Umumnya para pilot melaporkan masalah terjadi saat autopilot diaktifkan, tak lama setelah lepas landas. Mirip yang dialami Ethiopian dan Lion Air

AMERIKA Serikat, negara asal Boieng, akhirnya memutuskan mengandangkan seluruh pesawat Boeing 737 MAX menyusul sejumlah negara lain yang sudah duluan melakukannya. Keputusan itu menyusul jatuhnya pesawat jenis itu yang dipakai oleh maskapai Ethiopian Airlines dan Lion Air. 

Rupanya, laporan terbaru menyebutkan para pilot di Amerika Serikat sudah lima kali melaporkan adanya masalah di Boeing 737 MAX 8 sejak akhir tahun lalu.

Kantor berita AFP melaporkan, laporan para pilot itu didapat dari dari pengkajian pada database insiden milik Otoritas Penerbangan Federal (FAA). Sistem ini membuat para pilot bisa langsung melaporkan masalah yang  dialami saat penerbangan. Identitas maupun maskapai sang pilot tidak diungkap. 

Laporan itu menyebut bahwa para pilot di AS setidaknya sudah lima kali mengeluhkan masalah dalam mengendalikan Boeing 737 MAX 8 saat mengalami momen kritis dalam penerbangan.

Insiden yang dilaporkan rata-rata melibatkan sistem anti-stall pesawat, yang diyakini menjadi penyebab jatuhnya Lion Air JT-610, Oktober tahun lalu. Insiden yang menewaskan 189 orang dikaitkan dengan sistem stabilisasi penerbangan yang dirancang mencegah pesawat 'stalling'. Sistem itu disebut sebagai 'MCAS'.

Satu hal yang yang mengarah pada kesimpulan: laporan para pilot itu semuanya mengeluhkan hidung pesawat yang tiba-tiba menukik ke bawah saat dalam posisi kritis.

Salah satunya terjadi pada November 2018. Seorang pilot melaporkan bahwa saat lepas landas (autopilot dalam kondisi aktif), tiba-tiba 'dalam dua atau tiga detik pesawat menukik ke bawah'. Tukikan itu cukup curam hingga memicu sistem peringatan pesawat yang berbunyi 'Don't sink, don't sink!'. Setelah autopilot dinonaktifkan, barulah pesawat terbang naik lagi pada kecepatan dan ketinggian normal. 

Masih pada bulan yang sama. Seorang pilot melaporkan mengalami masalah saat mengaktifkan autopilot ketika terbang pada posisi mendatar usai lepas landas. 

Kopilot pesawat itu malah mendapat peringatan 'menyerukan 'DESCENDING' (mengurangi ketinggian) yang diikuti dengan segera oleh peringatan 'DON'T SINK, DON'T SINK!'. Menurut laporan itu, pesawat kembali terbang normal setelah autopilot dinonaktifkan. 

Laporan lain dari seorang pilot maskapai komersial mengeluhkan Boeing yang tak langsung merespon setelah laporan diberikan. 

Disebutkan pilot itu bahwa meski FAA merilis arahan darurat pada 7 November 2018, untuk membantu para pilot menangani persoalan dengan teknologi anti-stall, "namun hal-hal yang berkaitan dengan sistem tidak teratasi."

Pilot itu menekankan bahwa dirinya baru menyadari bahwa manual penerbangan ternyata belum diperbarui dengan informasi tersebut sebelumnya. 

"Saya bertanya-tanya, apa lagi yang saya tidak tahu? Manual Penerbangan tidak memadai dan nyaris tidak cukup secara hukum. Seluruh maskapai yang mengoperasikan MAX harus mendesak Boeing memasukkan semua sistem dalam manual mereka," kata pilot itu.

Laporan terpisah pada Oktober 2018 menunjukkan seorang pilot mengeluhkan autothrottles -- yang mengatur pesawat untuk menambah kecepatan dalam parameter tertentu -- pada pesawat Boeing 737 MAX 8 yang tidak bekerja dengan baik saat diaktifkan. Pilot itu menyebut dirinya dengan cepat menyadari adanya masalah itu dan menyesuaikan dorongan pesawat secara manual untuk terus terbang menanjak. 

"Sesaat setelah saya mendengar soal insiden itu dan saya bertanya apakah ada kru lainnya yang mengalami insiden serupa dengan sistem autothrottle pada MAX?" tulis sang pilot dalam laporannya. 

Pilot itu menyebut dirinya tergolong baru dalam menerbangkan Boeing 737 MAX sehingga 'tidak mampu mengidentifikasi apakah pesawat atau dirinya yang error' saat itu.

FAA dalam pernyataan pada Rabu (13/3) waktu setempat menyatakan ada bukti baru dan data satelit yang telah disempurnakan, yang mengindikasikan kemiripan antara insiden Lion Air JT610 dengan insiden Ethiopian Airlines yang menewaskan 157 orang. Namun masih dibutuhkan penyelidikan lebih lanjut untuk memastikannya.[]

Baca juga:
HEADLINE: Lagi, Boeing Dituding!