Dolar Australia dan Dolar Selandia Baru bersama dengan Dolar Kanada akan menjadi mata uang yang paling cepat terpukul oleh perlambatan China.

Sentimen dari perlambatan ekonomi global akhir-akhir ini semakin mengkhawatirkan. Setelah otoritas bank sentral Eropa merevisi turun target pertumbuhan ekonominya untuk tahun ini menjadi hanya 1,1%, laporan berikutnya datang dari Amerika Serikat yang membukukan data tambahan tenaga kerja untuik bulan Februari lalu jauh dari ekspektasi pasar.

Laporan pemerintah AS menunjukkan, sepanjang Februari lalu perekonomian AS yang hanya menambahkan 20.000 tenaga kerja dibanding dengan ekspektasi pasar yang sebesar 180.000. Data yang cukup muram dari AS ini kemudian masih ditambah lagi dengan laporan dari kinerja perdagangan internasional China sebelumnya.  Sebagaimana diwartakan sebelumnya kinerja ekspor China di bulan Februari telah menurun tajam hingga lebih dari 20%.

Serangkaian data terkini dari tiga benua penting bagi ekonomi global tersebut menunjukkan betapa seriusnya ancamanperlambatan ekonomi global. Khusus pada perlambatan ekonomi China, sejumlah analisis  terkini bahkan menyebut kemungkinan perekonomian China hanya tumbuh di bawah 6% yang merupakan target terendah pemerintah Beijing.  Bila perlambatan China akan berlangsung tajam, tentunya sejumlah negara yang selama ini telah terlanjur menjadikan China sebagai mitra perekonomian pentingnya tentu akan turut terseret.

Analisis yang berdera di kalangan pelaku pasar uang menunjukkan, dua negara yang paling parah dan paling cepat merasakan pukulan perlambatan ekonomi China adalah Selandia Baru dan Australia. Dua negara tersebut selama ini telah menjadikan China sebagai pasar utama produk ekspornya yang meliputi produk pertanian dan pertambangan.  Australia bahkan disebutkan memasok batubara dan bijih besi dalam jumlah besar ke pasar China dalam beberapa tahun terakhir. Pukulan dari perlqambatan ekonomi  China akan berimbas pada menurunnya permintaan akan produk ekspor asal Australia dan Selandia Baru tersebut.

Hal ini sekaligus menjelaskan gerak nilai tukar mata uang DolarAustralia dan Dolar Selandia Baru yang telah melemah tajam dalam 10 bulan terakhir.

Mata uang lain yang akan terkena pukulan perlambatan China adalah Dolar Kanada, di mana sejumlah produk pertambangan asal negeri itu mengalir ke pasar China dalam jumlah sangat besar. Tidak heran, dalam beberapa bulan terakhir gerak nilai tukar mata uang Dolar Kanada terpukul mundur hingga melemah sangat signifikan.  Seiring dengan Dolar Kanada, mata uang Rubel Rusia juga diperkirakan akan turut terseret oleh perlambatan China akibat besarnya ekspor negeri beruang merah itu ke negeri Panda.

Setelah empat negara tersebut, peringkat berikutnya yang akan terpukul oleh perlambatan China adalah Malaysia, Singapura, serta Indonesia.  Untuk dicatat, tiga negara terakhir juga telah menjadikan China sebagai salah satu pasar penting bagi produk ekspornya. Mata uang Rupiah, bersama dengan Ringgit Malaysia, dan Dolar Singapura dengan demikian akan tertekan hingga beberapa pekan dan bahkan bulan ke depan.

Perlambatan ekonomi China adalah kabar buruk bagi sejumlah negara yang selama ini telah menggantungkan kinerja perekonomiannya dengan menyasar pasar China seperti tujuh negara di atas.