Nama Siesa ini mencuat saat KPK melakukan operasi tangkap tangan (OTT) terhadap Bowo Sidik

Komisi Pemberantasan Korupsi memeriksa Siesa Darubinta. Dia akan dimintai keteranga terkait kasus suap yang menjerat anggota Komisi VI DPR dari Fraksi Golkar, Bowo Sidik Pangarso.

Siesa sudah tiba di KPK sejak pukul 10.30 WIB, Senin (15/4/2019). Tak ada keterangan yang disampaikan Siesa saat tiba di Gedung KPK, Jakarta. Dia langsung masuk ke lobi dan duduk di kursi yang disediakan sebelum naik ke ruang pemeriksaan di lantai 2.

Siesa sebenarnya sudah dipanggil pada Jumat (12/4). Namun, saat itu wanita cantik ini tidak hadir.

Siapa Siesa Darubinta dan apa kaitannya dengan kasus suap Bowo Sidik?

Nama Siesa ini mencuat saat KPK melakukan operasi tangkap tangan (OTT) terhadap Bowo Sidik pada (27/3). Saat itu tim KPK tengah mengincar Bowo Sidik yang berada di sebuah apartemen di Permata Hijau. Namun Bowo kabur saat KPK hendak menangkapnya.

KPK justru mengamankan Siesa yang tengah berada di apartemen tersebut. Dia diamankan bersama dengan sopir Bowo.

Bowo Sidik ditetapkan sebagai tersangka terkait kasus suap penyediaan kapal pengangkut distribusi pupuk. Selain Bowo, KPK juga menetapkan seseorang bernama Indung dan Marketing Manager PT Humpuss Transportasi Kimia (HTK) Asty Winasti sebagai tersangka. Bowo dan Indung diduga sebagai penerima, sedangkan Asty sebagai tersangka pemberi suap.

Bowo diduga menerima suap dari Asty terkait upaya membantu PT HTK sebagai penyedia kapal pengangkut distribusi pupuk. Awalnya PT HTK memiliki kerja sama dengan PT Pupuk Indonesia Logistik (Pilog) untuk urusan distribusi pupuk, tapi kemudian perjanjian dihentikan.

PT HTK kemudian meminta bantuan Bowo agar perjanjian itu berlanjut. Bowo pun meminta imbalan sebesar USD 2 per metrik ton.

KPK menduga Bowo sudah menerima 7 kali suap dari Asty. Uang Rp89,4 juta yang diterima Bowo melalui Indung saat OTT diduga sebagai penerimaan ketujuh dengan 6 penerimaan sebelumnya disebut KPK sebesar Rp221 juta dan US$85.130 atau sekitar Rp 1,5 miliar.

Selain penerimaan uang dari PT HTK terkait distribusi pupuk itu, KPK mengatakan ada dugaan penerimaan lain yang terkait dengan jabatan Bowo sebagai anggota Komisi VI DPR sehingga total dugaan suap dan gratifikasi yang diterima Bowo berjumlah Rp 1,6 miliar dari PT HTK dan Rp 6,5 miliar dari pihak lainnya alias Rp8 miliar yang kemudian dimasukkan ke 400 ribu amplop yang diduga untuk serangan fajar Pemilu 2019.