak, blackout dari Jawa hingga Bali terakhir kali terjadi 22 tahun silam

Arry Anggadha | Selasa, 06 Agustus 2019 - 14:35 WIB

Listrik padam massal pada Minggu 4 Agustus 2019 mulai pukul 11.45 WIB. Pemadaman listrik massal ini terjadi di sebagian besar wilayah Pulau Jawa seperti Banten, Jakarta, Jawa Barat, hingga Jawa Tengah dan Jawa Timur.

PLN menyatakan penyebab blackout adanya gangguan transmisi SUTET 500 kV Ungaran dan Pemalang. SUTET Ungaran-Pemalang mengaliri listrik dari pembangkit dari timur Jawa. Selain dari timur Jawa, pasokan listrik di Jawa bagian Barat berasal dari pembangkit Suralaya, Cilegon, dan Muara Karang.

Direktur Pengadaan Strategis 2 Djoko Raharjo Abumanan mengatakan gangguan transmisi terjadi karena kelebihan beban listrik khususnya di Jakarta, Bekasi, dan Banten. Logikanya sama seperti listrik 'jetrek' di rumah.

Gangguan pada SUTET di dua tempat itu menyebabkan transfer listrik dari timur ke barat Pulau Jawa mengalami kegagalan. Kegagalan ini pada akhirnya menyebabkan gangguan di seluruh pembangkit di sisi tengah dan barat Pulau Jawa.

"Di beban ini kawatnya langsung turun tegangannya. Kalau dia turun, pembangkit-pembangkit di sisi barat langsung kolaps semua karena dia tidak seimbang," kata Djoko.

Efeknya langsung terasa pada pukul 11.45 detik ke-27 di Brebes. Tiga menit kemudian, tepatnya pada 11.48 detik ke-11, penurunan tegangan terjadi dan menyebabkan jaringan listrik di Depok-Tasikmalaya terganggu. Inilah awal dari pemadaman di sistem Jawa Barat, Banten, dan Jakarta.

PLN berupaya listrik kembali normal dengan mengoperasikan PLTA Saguling dan PLTA Cirata pada pukul 16.27 WIB. Selain sebagai penstabil daya, dua PLTA ini juga bertugas mengirim listrik, dari Gardu Induk Tegangan Extra Tinggi (GITET) Cibinong, Depok, Gandul, Lengkong, Balaraja dan juga Suralaya.

Baca Juga: Mengenal PLTU Suralaya dan Pentingnya Pembangkit ini Bagi Listrik Jawa-Bali

PLTU Suralaya beroperasi secara bertahap. Setelah itu listrik di Jabar dan Banten berangsur normal, dihitung dalam tempo enam jam sejak 17.30. Tegangan dari GITET juga dialirkan ke pembangkit Muara Karang. Pembangkit ini membuat listrik di DKI Jakarta kembali normal dalam tempo tiga jam.

Itu artinya, warga tak menikmati listrik setidaknya 10 jam, dan banyak yang lebih lama dari itu.

Di beberapa daerah seperti Depok II Timur, listrik baru hidup pukul dua dini hari. Bahkan di Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, listrik belum juga hidup Senin pukul 10.30 lebih.

Dampak Listrik Padam

Padamnya listrik ini mengganggu aktivitas masyarakat. Terutamanya sistem berbasis digital. Baca Juga: Listrik Padam se-Jawa-Bali, Kerugian Ditaksir Triliunan Rupiah

Moda transportasi umum seperti ojek online, KRL, dan MRT lumpuh sejak listrik mati pukul 11.45 WIB. Penumpangnya dievakuasi secepat mungkin. Akibatnya, penumpang pun membeludak di beberapa stasiun.

Banyak yang duduk-duduk menunggu listrik menyala, berusaha mencari sinyal untuk memesan ojek online, bahkan tak jadi bepergian. Tak hanya itu, matinya listrik juga membuat ekonomi digital terasa lumpuh.

