Berakhirnya indeks bursa saham Asia di zona mixed semakin membuat IHSG kesulitan mencetak kenaikan tajam.

Sesi perdagangan saham awal pekan ini, Senin (15/4) akhirnya ditutup dengan gerak naik indeks harga saham gabungan (IHSG) di bursa efek Jakarta. Kenaikan IHGSG terlihat diiringi dengan gerak mixed indeks di bursa saham utama Asia. Sebelumnya dipekirakan, investor Asia yang akan melakukan tekanan beli dengan cukup intens menyusul berakhirnya indeks Wall Street dengan kenaikan tajam di sesi akhir pekan lalu.

Sentimen dari rilis data perdagangan China yang megejutkan nampaknya telah membuat investor di Asia menila telah terapresiasi oleh kenaikan di sesi akhir pekan lalu. Bursa Asia akhirnya menutup sesi kali ini dengan gerak mixed. Hingga sesi perdagangan berakhir, indeks Nikkei (Jepang) menguat 1,37% untuk menetap di 22.169,11, indeks Hang Seng (Hong Kong) mnerosot 0,33% untuk terhenti di posisi 29.810,72, sementara indeks KOSPI (korea Selatan) menguat 0,42% untuk menutup sesi di 2.242,88, serta indeks ASX 200 (Australia) yang akhirnya mampu bertahan dengan gerak flat untuk berakhir di kisaran 6.251,4.  

Secara keseluruhan, jalannya sesi perdagangan memperlihatkan sikap optimis investor yang bertahan, namun masih membutuhkan sentimen lain untuk mengangkat posisi indeks lebih tinggi.  Hal yang agak berbeda terjadi pada IHSG di Jakarta, di mana gerak IHSG terlihat konsisten menapaak penguatan terbatas di sepanjang sesi perdagangan kali ini. IHSG kemudian menutup sesi dengan  menguat moderat 0,45% untuk berakhir di kisaran 6.435,15. Sentimen yang menjadi perhatian di bursa saham Indonesia terlihat masih bergulat dengan penantian investor pada gelaran pemilihan umum Rabu lusa.  Namun secara keseluruhan, sikap optimis masih terlihat. Investor sekedar ingin memastikan bahwa jalannya pemilihan umum berlangsung dengan lancar.

Beralih pada laporan dari pasar valuta, gerak nilai tukar mata uang Rupiah terpantau kukuh memimpin penguatan di antara mata uang Asia. Secara keseluruhan, mata uang Asia terpantau mampu menginjak zonapenguatan dalam rentang yang bervariasi. Laporan terkini menunjukkan, mata uang Asia hanya menyisakan Rupee India, Dolar Singapura, serta Yuan China yang bergelut di zona pelemahan terbatas. Selebihnya mata uang ASia terpantau menguat dengan dipimpin oleh Rupiah. Terkini, Rupiah telah menguat 0,64% dengan ditransaksikan di kisaran Rp14.062 per Dolar AS. Dalam tinjauan teknikal sebelumnya disebutkan, pola gerak nilai tukar Rupiah yang telah di ambang pembentukan tren penguatan jangka menengah.