Lo bahkan rela menebus obat ke apotek yang seharusnya dibayarkan oleh pasien.

KABAR tentang sakitnya dokter Lo Siaw Ging yang menyebabkan lelaki berusia 84 tahun itu harus menjalani perawatan di rumah sakit Kasih Ibu Solo membetot perhatian netizen. Beberapa hari lalu, Lo mengeluh sesak nafas dan keluar keringat dingin. Banyak yang mendoakan agar sang dokter senior itu lekas sembuh.  

Siapa sebenarnya dokter yang murah hati itu?

Dilansir dari Solografi, dokter Lo adalah WNI keturunan Tionghoa. Lahir di Magelang pada 16 Agustus 1934, dokter Lo tumbuh di keluarga pengusaha tembakau. Orang tuanya, Lo Ban Tjiang dan Liem Hwat Nio adalah sosok yang moderat. Ia membiarkan anak-anaknya memilih jalan hidupnya sendiri.

Setamat SMA di Semarang, Lo ingin masuk kuliah kedokteran. Sang ayah pun memberi petuah. “Kalau mau menjadi dokter, jangan berdagang. Sebaliknya, jika ingin berdagang, jangan menjadi dokter!,” kata sang ayah menasehati.

Pesan ayahnya itu merasuk dalam di sanubari Lo. Meski singkat dan padat, tapi pesan itu penuh makna bagi Lo. Dia jadi paham, tempat mencari uang adalah berdagang, bukan menjadi dokter. Sebab, kata dia, menjadi dokter adalah tugas mulia untuk membantu orang sakit. Jika ingin menjadi kaya, sebaiknya jadilah pedagang.

Maka ketika memilih profesi dokter, Lo pun menjalankan nasehat ayahnya.   

"Jadi, siapa pun pasien yang datang ke sini, miskin atau kaya, saya harus melayani dengan baik. Membantu orang itu tidak boleh membeda-bedakan. Semuanya harus dilakukan dengan ikhlas. Profesi dokter itu menolong orang sakit, bukan menjual obat," kata Dokter Lo suatu ketika.

Karena itu, dokter Lo seolah bak malaikat penolong bagi warga miskin yang sakit. Bagaimana tidak, saat harga pengobatan di rumah sakit terasa mahal, Lo justru menggratiskan biaya pengobatan.

Saat terjadi kerusuhan Mei 1998, Lo tetap buka praktek. Padahal para tetangganya meminta agar dia tutup karena situasi berbahaya, terutama bagi warga keturunan Tionghoa.

Namun, Lo tetap menerima pasien yang datang. Para tetangga yang khawatir akhirnya beramai-ramai menjaga rumah Lo.

"Banyak yang butuh pertolongan, termasuk korban kerusuhan, masak saya tolak. Kalau semua dokter tutup siapa yang akan menolong mereka?" kata Lo yang juga lulusan Managemen Administrasi Rumah Sakit (MARS) dari Universitas Indonesia.

Hingga kerusuhan berakhir dan situasi kembali aman, rumah Lo tidak pernah tersentuh oleh para perusuh. Padahal rumah-rumah di sekitarnya banyak yang dijarah dan dibakar.

Kini, meski usianya sudah senja, Lo tetap melayani pasien pasien yang datang.
 
Memulai praktik dokter sejak 1963, entah sudah berapa banyak orang yang tertolong lewat tangannya. Rumahnya di  Jalan Yap Tjwan Bing No 27, Jagalan, Jebres, Solo, Jawa Tengah, selalu penuh sesak oleh warga miskin yang hendak berobat.

Setiap hari, dr Lo mulai buka praktik pukul 06.00 dan pukul 16.00. Saat siang, ia melayani pasien di Rumah Sakit Kasih Ibu di Jalan Slamet Riyadi, Solo.

Di rumah dr Lo tersebut, cerita tentang sosok lulusan Universitas Airlangga, Surabaya, mengalir dari mulut ke mulut. Kisah unik dan mengharukan hadir di antara kursi tunggu pasien. Jiwa sosialnya yang tinggi membuat namanya harum di kalangan masyarakat miskin di Solo.

Simaklah penuturan para pasiennya. Meski pun Lo dikenal rada galak dan tegas, namun ketulusannya dalam membantu sesama menancap lekat-lekat di benak para pasiennya.

"Saya dimarahi dr. Lo. Gara-garanya pas saya periksakan anak saya ke dokter karena sakit panas tinggi, lalu dokter marah ke saya kok baru sekarang dibawa ke dokter," kata Agung, 29 tahun, warga Jagalan.

Kaila, seorang ibu muda menuturkan, beberapa kali dia memeriksa anaknya, tapi Lo menolak dibayar.

"Sudah langganan juga, tapi pas mau dibayar pasti ndak mau dan anak saya pasti sembuh," kata Kaila.

Tak hanya itu, Lo bahkan rela menebus obat ke apotek yang seharusnya dibayarkan oleh pasien. Tak tanggung-tanggung, setiap bulan ia rela merogoh kocek sekitar Rp6 - 8 juta untuk membayar obat pasiennya.

Lo sendiri menanggapi itu dengan santai. Katanya, saat seorang pasien datang, ia terlebih dahulu bertanya apakah sang pasien punya uang untuk berobat atau tidak.
 
"Kalau tidak punya, saya menulis resep dan meminta mereka menebus di apotek atau rumah sakit langganan saya agar gratis. Biar nanti tagihannya saya bayar per bulannya," kata Lo.

Darimana uangnya? Lo menolak menjelaskan lebih jauh. Hanya saja, kata dia, ada sejumlah donatur yang bersedia membantunya.

"Beruntung masih banyak yang percaya dengan saya," kata dia.

Apakah semua pasien senang dengan pilihan Lo untuk tidak memasang tarif? Ternyata tidak.

"Pernah juga ada pasien yang tersinggung karena saya tidak mau menyebutkan tarif. Mereka mau saya sebut tarif," katanya sambil tertawa.

Menurut Lo, dirinya bisa mengetahui mana pasien yang punya uang untuk membayar dan mana yang tidak.

“Untuk apa mereka membayar ongkos dokter dan obat kalau setelah itu tidak bisa membeli beras? Kasihan kalau anak-anaknya tidak bisa makan," kata dia.

Lo terkadang gemes jika ada pasien yang terkesan menganggap enteng penyakitnya dan tidak segera memeriksakan diri atau anaknya ke dokter.

Suatu ketika, kata Lo, ia pernah  benar-benar sangat marah kepada seorang ibu karena baru membawa anaknya ke ruang prakteknya setelah mengalami panas tinggi selama empat hari.

"Sampai sekarang masih banyak orang yang bersikap seperti itu. Memangnya penyakit itu bisa sembuh dengan sendirinya. Kalau sakit ya harus segera dibawa ke dokter. Jangan melakukan diagnosa sendiri," katanya.

Lo boleh saja terkesan galak. Tapi namanya hingga kini tetap harum dan rendah hati. Baginya, apa yang dilakukannya bukan sesuatu yang luar biasa, melainkan kewajibannya sebagai seorang dokter.
 
"Tugas dokter itu menolong pasiennya agar sehat kembali. Apa pun caranya. Saya hanya membantu mereka yang membutuhkan pertolongan dokter. Tidak ada yang istimewa," kata Lo.

Begitulah. Semoga dokter Lo cepat sembuh dari sakitnya, seperti saat ia menyembuhkan para pasiennya.[]