Sejak Minggu siang, banyak minimarket, UKM yang mengandalkan listrik dan pembayaran digital, restoran, dan pedagang pinggir jalan tutup sementara maupun tutup seharian. Bahkan, pom bensin seperti Pertamina terlihat gelap di beberapa wilayah. Mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM) perbankan yang sepenuhnya mengandalkan listrik tak bisa beroperasi. Warga yang tak membawa uang tunai pun kelimpungan.

Investigasi Dugaan Sabotase

PLN kalang kabut akibat padamnya listrik ini. Betapa tidak, blackout dari Jawa hingga Bali terakhir kali terjadi 22 tahun silam, saat infrastruktur jauh lebih usang ketimbang saat ini. Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama PLN Sripeni Inten Cahyani, yang baru tiga hari menjabat, kena semprot Presiden Jokowi akibat kejadian ini.  Baca Juga: Listrik Padam 4 Agustus 2019 Terparah Sejak 2005

Sripeni berjanji akan menginvestigasi kasus ini. Dia menjamin investigasi bakal digelar oleh tim independen sehingga perbaikan akan kerusakan yang terjadi benar-benar signifikan.

Baca Juga: Listrik Jawa-Bali Padam Seharian, Jokowi Semprot Bos PLN

Tidak ada waktu pasti kapan investigasi tersebut harus rampung. Sripeni hanya berharap setidaknya dalam rentang satu hingga tiga bulan ke depan pihaknya sudah memiliki gambaran yang komprehensif terkait penyebab pemadaman massal ini.

Analis keamanan dan intelijen Ridlwan Habib menilai ada kejanggalan dari peristiwa listrik padam tresebut. “Apakah sistem dalam operasi di Ungaran itu dilakukan serangan hacking? Apakah hanya karena human error?” kata Analis keamanan dan intelijen Ridlwan Habib.

Ridlwan melihat kejanggalan itu muncul lantaran gangguan tak hanya terjadi di transmisi Ungaran-Pemalang, tapi juga di pembangkitnya yaitu PLTU Suralaya. Dua kejadian simultan dan serentak ini.

"Nah, jika gangguan ini adalah hacking, serangan itu bisa dilakukan dengan berbagai macam cara. Hacker bisa meretas sistem operasi aplikasi PLN, seperti aplikasi pengatur suhu, pengatur tekanan, hingga aplikasi perpindahan jaringan sehingga dapat mengganggu sirkuit," jelasnya.

Ridlwan mencontohkan seorang hacker Rusia yang meretas sistem Amerika Serikat. Para hacker melakukan hacking ke pejabat atau petugas transmisi listrik dan dapat masuk ke email, telepon genggam, sehingga perangkat digital terkuasai oleh hacker.

“Kemudian mendapatkan pola kerja, interaksi, bagaimana seseorang berhubungan dengan yang lain. Dari situ mendapatkan akses untuk membuka sistem yang memakai kunci, password, username yang khusus sehingga dia masuknya nyerang lewat personelnya,” kata Ridlwan.

Baca Juga: Kejanggalan Listrik Jawa Padam Versi Intelijen

Menurut dia, PLN harus segera melakukan investigasi untuk mencari penyebabnya, khususnya mewaspadai kemungkinan adanya serangan siber terorisme di infrastruktur listrik.

“Jadi jika ini serangan, Indonesia sangat vulnerable. Semoga saja ini hanya human error, tapi saya enggak yakin human error,” katanya.

Markas Kepolisian Indonesia pun mengusut adanya dugaan sabotase tersebut. Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo mengatakan Bareskrim Polri tengah menyelidiki penyebab terjadinya padam listrik.

"Masih didalami. Dicari dulu penyebabnya. Bisa jadi karena gangguan teknis, atau ada human error atau karena gangguan lain," kata Brigjen Dedi.   

"Kerusakan, diduga sementara adanya pohon yang ketinggiannya melebihi batas ROW (right of way) sehingga mengakibatkan flash atau lompatan listrik," ucapnya.

