Berdasarkan Statistik Utang Luar Negeri Indonesia, tercatat ada lima negara yang memberikan utang terbanyak untuk Indonesia.

Bank Indonesia (BI) merilis utang luar negeri Indonesia mencapai US$388,7 miliar hingga akhir Februari 2019. Jumlah ini naik US$4,8 miliar (setara Rp67,5 triliun) jika dibandingkan dengan posisi pada akhir periode sebelumnya.

Posisi utang luar negeri Indonesia itu terdiri dari utang pemerintah dan bank sentral sebesar US$193,8 miliar, serta utang swasta termasuk BUMN sebesar US$194,9 miliar.

Berdasarkan Statistik Utang Luar Negeri Indonesia, tercatat ada lima negara yang memberikan utang terbanyak untuk Indonesia. Lima negara itu adalah Singapura, Jepang, Amerika Serikat, China, dan Hong Kong.

Singapura tercatat memberikan utang sebesar US$64,064 miliar. Kemudian Jepang memberikan utang US$29,91 miliar, Amerika Serikat sebesar US$ 21,237 miliar, China sebesar US$17,745 miliar, dan Hong Kong sebesar US$14,044 miliar.

BI mencatat, utang luar negeri Indonesia tumbuh 8,8 persen pertahun pada akhir Februari. Angka ini meningkat pada bulan sebelumnya yang hanya 7,2 persen (yoy).

Peningkatan pertumbuhan utang luar negeri tersebut terutama bersumber dari pertumbuhan utang luar negeri pemerintah.

Utang luar negeri pemerintah, katanya, meningkat pada Februari 2019 untuk membiayai sektor-sektor yang produktif. Posisi utang luar negeri pemerintah pada Februari 2019 sebesar US$190,8 miliar atau tumbuh 7,3 persen (yoy), meningkat dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 3,9 persen (yoy).

Pertumbuhan utang luar negeri pemerintah tersebut terutama dipengaruhi oleh arus masuk dana investor asing di pasar SBN domestik selama Februari 2019, yang menunjukkan peningkatan kepercayaan investor asing terhadap perekonomian Indonesia.

Selain itu, pada Februari 2019 pemerintah juga menerbitkan Global Sukuk, untuk mendukung pembiayaan fiskal dalam kerangka Green Bond dan Green Sukuk.

Masuknya aliran dana utang luar negeri kepada pemerintah memberikan kesempatan lebih besar bagi pembiayaan belanja negara dan investasi pemerintah.

Sektor-sektor prioritas yang dibiayai melalui utang luar negeri pemerintah merupakan sektor-sektor produktif yang mendukung pertumbuhan ekonomi serta peningkatan kesejahteraan masyarakat, antara lain sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial, sektor konstruksi, sektor jasa pendidikan, sektor administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib, serta sektor jasa keuangan dan asuransi.

Sementara itu, kata BI, posisi utang luar negeri swasta pada Februari 2019 sebesar US$1,3 miliar atau tumbuh sebesar 10,8 persen (yoy), relatif stabil dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya.

Utang luar negeri swasta sebagian besar dimiliki oleh sektor jasa keuangan dan asuransi, sektor industri pengolahan, sektor pengadaan listrik, gas, uap/air panas (LGA), serta sektor pertambangan dan penggalian. Pangsa utang luar negeri di keempat sektor tersebut terhadap total utang luar negeri swasta mencapai 74,2 persen.

BI dan Pemerintah terus berkoordinasi untuk memantau perkembangan utang luar negeri dan mengoptimalkan perannya dalam mendukung pembiayaan pembangunan dengan meminimalisasi risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian, kata BI.