Bertling Logistics Indonesia adalah anak perusahaan dari Bertling Group, suatu perusahaan logistik yang telah tersebar di 30 negara. Sedangkan PT Taruna merupakan suatu perusahaan yang bergerak di bidang kontraktor, perdagangan besar, industri dan pertambangan. 

PT F H Bertling Logistics Indonesia (Bertling) mengajukan permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang terhadap PT Taruna Aji Kharisma (PT Taruna) ke Pengadilan Niaga Jakarta Pusat, Rabu (13 Maret). 

Bertling Logistics Indonesia adalah anak perusahaan dari Bertling Group, suatu perusahaan logistik yang telah tersebar di 30 negara. Sedangkan PT Taruna merupakan suatu perusahaan yang bergerak di bidang kontraktor, perdagangan besar, industri dan pertambangan. 

PT Taruna saat ini diketahui bersama dengan PT Sabang Geotermal Energi sedang terikat dalam proyek pembangkit listrik tenaga panas bumi (geothermal) di Jaboi, Sabang, Aceh, yang ditargetkan untuk beroperasi pada akhir 2019.

Permohonan tersebut diajukan pada 13 Maret 2019 dan telah terdaftar di Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat di bawah register perkara Nomor 60/Pdt.Sus-PKPU/2019/PN.Niaga.Jkt.Pst. 

Adapun permohonan tersebut merupakan permohonan kedua yang telah ajukan terhadap PT Taruna dikarenakan permohonan pertama (terdaftar dengan nomor 158/Pdt.Sus-PKPU/2018/PN.Niaga.Jkt.Pst) pada akhirnya dicabut setelah para pihak menandatangani Perjanjian Perdamaian tertanggal 13 November 2018. 

Namun saat ini, PT Taruna kembali gagal melunaskan utang pembayarannya kepada Bertling. Sehingga, kerugian yang ditimbulkan dari tunggakan PT Taruna kepada Bertling seluruhnya adalah sejumlah IDR Rp. 4.055.561.000 (empat miliar lima puluh lima lima ratus enam puluh satu Rupiah).  

Kuasa hukum Bertling, Tony Budidjaja, mengatakan perkara ini berawal dari kegagalan PT Taruna memenuhi kewajiban pembayaran sejumlah uang kepada Bertling, yang lahir dari pelaksanaan pekerjaan mobilisasi peralatan dan material milik PT Taruna untuk proyek pemboran di Jaboi.

“Kami menghimbau agar semua pihak dapat berhati-hati dan tidak melakukan transaksi atau perikatan apapun yang dimaksudkan untuk mengalihkan atau mengasingkan aset-aset milik PT Taruna, baik yang bergerak maupun tidak bergerak, baik yang dimiliki secara langsung maupun tidak langsung, ataupun melakukan perbuatan-perbuatan lain yang dapat dikategorikan sebagai perbuatan yang merugikan kreditor, demi menghindari tuntutan hukum oleh Klien kami di kemudian hari, baik perdata maupun pidana,” tutup Tony.