Oleh sebab itu, berdasarkan dugaan sementara polisi, listrik padam disebakan faktor alam dan teknis. Polisi hingga saat ini menilai bukan faktor kesalahan manusia maupun dugaan sabotase yang menyebabkan padamnya listrik.

Menurut dia, dalam penyelidikan ini, Polri sudah membentuk tim investigasi yang dipimpin oleh Direktur Tindak Pidana Tertentu Bareskrim Polri. Tim investigasi ini akan bekerja sama dengan PLN.

Pihaknya belum bisa memastikan berapa lama waktu yang dibutuhkan dalam investigasi ini.  "Sangat tergantung pada tim di lapangan. Dugaan sementara karena ada gangguan di jalur sutet di Jateng, antara Pemalang dan Semarang," katanya.

Rentan Listrik Padam

Dugaan sabotase itu sedikit terbantah. Guru Besar Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung (ITB), Profesor Pekik Argo Damono, mengungkapkan DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten memang rentan mengalami listrik padam. Sebabnya, sistem pertahanan pembangkit listrik yang lemah sekalipun di kawasan itu juga memiliki cukup banyak industri.

"Betul (rentan). Kalau sumbangan listrik dari timur sudah habis, tidak ada pilihan lain selain mati (listrik)," kata Pekik.

Pekik menjelaskan Jakarta dan wilayah Jawa bagian barat memang masih bergantung pada pembangkit listrik yang ada di bagian timur. Sehingga, ketika di wilayah timur kehilangan daya, wilayah barat rentan mengalami trip (terputus).

Untuk mengatasi mudahnya suatu wilayah terkena trip, ia berpendapat bahwa setiap daerah seharusnya mempunyai pembangkit listrik yang cukup besar untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang besar pula pada listrik. Ini berlaku pula untuk Jawa Bagian Barat. "Jadi tidak terus-terusan bergantung pada timur yang sudah terjadi selama sekitar 20 tahun ini," ujarnya.

Pekik menjelaskan kalau selama ini ada dua PLTA di barat yakni Saguling dan Cirata yang berfungsi sebagai penstabil daya dan tegangan sekaligus untuk mengirimkan pasokan listrik dari timur ke barat. Ia memprediksi, selain karena kurangnya daya, kedua PLTA itu terganggu disebabkan saat ini sedang musim kemarau sehingga kesulitan air.

"Mungkin sistem pertahanan bagian barat perlu diperbaiki sehingga kalau ada gangguan dari timur bisa dengan baik memilih beban mana yang dilepas supaya industri tidak ikut mati," kata pria yang juga dosen Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) ITB itu. 

Jokowi meminta PLN segera menyelesaikan gangguan listrik ini secepatnya.
Listrik Jawa-Bali Padam Seharian, Jokowi Semprot Bos PLN

Jokowi meminta PLN segera menyelesaikan gangguan listrik ini secepatnya.

Erwan Wahyudi | Senin, 05 Agustus 2019 - 12:06 WIB

Presiden Joko Widodo mendatangi kantor PLN. Kedatangan orang nomor satu Indonesia ini untuk menanyakan padamnya listrik se-Jawa hingga Bali pada Minggu 4 Agustus kemarin.

"Pagi hari ini saya datang ke PLN mau mendengar langsung peristiwa pemadaman total minggu kemarin dan dalam sebuah manejemen besar PLN mestinya ada tata kelola risiko-risiko yang dihadapi dengan manajemen besar," kata Jokowi di kantor pusat PLN, Jakarta Selatan, Senin (5/8/2019).

Dalam pertemuan itu, Jokowi heran kenapa PLN tidak bisa bergerak cepat. Padahal kejadian seperti ini pernah terjadi belasan tahun lalu.

"Tentu saja ada contingency plan, back up plan. Pertanyaan saya kenapa tidak bekerja dengan cepat. Saya tahu pernah kejadian 17 tahun lalu Jawa-Bali, harusnya itu bisa jadi pelajaran agar kejadian kembali lagi. Kita tahu ini tidak hanya merusak reputasi PLN tapi banyak juga hal di luar PLN yang dirugikan," katanya.

Baca Juga: Listrik Padam 4 Agustus 2019 Terparah Sejak 2005

Beberapa transportasi umum juga terdampak akibat padamnya listrik kemarin. Contoh saja MRT Jakarta dan KRL. "Misalnya MRT, sebab itu saya ingin disampaikan yang simpel," ujar Jokowi.

"Pertanyaan saya bapak ibu semuanya ini kan orang pinter-pinter. apalagi urusan listrik dan sudah bertahun-tahun. Apakah tidak dihitung, apakah tidak dikalkukasi kalau akan ada kejadian-kejadian, sehingga kita tahu sebelumnya," kata Jokowi.

Jokowi mengindikasikan kejadian listrik yang padam kemarin karena ada perhitungan yang kurang pas. Dengan begitu banyak pihak yang terkena imbasnya. "Kok tahu-tahu drop itu? Artinya pekerjaan yang ada tidak dihitung tidak dikalkulasi. Dan itu betul-betul merugikan kira semuanya," ujarnya.

Jokowi pun meminta PLN segera menyelesaikan gangguan listrik ini secepatnya. "Yang paling penting saya minta perbaiki secepat-cepatnya, yang memang dari beberapa wilayah yang belum hidup segera dikejar dengan cara apapun agar segera bisa hidup kembali," tegas Jokowi.

Lebih lanjut Jokowi tak ingin gangguan listrik massal seperti ini terulang kembali. "Kemudian hal-hal yang menyebabkan peristiwa besar terjadi sekali lagi saya ulang jangan sampai keulang kembali. Itu saja permintaan saya. Oke marilah terima kasih," ungkap Jokowi.

Mendengar keluhan Jokowi, Plt Direktur Utama PT PLN Sripeni Inten Cahyani mengaku, perusahaan yang dipimpinnya masih lamban menangani kasus pemadaman listrik yang terjadi.

"Kami memang mohon maaf Pak (Jokowi) prosesnya (pemulihan listrik) lambat, kami akui Pak," kata Sripeni.

Mengenai kalkulasi, Sripeni menjelaskan, "Kami memiliki ketentuan, Bapak (Presiden Jokowi), N minus 1 kemudian paling emergency N minus 1 minus 1."

Sripeni memberi penjelasan mengenai gangguan teknis yang mengakibatkan pemadaman massal tersebut.

"N itu adalah jumlah sirkuit, bapak, di dalam sistem yang memasok yaitu Utara dan Selatan itu ada 2 Sirkuit di Utara dan 2 sirkuit di Selatan. Jumlahnya 4, kemudian 2 hilang secara tiba tiba jadi menjadi N minus 2, kemudian satu itu sudah ada pemeliharaan artinya pemeliharaan yang dibolehkan hanya 1 line, yaitu di Selatan," jelasnya.

Sripeni mengakui bahwa pihaknya tak mengantisipasi gangguan tersebut secara sekaligus. Dia pun mengatakan PLN masih terus melakukan investigasi terkait masalah tersebut.

"Ini yang tidak kami antisipasi adalah terjadinya gangguan dua sirkuit sekaligus memang ini secara teknologi akan kami investigasi lebih lanjut Bapak, berkaitan dengan gangguan di satu tempat tersebut mudah2an dari sisi keteknisan," tuturnya.

Padahal PLN merupakan BUMN yang berada di bawah kementerian yang dipimpin Rini Soemarno.
Menteri BUMN Rini Soemarno Tak Tampak Saat Presiden Jokowi Datangi PLN, Kemana Dia?

Padahal PLN merupakan BUMN yang berada di bawah kementerian yang dipimpin Rini Soemarno.

Nikolaus Siswa | Selasa, 06 Agustus 2019 - 08:01 WIB

Padamnya listrik massal di Jakarta, Banten, Jawa Barat, hingga Jawa Tengah pada Minggu (4/8) membuat Presiden Joko Widodo kesal. Dia pun langsung mendatangi Kantor PLN pada Senin (5/8).

Saat datang ke Kantor PLN di Jl Trunojoyo, Jakarta, Presiden Jokowi didampingi Menteri ESDM Ignasius Jonan, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, dan Sekretaris Kabinet Pramono Anung. Namun, Menteri BUMN Rini Soemarno tidak hadir dalam pertemuan itu.

Padahal PLN merupakan BUMN yang berada di bawah kementerian yang dipimpin Rini Soemarno. Kemana Rini Soemarno?

Teka teki absennya Rini dijawab Deputi Bidang Usaha Energi, Logistik, Kawasan dan Pariwisata Kementerian BUMN, Edwin Hidayat Abdullah. Menurutnya, Rini sudah meninggalkan Tanah Air sejak Minggu (4/8) untuk melaksanakan ibadah haji.

"Iya (Menteri BUMN lagi naik haji) sudah dari minggu lalu," kata Edwin.

Sementara Staf Khusus Menteri BUMN, Wianda Poesponegoro, juga sudah berpamitan untuk melaksanakan ibadah haji. "Dear rekan-rekan media yang terhormat. Insha Allah kami akan melakukan ibadah haji pada pekan ini. Mohon dimaafkan segala kesalahan juga kekhilafan. Serta mohon doa agar perjalanan kami dapat dilancarkan juga dimudahkan," tulisnya melalui aplikasi pesan instan WhatsApp.

Rencananya Rini akan kembali pada hari Idul Adha.

Turut mendampingi Rini ke Tanah Suci yakni Sekretaris Kementerian BUMN, Imam Apriyanto Putro; Deputi Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis dan Media, Fajar Harry Sampurno; dan Staf Khusus Menteri BUMN, Wianda Poesponegoro.

Selain itu, ikut juga sejumlah direktur utama (Dirut) BUMN, seperti Dirut Bank BNI Achmad Baequni, Dirut Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo, Dirut Inalum Budi Gunadi Sadikin, Dirut Pertamina Nicke Widyawati, dan sejumlah bos BUMN lainnya.

Di sejumlah negara, padamnya listrik ini membawa dampak bagi karir pejabat terkait
4 Menteri Ini Mundur Gara-gara Listrik Padam

Di sejumlah negara, padamnya listrik ini membawa dampak bagi karir pejabat terkait

Erwan Wahyudi | Selasa, 06 Agustus 2019 - 10:09 WIB

Padamnya listrik di Banten, Jakarta, Jawa Barat, hingga Jawa Tengah pada Minggu 4 Agustus 2019 membuat masyarakat resah. Padamnya listrik ini membuat sebagian besar Jawa lumpuh karena berdampak pada siste transportasi hingga komunikasi.

Kejadian matinya listrik secara massal itu bukan kali pertama terjadi di Indonesia. Pada 2005, listrik di Jawa juga pernah mati. Namun hanya berlangsung selama tiga jam.

Baca Juga: Listrik Padam 4 Agustus 2019 Terparah Sejak 2005

Di sejumlah negara, padamnya listrik ini membawa dampak bagi karir pejabat terkait. Bahkan mereka harus mundur dari jabatannya.

Berikut menteri-menteri yang mundur gara-gara listrik padam:

1. Menteri Ekonomi Taiwan, Lee Chih-kung

Dikutip dari asia.nikkei.com, Senin, Lee melepaskan jabatannya pada Selasa malam, 16 Agustus 2017 atau persis setelah listrik padam besar-besaran sehingga berdampak pada 13 juta rumah tangga di penjuru Taiwan. Perusahaan raksasa seperti pembuat chip iPhone dan Advanced Semiconductor Engineering juga terdampak akibat pemadaman listrik ini.

Pemadaman listrik muncul ketika perusahaan minyak milik negara CPC mengalami sejumlah gangguan saat menggantikan suplai listrik pada sebuah sistem pengiriman gas alam ke sebuah Pembangkit Listrik milik negara. Listrik padam secara bergiliran telah membuat jutaan masyarakat Taiwan tak bisa menggunakan akses energi selama masalah ini diperbaiki.

Lee, pejabat senior di CPC dan Taiwan Power telah meminta maaf atas hal ini kepada masyarakat atas kejadian ini atau sebelum Lee mengumumkan pengunduran dirinya.


2. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Turki, Taner Yldz

Pada 6 April 2015, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Turki, Taner Yldz, mengumumkan pengunduran diri setelah sepekan sebelumnya terjadi pemadaman listrik secara nasional di negara itu. Yldz menyebut listrik padam karena ada error pada jaringan lisrik dan mismanagemen atau salah kelola.

Dikutip dari dailysabah.com, misteri listrik padam secara nasional secara bergiliran telah membuat jutaan masyarakat Turki hidup tanpa listrik selama berjam-jam. Transportasi umum seperti metro dan tram di ibu kota Ankara dan Istanbul, terhenti.

Kerja lampu lalu lintas pun berhenti, beberapa orang terjebak di dalam lift akibat listrik padam. Beberapa pabrik terpaksa menghentikan produksi karena tidak cukup pasokan listrik. Jaringan telepon juga mengalami gangguan.  


3. Menteri Ekonomi Korea Selatan, Choi Joong-kyung

Sementara itu, pada 2011, Menteri Ekonomi Korea Selatan (Korsel) Choi Joong-kyung mundur seusai peristiwa pemadaman listrik nasional. Seperti dilansir Korea Times, Choi merasa bertanggung jawab atas peristiwa tersebut.

Dalam hal ini, Choi memang merasa dia salah hitung ketika melakukan kalkulasi untuk cadangan listrik di Korsel. Berdasarkan penyelidikan, memang ada salah perhitungan yang menyebabkan pemadaman listrik besar-besaran, hingga membuat lebih dari dua juta rumah di seluruh negara padam.


4. Menteri Kelistrikan Irak, Karim Waheed

Menteri Kelistrikan Irak Karim Waheed mengundurkan diri pada 2010. Seperti yang dilansir BBC, Karim mundur akibat gelombang protes masyarakat Irak yang tak puas atas layanan listrik di Irak.

Irak diketahui saat itu memang sedang kekurangan listrik. Karim Waheed sendiri mengatakan rakyat Irak tidak sabar dengan kondisi saat itu. Ditambah lagi, menurut menteri yang menjabat sejak 2006 ini, dana untuk membangun infrastruktur pembangkit listrik memang kurang.

"Karena rakyat Irak tidak mampu bersabar dalam penderitaan mereka, yang akan diringankan oleh proyek yang saya sebutkan yang akan menghilangkan kekurangan listrik, dan karena masalah ini telah dipolitisasi di semua sisi, saya menyatakan di depan Anda dengan berani pengunduran diri saya," katanya dalam pidato yang disiarkan televisi.

PLN sedang melakukan pendataan. Nantinya, kompensasi itu berupa pengurangan tagihan listrik selanjutnya.
PLN Akan Berikan Kompensasi Bagi Pelanggan yang Listriknya Mati, Berapa Besarannya?

PLN sedang melakukan pendataan. Nantinya, kompensasi itu berupa pengurangan tagihan listrik selanjutnya.

Alexander Setiyadi | Senin, 05 Agustus 2019 - 13:08 WIB

PT PLN (Persero) berjanji akan memberikan kompensasi kepada pelanggan yang terkena pemadaman listrik massal pada Minggu (4/8) kemarin. Saat ini, PLN mulai mengumpulkan data pelanggan tersebut.

"Mengenai kompensasi kepada masyarakat sudah ada aturannya Permen ESDM dan PLN melaksanakan hal tersebut. Sudah ada aturannya jelas dari UU turun kepada Permen. Permen 2017, khususnya Pasal 6 yang mengatakan sudah ada formulasinya tinggal kita ikuti saja," kata Plt Direktur Utama PLN Sripeni Inten Cahyani di Jakarta, Senin (5/8/2019).

Sripeni mengatakan, kompensasi itu berupa potongan harga atau gratis untuk beberapa waktu tertentu. "Kalau gratis ada hitung-hitungannya, kan sekian jam, sekian kWh, berkisar sekian hari digratiskan 2 atau 3 hari misalnya, tergantung dari kelompok-kelompoknya, di lokasi ini berapa jam tidak dialiri listrik dari PLN, begitu kira-kira," ujarnya.

Menurut Sripeni, PLN sedang melakukan pendataan. Nantinya, kompensasi itu berupa pengurangan tagihan listrik selanjutnya.

"Saat ini PLN melakukan pengumpulan data, pelanggan-pelanggan area mana terdampak, area terdampak ini kemudian diperhitungkan, diformulasikan kemudian jadi pengurang tagihan berikutnya," ujarnya.

Sripeni mengungkapkan kompensasi akan diberikan sebesar 35% dari biaya beban atau rekening minimum untuk konsumen golongan tarif adjustment, dan sebesar 20% dari biaya beban atau rekening minimum untuk konsumen pada golongan tarif yang tidak dikenakan penyesuaian tarif tenaga listrik (Non Adjustment).

Penerapan ini diberlakukan untuk rekening bulan berikutnya.

Khusus untuk prabayar, pengurangan tagihan disetarakan dengan pengurangan tagihan untuk tarif listrik reguler. Pemberian kompensasi akan diberikan pada saat pelanggan membeli token berikutnya (prabayar). Saat ini PLN sedang menghitung besaran kompensasi yang akan diberikan kepada konsumen.

Sripeni sebelumnya menjelaskan, putusnya aliran listrik disebabkan oleh gangguan pada jalur transmisi Ungaran dan Pemalang 500 kV, di Jawa Tengah, yang mengakibatkan kegagalan pasok energi dari timur ke barat Jawa, termasuk Jakarta, Jawa Barat, dan Banten.

Padamnya listrik kali ini mencakup wilayah-wilayah yang secara keseluruhan didiami oleh lebih dari 100 juta warga.

Sripeni menjelaskan padamnya listrik di Jakarta, Banten, dan Jawa Barat disebabkan oleh gangguan pada Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) Pemalang, yakni di sirkuit 1 dan sirkuit 2. Akibatnya, kata dia, terjadi penurunan tegangan pada pukul 11:45 WIB.

"Inilah merupakan awal dari terjadinya pemadaman di sistem Jawa Barat, Banten, dan Jakarta," ujarnya dalam jumpa pers di salah satu kantor PLN di Cinere, Depok, pada Minggu sore.

Sebelumnya, pejabat PLN, I Made Suprateka, mengatakan melalui keterangan tertulis bahwa bahwa Gas Turbin 1 sampai dengan 6 di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Suralaya mengalami gangguan atau trip, sementara Gas Turbin 7 di fasilitas tersebut dalam posisi mati.

Pembangkit Listrik Tenaga Gas Turbin Cilegon juga mengalami gangguan.

PLN mengatakan tengah menyelidiki penyebab gangguan tersebut dengan melibatkan lembaga independen. Proses investigasi akan berlangsung selama tiga bulan.

Sripeni mengatakan PLN melakukan pemulihan listrik dengan menyalurkan pasokan dari wilayah Timur dan mulai proses pemulihan sejak pukul 16.27 WIB.

Dengan begitu, ia memperkirakan listrik di DKI Jakarta bisa betul-betul pulih tiga jam.

Sementara untuk Banten dan Jawa Barat, kira-kira akan normal empat jam. "Mudah-mudahan dan tidak lewat dari pukul 00.00 WIB," ujarnya.